Di Apartemen
"Cepat buka bajumu dan layani aku. Aku sudah lama menunggu," perintah seorang pria yang baru saja selesai mandi dan masih mengenakan baju handuk ditubuhnya.
Pria dengan wajah tampan, tetapi memiliki perwatakkan yang sangat tidak baik itu adalah Evan Malino. Seorang miliuner yang memiliki perusahaan besar dan sukses di bidangnya.
Namun, karena kini Evan hanya tinggal sendiri dan tidak lagi memiliki keluarga, membuat ia sering merasakan kesepian dan bosan. Sehingga, demi menghilangkan rasa sepinya itu, ia pun mulai mencari hiburan dengan cara mem-booking para jalang di luar sana.
Seperti malam ini, Evan tengah berbaring di atas ranjang sebuah apartemen elit milikinya. Seraya melihat kepada seorang perempuan berkerudung yang tengah duduk menangis di pojokan kamar, sembari menekuk kedua kaki dan menyembunyikan wajah.
Wanita itu ialah Annisa Calya Andani. Perempuan malang yang telah Evan bayar untuk menjadi wanita penghiburnya malam ini. Yang ia sewa jasanya dari seorang mucikari rumah bordil kelas premium.
Padahal sebenarnya, Annisa tidak pernah ingin menjadi p*****r. Sang pamanlah yang telah membawanya ke kota dan kemudian menjualnya kepada seorang mucikari.
Saat di desa, paman Annisa menawarkan keponakannya itu pekerjaan yang ada di kota, yaitu menjadi seorang pramusaji di sebuah restoran siap saji.
Namun, bukannya memberikan Annisa pekerjaan yang halal, pria tua itu justru menipu Annisa dan menjadikan dirinya seorang wanita penghibur kelas kaum Borjuis.
Saat Annisa menolak dan memberontak, sang paman justru mengancamnya. Pria jahat itu mengatakan, jika Anisa tidak mau mengikuti perintahnya, maka dirinya akan menyita rumah orang tua Annisa di kampung, sebagai bayaran atas hutang-hutang ibu Annisa kepadanya.
Hal itulah yang menjadi buah simalakama bagi Annisa. Yang membuat ia terus menangis terisak, meratapi nasib dirinya. Membayangkan tentang akan sehancur apa dirinya nanti setelah ia menyerahkan tubuhnya untuk dinikmati oleh pria angkuh yang saat ini bersamanya.
Apakah Annisa masih bisa menjalani hidup ini atau sebaliknya, memilih untuk bunuh diri dan berakhir selamanya di neraka?
Namun, akankah dirinya siap jika harus menjadi penghuni neraka selamanya? Sungguh saat ini Annisa benar-benar berada dalam dilema yang begitu rumit.
"Heh, kau tuli?!" bentak Evan.
Annisa menyeka air matanya lalu mulai bangkit perlahan. Berjalan mendekati Evan dan berdiri tepat di depan pria arogan tersebut.
Saat Annisa sudah berada di dekat Evan, dengan cepat pria kaya itu menarik kerudungnya sehingga memperlihatkan rambut indah panjangnya yang terikat.
"p*****r kok pakai jilbab?" Evan tertawa miring, sarat akan menghina.
Annisa begitu sakit hati saat dirinya disebut p*****r oleh Evan. Tetapi ia tidak bisa membantahnya, hanya bisa diam tanpa membela diri sama sekali. Sebab bagaimana mau membela diri, menyelamatkan diri saja saat ini ia tidak mampu.
Annisa merasa jika dirinya benar-benar sudah tidak lebih berharga dari sebungkus permen lolipop yang dijual di pasar. Yang setelah dibeli, dibuka bungkusnya kemudian dinikmati manisnya.
Setelah habis, apakah ada yang akan mengingat tentang rasa apa yang permen itu berikan? Tidak ada bukan?
"Cepat buka bajumu!" Perintah Evan lagi.
Annisa si gadis malang mulai menggerakkan tangan ke belakang punggungnya, guna membuka res baju gamisnya.
Namun, belum juga Annisa selesai melakukannya, Evan sudah lebih dulu berdiri. Pria tampan itu bergerak dengan begitu cepat, membuka res dan menarik ke bawah baju Annisa, sehingga tersingkap sampai ke pinggul. Menyisakan hanya pakaian dalam yang menutupi dua area terlarang milik sang gadis desa.
Sadar dadanya terbuka dan dilihat oleh Evan, Annisa pun semakin terisak. Bahkan kali ini tangisnya lebih pecah dari sebelumnya, sehingga Evan terpaksa memegang kepala sebab menahan emosi dan rasa kesal kepada Annisa.
"Kau bisa berhenti menangis tidak? Aku pusing mendengar tangismu itu. Berisik!" bentak Evan.
"Maaf, Tuan ...," setelah sekian lama bungkam, barulah Annisa bersuara.
"Ya sudah. Lekas buka semua bajumu. Lama!" gerutu Evan.
"Maaf, Tuan, tapi sebelum Tuan menyentuh saya, apa boleh saya minta sesuatu?" tanya Annisa.
"Kau mau apa lagi? Kau tidak lihat setumpuk uang di atas nakas itu? Itu semua untukmu setelah kau melayani aku hingga puas. Apa menurutmu itu kurang?" tanya Evan balik.
"Saya, saya tidak minta uang, Tuan?"
"Apa katamu, kau tidak mau uang? Ha-ha-ha, lucu sekali. Ada p*****r yang tidak mau uang. Jadi kau mau apa dariku? Mobil? Berlian? Apa?" tanya Evan dengan ekspresi wajah angkuh.
"Saya ... saya cuma mau minta izin untuk sholat isya dulu Tuan, karena sudah masuk waktu sholat," suara Annisa bergetar hebat saat mengatakan itu. Seperti ada gemuruh rasa yang begitu besar terpendam di dalam hatinya.
Evan Malino pun seketika terdiam setelah mendengar permintaan Annisa. Dia hanya menatap Annisa dan menghela napas panjang seperti orang yang sedang berpikir.
Baru kali ini Evan mendengar ada p*****r yang meminta izin untuk sholat terlebih dahulu sebelum ia zinai. Sungguh membingungkan sekali, pikirnya.
"Ya sudah, sepuluh menit. Setelah itu, segera kau layani aku. Mengerti?" ucap Evan ketus.
"Mengerti, Tuan. Terima kasih?"
Setelah memakai kembali bajunya, Annisa pun segera berlalu ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. Setelah itu, ia mengambil tas dan mengeluarkan perlengkapan sholatnya.
Annisa memakai kain sholatnya dan membentang sajadahnya, siap untuk melaksanakan empat rakaatnya di depan sang pria casanova.
Evan hanya memperhatikan saja apa yang Annisa lakukan, seraya berbaring bersandar pada kepala tempat tidurnya. Entah apa yang ia pikirkan tentang pelacurnya itu?
Namun saat Annisa sudah berdiri dan siap untuk takbir pertamanya, dara manis itu kembali diam dan kemudian menoleh kepada Evan., sehingga sang pria kaya raya juga melihat kepadanya.
"Apa?" tanya Evan kasar.
"Arah kiblat ke mana ya, Tuan?"
"Jangan kau tanya aku, aku tidak tahu," jawabnya jutek.
"Kau yang sholat, kenapa kau tanya padaku?" imbuhnya lagi.
Annisa pun kembali terdiam dan tidak lagi bertanya. Ia terus melanjutkan sholat isyanya, tak perduli salah atau benar arah kiblatnya. Yang terpenting, bisa sholat isya saja Annisa sudah bersyukur. Walau setelah itu, dia akan melakukan dosa besar, sebab berzina dengan seorang pria yang tidak pernah ia kenal sama sekali.
Selesai sholat, Annisa mengalihkan pandangannya kepada Evan. Ternyata pria arogan itu sudah dalam posisi menutup mata. Secara tiba-tiba, ide untuk melarikan diri pun muncul dibenak Anisa.
Dengan cepat ia pun melipat perlengkapan sholatnya dan memasukkannya lagi ke dalam tas. Kemudian mengendap-endap berjalan mendekati pintu apartemen.
Sialnya, saat Annisa sudah berada di depan pintu, dirinya justru bingung bagaimana cara membuka pintu tersebut. Sebab pintu apartemen Evan dirancang menggunakan kode angka rahasia dan hanya Evan sendiri yang tahu apa kodenya.
Ya Allah, kenapa malang sekali nasib hamba?
"Kau mau ke mana?" Tiba-tiba saja suara Evan mengejutkan Annisa.
Annisa langsung berbalik dan melihat kepada sosok yang sudah berdiri tepat di hadapannya itu. Menatap dirinya dengan begitu tajam, setajam silet.
"Tu-an ...?" lirih Annisa.
"Kau mau kabur dariku, ha?" tanya Evan dengan ekspresi wajah yang mengerikan., sehingga Annisa takut luar biasa.
Evan Malino pun melangkah maju mendekati Annisa., sehingga Annisa menggelengkan kepalanya dan kembali menangis. Dia mundur dan bersandar pada pintu apartemen. Dirinya benar-benar sudah terjebak dalam posisi yang sulit untuk melepaskan diri.
"Jangan, Tuan. Saya bukan wanita penghibur. Saya bukan p*****r, Tuan." Annisa memohon seraya mengatupkan kedua tangannya di hadapan Evan.
Seolah tidak peduli dengan permohonan Annisa, Evan justru meletakkan kedua tangannya pada pintu apartemen, tepat di samping kepala Annisa. Memiringkan sedikit kepalanya seraya terus melihat kepada wanita cantik yang ada di hadapannya itu.
"Kau cantik sekali ... sempurna ...."
Annisa menelan salivanya. Ia bisa merasakan hembusan napas pria dengan tubuh atletis tersebut. Jarak wajah mereka memang sangat dekat sekali, membuat Annisa takut luar biasa. Sebab sedikit saja ia bergerak, Evan pasti akan melakukan apa yang ada dipikirannya saat ini. Melumat bibir ranumnya tanpa ampun.
"Saya bukan p*****r, Tuan. Saya bersumpah, belum pernah ada satu orang pun yang menyentuh saya, Tuan. Tolong, bebaskan saya. Saya berjanji, tidak akan mengambil sepeser pun uang, Tuan. Biarkan saya pergi ... saya mohon. Saya mohon...," Annisa memohon keibaan hati pria tersebut.
Air mata Annisa menetes, mengalir begitu deras dan jatuh di pipi lembutnya., sehingga Evan tiba-tiba saja merasakan perasaan yang begitu aneh. Rasa kasihan yang secara tiba-tiba muncul di dalam hatinya. Ia juga merasa jika wanita yang ada di hadapannya saat ini, adalah wanita yang jujur.
Namun, karena nafsu sudah menggerogoti pikiran dan hati Evan, membuat ia segera menepis perasaan iba itu jauh-jauh. Dia lalu mundur beberapa senti dari Annisa dan kemudian mencengkram tangan wanita berhijab itu dengan sangat kuat.
Evan kemudian mulai menarik paksa Annisa dan menghempaskan tubuh sang gadis desa itu ke atas ranjang tempat tidur., sehingga Annisa menangis ketakutan.
Annisa benar-benar sudah tidak bisa lari lagi. Dia kini berada dalam situasi yang menyedihkan. Tidak bisa lagi berbuat apa-apa untuk melindungi tubuhnya dari jamahan pria asing tersebut.
Kali ini Evan pasti akan melakukan apa yang ingin ia lakukan sejak tadi. Menjamah setiap senti tubuh Annisa dan merenggut paksa kesuciannya., sehingga Annisa begitu frustasi dan nyaris gila saat membayangkan.
"Kau ini, sudah aku perlakuan dengan baik, malah mau menipuku. Kau sadar tidak, kau itu, p*****r ...! Jadi jangan sok suci. Kau pikir kau bisa menipuku, dengan mengatakan belum pernah ada yang menyentuhmu? Hah, dasar munafik. Wanita seperti kau inilah, yang suka bermain licik di belakang. Sok-sokan berhijab. Buka!" hardik Evan .
Annisa menggeleng. Dia lari ke pojok tempat tidur dan menutup tubuhnya dengan bantal.
"Buka aku bilang. Buka!!" Evan kembali berteriak keras.
"Tidak, jangan ..., Tuan. Saya bukan p*****r. Saya mohon, bebaskan saya, Tuan. Lepas kan saya." Annisa terus berusaha mempertahankan harga dirinya.
"Baik, kalau kau tidak mau menurut dengan cara halus, berarti kita akan pakai cara kasar." ucap Evan Malino.