A 80 - Maaf

2150 Kata

“Lo mau kemana sih, Nyu? Gue dari tadi lo bawa kesana dan kemari, tapi nggak lo ajak tertawa. Gimana sih? Lo bisa nggak ngajak gue ke tempat yang adem, sejuk, dingin, terus bisa buat ngademin kepala yang rasanya mau meledak ini. Gue rasa tuh lama-kelamaan si Pak kumis kok semakin ngelunjak aja ya. Udah lama gue diem, eh sekarang malah semakin menjadi. Pusing gue mikir materi yang beliau berikan tuh, jujur otak gue semakin hari semakin nggak mampu. Udah kapasitas penyimpanan penuh, nggak bisa gue hapus sebagian atau gue pindah gitu. Malah semakin suka hilang sendiri, aneh. Ibarat kata si mesin udah capek banget,” keluh laki-laki yang mengenakan kemeja flanel kotak-kotak tersebut. Dia terus saja mengeluh dengan keadaan jiwa yang tidak baik-baik saja. Yang menjadi telinga untuk mendengarkan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN