Dinda membuka matanya saat azan subuh berkumandang. Tangan kekar Putra masih melingkar nyaman di pinggangnya. Gadis itu memandang wajah tampan suaminya yang sedang tertidur lelap dengan perasaan gundah. Suhu tubuh Putra nampaknya sudah turun, tidak begitu tinggi seperti tadi malam. Apa benar dirinya telah menjadi obat buat Ceo tampan ini. Ah, Dinda tidak mau terbuai dengan rayuan suaminya. Dia takut akan sakit hati lebih dalam lagi. Selagi perasaannya belum terlalu dalam, lebih baik mengakhiri semua. "Mungkin tadi malam adalah malam terakhir kebersamaan kita, Mas," gumamnya lirih. Perlahan Dinda melepaskan pelukan suaminya, lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu. Wanita itu terkejut karena saat keluar kamar mandi dan mendapati sang suami sudah dudu

