Tangan lembut itu menyentuh bahu laki-laki yang berada di sampingnya, bibirnya tak melepaskan senyuman tipis. Hampir tak ada yang tau bagaimana keadaan sebenarnya, setiap hari dia menghiasi wajahnya dengan senyuman tak peduli sedang bahagia atau pun tengah merana. Perempuan itu adalah Reina, dia masih menemani Abimanyu duduk di bangku yang sama. Meski keadaan mereka hanya saling diam, tapi setidaknya Reina mengawasi Abimanyu untuk tidak berbuat aneh-aneh. Dia juga membutuhkan waktu untuk merehatkan pikirannya sejenak, terlalu banyak pikiran yang bergelayutan manja di kepalanya. Sampai dia sendiri bingung harus menyelesaikan yang sudut mana terlebih dahulu, semua penting menurutnya. Tak bisa memilih salah satu terlebih dahulu, seolah semua harus dia selesaikan dalam satu waktu. “Nyu, gue

