"Halo, Sayang. Maaf tadi aku masih di kamar mandi," jawab Putra sambil berjalan keluar hotel. Ceo tampan itu menjawab telepon dari seorang gadis di seberang sana, Safira. Gadis cantik dengan kulit putih dan tinggi badan semampai serta lesung pipi itu adalah pacar Putra. Mereka sudah dua tahun berhubungan, tetapi tidak mendapatkan restu dari Surya Adinata.
CEO tampan itu terpaksa menerima perjodohan dengan Dinda, karena Surya Adinata mengancam akan memblokir semua fasilitas keuangannya apabila menolak. Akhirnya Putra bersedia menikah, tetapi tanpa sepengetahuan sang papi, dia tetap berhubungan dengan Safira.
"Jahat, deh, kamu. Pasti sekarang kamu lagi menikmati malam pertama dengan istrimu. Aku cemburu tauk," ucap gadis di sebrang sana dengan nada manja. Bibir tipisnya mengerucut sebal.
"Tidak ada malam pertama untuk dia, Sayang. Ini aku mau ke apartemen kamu," jawab Putra sambil terus berjalan keluar hotel. Sesampainya di parkiran, mobil BMW metalik milik Putra segera meluncur ke sebuah apartemen elit di Surabaya.
"Benarkah? Kalau gitu aku bersiap dulu, ya! Aku tidak mau kalah cantik dengan istri kamu," ujar Safira. Gadis cantik berkulit putih itu segera beranjak hendak mandi dan berdandan.
"Kamu selalu lebih cantik dari wanita manapun, Sayang!" rayu Putra.
"Ih ... gombal, deh! Ya udah aku siap-siap dulu."
Safira mematikan ponselnya dan bergegas mandi. Sementara Putra mengendarai mobil BMW metalik miliknya membelah jalanan kota Surabaya menuju apartemen wanita pujaan hatinya.
***
"Put, aku tuh takut banget."
Safira menghentikan aktivitas makannya sejenak dan menatap dalam wajah ceo tampan yang sudah dua tahun ini menjadi pacarnya. Malam itu keduanya makan malam di sebuah restoran mewah di kota Surabaya. Gadis cantik dan seksi yang memakai balutan dress pendek warna maroon dengan belahan d**a rendah serta rambut bergelombang yang terurai itu cemberut, membuat Putra tambah gemas melihat tingkah manjanya.
"Takut kenapa, Sayang?" tanya Putra sambil menggenggam kedua tangan lentik Safira.
"Takut kalau kamu akan benar-benar jatuh cinta pada istrimu dan ninggalin aku," jawabnya gadis itu sembari menarik kedua tangannya dan memasang muka ngambek
"Itu nggak mungkin banget, Sayang. Kamu tahu kan, kalau aku cinta mati sama kamu." Putra mencoba merayu.
"Harusnya kamu tolak perjodohan itu. Aku sakit hati dan cemburu." Safira masih saja merajuk.
"Kalau aku tolak perjodohan itu, Papi akan mengusirku dan mencabut semua fasilitas yang aku punya. Emang kamu mau hidup miskin?" tanya Putra sambil mencubit hidung Safira yang menggemaskan.
"Ih, ogah lah!" Safira mengibaskan rambut bergelombang miliknya, membuat aroma wangi menguar sampai ke hidung Putra membuat ceo tampan itu mabuk kepayang.
"Makanya kamu harus bersabar, Sayang!" Tangan Putra meraih rambut Safira dan menciuminya.
"Sabar ... sampai kapan? Sampai kamu punya banyak anak dari perempuan itu?" tanya Safira kesal. Wanita itu membuang pandangannya ke luar jendela restoran.
"Duh, jangan ngambek dulu. Dinda tuh gak ada apa-apanya dibandingkan kamu. Kamu jauh lebih cantik dan seksi, aku nggak tertarik sama sekali dengannya. Kamu sabar dulu sampai Papi memindahkan kekayaan keluarga untukku. Aku harus terlihat baik-baik dengan Dinda, sampai Papi mempercayakan separoh kekayaannya penuh atas kuasaku. Setelah itu aku akan menceraikan Dinda dan menikah kamu," janji Putra mencoba meyakinkan kekasihnya.
"Separoh kekayaan ... kenapa tidak semua?" tanya Safira sambil mengerutkan dahinya. Jiwa tamaknya mulai meronta.
"Ya gak mungkin dong, Sayang! Aku kan punya adik laki-laki yang masih kuliah di Amerika. Dia juga punya hak separoh atas harta Papi," jelas Putra.
"Jadi kamu punya adik? Kenapa aku gak pernah tahu?" tanya Safira heran.
"Adikku orangnya sederhana. Dia nggak pernah mau menunjukkan statusnya sebagai keluarga Adinata. Dia lebih banyak bergaul dengan anak-anak klub basket. Saat kita mulai pacaran, dia sudah berangkat ke Amerika untuk kuliah."
"Oh gitu? Apa dia seganteng kamu?" Mata Safira berbinar.
"Ngapain bahas dia, sih? Aku cemburu, nih!" ujar Putra sewot.
"Buat jaga-jaga aja, Put. Jika kamu berkhianat padaku dan jatuh cinta beneran sama Dinda, akan kubalas dengan menjadi pacar adikmu," ancam Safira.
"Ya nggak lah, Sayang. Aku cintanya cuma sama kamu. Kamu tuh seperti candu buatku. Sehari saja gak ketemu, aku akan merindu."
"Mulai deh, gombal lagi. Oke, aku pegang janjimu. Jangan lama-lama, aku udah pingin jadi Nyonya Adinata."
"Aku janji secepatnya, Sayang."
Cup!
Sebuah kecupan mendarat dari bibir seksi Safira. Malam itu mereka menghabiskan kebersamaan di kafe AA hingga fajar menjelang.
***
Dinda menangis meratapi nasibnya, tidak ada malam pertama seperti umumnya pengantin baru. Selama tiga malam berbulan madu di hotel mewah, selama tiga malam pula, Dinda melewati bersama dinginnya malam. Putra selalu meninggalkannya untuk menemui Safira di tempat biasa mereka bertemu. Sungguh miris.
Di hari ke empat, Putra membawanya pulang ke sebuah rumah hadiah pernikahan dari Surya Adinata. Sebuah perumahan mewah dikawasan Royal Residence.
Putra mengeluarkan dua koper dari bagasi mobilnya, sementara Dinda masih terkagum dengan rumah mewah yang akan dia tempati bersama suami dinginnya. Seorang lelaki paruh baya muncul dari dalam rumah dan membawa koper mereka masuk ke dalam.
Lelaki paruh baya itu bersama seorang wanita menunduk hormat menyambut kedatangan keduanya.
"Ini Pak Alan, sopir pribadi kita. Bila kau ingin kemana saja, bisa minta antar beliau, termasuk nanti jika kamu sudah mulai aktif masuk ke kampus. Yang itu Mbok Narti, istri Pak Alan. Beliau bertugas bersih-bersih rumah dan memasak serta menemanimu agar tidak kesepian," ujar Putra memperkenalkan dua orang asisten rumah tangga kepada Dinda. Sementara itu, keduanya menunduk hormat. Setelah perkenalan selesai, keduanya kembali mengerjakan tugas masing-masing.
"Kita akan tinggal satu kamar di lantai atas, karena aku tidak ingin Pak Alan maupun Mbok Narti mengadukan semua yang terjadi pada kita ke Papi. Mereka orang kepercayaan Papi. Mereka sudah bekerja dengan Papi semenjak aku kecil," jelas Putra sambil melepas kemejanya, lalu merebahkan diri di ranjang. Dinda memalingkan wajah karena tidak ingin kedua matanya ternoda melihat tubuh seksi Putra yang telanjang d**a.
"Kenapa membuang muka? Di luar sana, gadis-gadis sepertimu suka melihat tubuh seksiku ini," ujar Putra sambil tertawa.
"Gadis-gadis itu kecuali aku," balas Dinda memberikan penekanan tanpa menoleh ke arah Putra.
"Syukurlah ... kuharap kamu tidak jatuh cinta padaku karena setelah urusanku dengan Papi selesai kita akan bercerai dan aku akan menikahi Safira, pacarku," jelas Putra. Kata-kata ceo tampan itu sukses membuat hati Dinda seperti diremas tangan tak kasat mata.
"Ceraikan aku sekarang juga! Aku akan pulang ke rumah Papa," pinta Dinda sembari membalikkan tubuhnya dan menatap tajam ke arah Putra.
"Jangan terlalu naif, Dinda. Aku sudah tahu semua. Kamu menikah denganku agar Papi menjadi investor di perusahaan papamu, bukan? Jadi, kita punya kepentingan yang sama. Jika kamu bisa aku ajak kerjasama, maka aku akan memperlakukanmu dengan baik. Aku tidak akan melarang kamu berhubungan dengan pacarmu, asalkan jangan sampai Papi atau Papa tahu. Mudah, bukan?" ujar Putra sembari bangkit dari ranjang dan mendekati Dinda. Wanita itu kembali membuang pandangannya.
"Aku tidak punya pacar," sahutnya sewot.
"Seorang Dinda Putri Baskoro yang cukup populer di kampus tidak punya pacar? Kenapa aku tidak percaya, ya? Kamu pikir aku bodoh?" Putra memegang kedua lengan Dinda dan membalikkan tubuh mungil wanita itu menghadapnya hingga mengikis jarak antara mereka.
Entah kenapa d**a Dinda terasa bergetar dengan jarak sedekat itu dengan pria di depannya, walaupun status mereka adalah suami istri.
"Jangan coba-coba menentang aku, Sayang!" Putra melepaskan tangannya dari lengan Dinda, lalu mencubit kecil hidung wanita itu.
"Jadilah istri yang patuh," ucapnya memberikan penekanan.
"Apa aku boleh mengajak teman-temanku bermain ke sini?" tanya Dinda setelah hatinya melunak.
"Kamu boleh melakukan apa saja di rumah ini, asal jangan membawa laki-laki. Jika kamu mau pacaran, bawa saja ke tempat lain. Aku juga tidak akan pernah mengajak Safira ke sini. Kamu sudah paham?" tanya Putra.
Dinda mengangguk paham. Dengan sangat terpaksa, dia harus menuruti permintaan Putra meskipun harus membohongi Papa dan Papi mertuanya.
Dinda menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak. "Pernikahan macam apa ini? Sanggupkah aku bertahan ataukah harus menyerah?" batin Dinda sedih.