“Loh tumben ke sini sendirian aja, Mik, yang lain pada kemana? Manyu nggak lo ajak ya? Nggak biasanya gitu kalian pisah gini,” lanjutnya, “mau pesan apa?” Laki-laki itu tersenyum masam, dia menghela napasnya perlahan. Meredam emosi yang tiba-tiba naik ke ubun-ubun. Dia tidak terlalu suka jika ada orang lain menanyakan sahabatnya ketimbang dirinya. Merasa seolah tidak dianggap ada di tempat tersebut. Dia tersenyum kecil, bagaimana pun juga dia harus tetap terlihat baik di mata orang lain. Tidak boleh diberi label buruk oleh orang lain. Rapornya harus tetap baik. “Manyu nggak bisa ikut, ada urusan deh kayaknya. Gue pesen seperti biasanya aja ya, In. Eh, kamu udah selesai kerja belum? Mau nggak nemenin aku duduk di sana, biar ada teman ngobrol gitu. Biar betah di sini lama-lama gitu, In, mau

