“Fisya adalah anak tante,” jedanya, “dengan papamu.” Seperti tersambar petir di siang bolong, Abimanyu terperanjat sampai tidak bisa berkata apa-apa. Lagi, lagi dan lagi semua dugaan itu benar. Tidak ada yang meleset sama sekali. Kepala Abimanyu mendadak berdenyut dengan keras, dia tak bisa menerima ini semua terlalu cepat. Semua datang begitu mendadak, dia tak bisa menerima semua ini dengan tiang yang belum begitu kuat dan kokoh. Bagaimana bisa dia mendapat berita yang cukup mengejutkan beberapa hari terakhir ini, semua datang silih berganti. Jujur saja, Manyu tak begitu bisa menerima kehadiran saudaranya tersebut. Hasil perselingkuhan papanya dengan orang yang dulu dia anggap sekretaris papanya sendiri. Tega lagi sampai tidak mau bertanggung jawab, padahal bagaimana pun Fisya adalah da

