BAB 13

1042 Kata
THOMAS POV Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi tapi saat itu aku mendengar pembicaraan Ben dengan seorang pria yang tidak lain adalah ayahnya. Sepertinya Ben sedang ada masalah sehingga ia memilih untuk menginap di rumah teman kerjanya. Saat itu aku penasaran apa yang terjadi sehingga keesokan paginya aku bertanya tentang hal itu kepada Ben. Saat itu ia terkejut ketika mendengar pertanyaan ku dan ia menjawab tidak ada masalah meskipun aku tau ada yang ia sembunyikan dariku. " Maaf jika aku banyak bertanya, aku hanya tidak ingin karyawan ku pekerjaan nya terganggu karena masalah pribadi. Aku harap kau bisa mengerti." Kataku sambil menegaskan padanya. " Saya mengerti Pak. Saya tidak akan mencampurkan masalah pribadi ke dalam pekerjaan." Kata Ben sambil meyakinkanku. Setelah itu Ben melanjutkan pekerjaan nya dan entah kenapa aku merasa sangat peduli padanya dan aku sudah menganggapnya seperti anak kandung ku sendiri. Mungkin perasaan ini muncul karena aku sangat menyesal telah membuang anak kandung ku sendiri dan aku tidak tau dimana ia berada. Sejujurnya aku sangat ingin mencarinya dan meminta maaf padanya atas semua kesalahanku padanya tetapi rasanya hal itu sangat mustahil. *** Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas dan saatnya makan siang. Aku melihat Ben masih berkutat dengan pekerjaan nya dan aku mengajaknya untuk makan siang dan seperti nya ia banyak pikiran. Waktu itu aku mengajaknya berbincang dan ia hanya menjawab ketika aku bertanya padanya. Sejujurnya aku ingin menjadi teman yang baik untuknya karena aku merasa ia saat ini membutuhkan seseorang teman untuk bercerita. Aku melihat ia hanya mengambil nasi setengah porsi dan semangkuk sayur untuk di makan. Biasanya ia makan dengan porsi yang banyak tapi kali ini ia makan sedikit. " Ben, jika kau ada masalah, cerita saja padaku. Siapa tau aku bisa membantu mu." Kataku sambil menyesap kopi. " Saya tidak ada masalah Pak. Semuanya baik-baik saja." Kata Ben sambil menunduk. Entah kenapa aku merasa Ben adalah anak kandungku yang pernah ku buang karena aku melihat ada tanda lahir di tubuhnya yang sangat persis dengan anakku. Tidak beberapa lama pesanku datang dan aku melahap makanan ku sampai habis. Sedangkan Ben makan secara perlahan dan ia seperti tidak nafsu makan. Saat itu aku membujuknya untuk menceritakan apa yang terjadi tapi teman kerjanya datang menghampiri nya dan aku menyuruh mereka untuk bergabung bersama kami. Rasanya saat itu aku terpaksa harus menahan rasa penasaran ku terhadap apa yang di alami. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul satu siang dan saatnya kembali bekerja. *** Aku pernah berpikir untuk mencari keberadaan anakku tetapi rasanya hal itu sangat mustahil di lakukan karena aku sudah kehilangan info tentangnya selama belasan tahun. Terakhir kali aku bertemu dengan anak itu ketika aku tidak sengaja melihat nya bersama wanita yang merawatnya. Saat itu aku masih ingat raut wajah anak ku yang sangat bahagia bersama keluarga barunya. Aku merasa sudah cukup lama di hantui perasaan bersalah terhadap Claire karena telah membuang anak kami dan aku menyadari jika bukan kesalahan anakku hingga Claire kehilangan nyawanya. Tiba - tiba ada yang mengetuk pintu ruangan ku dan aku menyuruhnya untuk masuk. Ternyata Ben yang menyerahkan beberapa dokumen untuk aku tanda tangani. " Maaf Pak, ada beberapa dokumen yang harus anda tanda tangani." Kata Ben sambil menyerahkan beberapa dokumen padaku. Saat itu aku menanda tangani dokumen itu dan tiba - tiba Ben jatuh pingsan dan ia tergeletak di lantai. Saat itu aku memanggil anak buahku untuk memanggil dokter guna memeriksa Ben. Tidak beberapa lama dokter datang dan memeriksa kondisi Ben. Kata dokter Ben mengalami kelelahan sehingga kesehatan nya menurun. Tiba - tiba Ben terbangun dan ia terkejut ketika di kelilingi oleh banyak orang. Saat itu aku menyuruh Ben untuk pulang dan beristirahat. Akhirnya teman kerja Ben mengantarnya pulang untuk beristirahat karena aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada Ben. *** Aku menyadari ketika semua orang heran melihat betapa pedulinya aku terhadap Ben padahal kami tidak ada ikatan keluarga. Tetapi aku tidak perduli dengan tanggapan orang lain karena aku tau Ben seorang yang baik dan selama bekerja di kantorku, ia tidak pernah membuat keributan. Entah kenapa aku merasa ada beberapa orang yang tidak suka dengan kehadiran Ben karena mereka iri dengan Ben yang selalu menjadi anak emas di kantor. " Ada apa bapak memanggil saya?" Tanya Renzo yang merupakan karyawan senior di kantorku. " Aku mendengar laporan dari karyawan lain jika kau sengaja menyebarkan fitnah tentang Ben dan mulai saat ini kau di pecat!" Kataku dengan nada tegas dan Renzo terlihat sangat terkejut. Ia merasa tidak terima ketika aku memecatnya dan ia mengaku tidak bersalah. Ia merasa tidak pernah memfitnah Ben tetapi aku sudah mendapatkan banyak bukti tentang kesalahan nya dan aku menyuruhnya untuk mengemasi barang-barang nya dari kantor. Renzo terlihat emosi dan ia keluar dari ruangan ku dengan membanting pintu. Saat itu aku sangat puas telah mengusirnya dari perusahaan ku karena aku tidak membutuhkan orang - orang licik untuk bekerja di perusahaan ku. *** Tidak terasa waktu menunjukkan pukul empat sore dan saatnya pulang ke rumah. Saat itu aku melihat ruangan Ben kosong dan aku berharap besok ia sudah kembali bekerja. Tiba - tiba ponsel ku berbunyi dan saat itu Felix mengabariku jika Diana pergi ke luar kota bersama Sharon dan Diana tidak bisa menghubungiku karena ponselnya sedang di servis. Tidak biasanya Diana seperti ini karena biasanya ia selalu memberitahu ku jika ingin pergi ke luar kota. Entah kenapa aku merasakan firasat buruk apalagi saat mengingat perkataan Sharon yang ingin melihat ku berpisah dengan Diana. Saat itu aku menghubungi Felix dan menanyakan kemana Diana pergi. Ternyata ia pergi ke rumah saudaranya yang berada di luar kota. Setelah mendapat info, aku memutuskan untuk menyusulnya dan membeli tiket pesawat. Lalu aku segera pulang ke rumah untuk mengemasi barang-barang ku. " Ayah mau kemana?" Tanya Felix sambil memandangku dengan tatapan heran. " Ayah mau menyusul ibumu ke luar kota. Tolong jaga rumah dengan baik." Kataku sambil memberinya uang saku selama aku pergi. Saat itu aku terburu-buru berangkat karena aku tidak mau ketinggalan pesawat. Beruntung masih banyak kursi yang kosong hari itu sehingga aku bisa berangkat tanpa perlu menunggu hari esok. Aku berharap semoga Diana baik - baik saja disana dan aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti keluarga ku meskipun itu adik ipar ku sendiri. Aku tidak segan membuat perhitungan kepada orang - orang yang berniat jahat kepada orang - orang yang ku sayangi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN