Laki-laki paruh baya tersebut tersenyum masam, dia tak menyangka bila akan berhadapan dengan putra kesayangannya sendiri. Berduel di tempat umum bersama putranya, karena masalah perempuan. “Papa pilih mana? Dia? Jadi, bukan mama yang papa pilih? Bagus, nggak sia-sia Manyu jauhin mama dari papa. Karena pada akhirnya papa berhasil lupa dan memilih yang lain ketimbang mama. Anggap aku sama mama selama ini nggak pernah menjadi bagian hidup papa dan jangan pernah anggap aku sebagai anak lagi. Selain mama, masih ada aku yang terluka. Mama nggak hanya luka hati, batin, tapi mental juga. Kurang sakit apa jadi mama? Ini yang papa lakukan untuk mama? Harusnya besok-besok pas mama lagi ngumpul sama temen-temennya papa datang sama si pelakor ini, Pa, jadi buat kejutan. Papa terlalu kurang niat untuk m

