“Fisya, mama nggak mau lagi kamu suka hilang kayak gitu. Mam capek kamu buat kayak gini terus, Fisya. Apa sih mau kamu? Oh, kamu pengen mama kirim ke tempat papa kandung kamu? Biar kamu mati kelaparan di sana, mau? Om Manyu yang kamu cari itu nggak ada di sini, dia punya rumah sendiri. Rumahnya jauh banget. Mama nggak tahu rumahnya dimana. Dia itu saudara kamu, bukan malah kamu panggil om. Besok kalau ketemu dia, panggil kakak. Karena kalian itu saudara kandung, saudara satu ayah. Paham, Fisya?” Pembicaraan itu terus terputar di dalam kepalaku, aku tak tau lagi harus berbuat apa. Dugaan kami tak ada yang meleset, semua benar. Fisya adalah saudaraku. Feril menikahi kakek-kakek itu hanya sebuah topeng belaka, agar anaknya memiliki seorang ayah. Papaku tidak mau bertanggung jawab atas apa y

