BAB 12

1044 Kata
ALBERT POV Hari ini aku sangat terkejut ketika Ben bercerita tentang bosnya yang menjadi korban kecelakaan. Beruntung Ben yang berhasil menyelamatkan nyawa bosnya hingga ia membawanya ke rumah sakit. Rasanya saat itu aku sangat tegang mendengar cerita Ben ketika bosnya mengalami kecelakaan. Saat itu aku sangat ingin menjenguk bosnya karena aku sangat ingin melihat kondisi nya. Akhirnya aku dan Ben menjenguk Pak Thomas ketika Ben pulang kantor. Saat itu aku menyusul Ben ke kantornya, lalu kami menjenguk Pak Thomas ke rumah sakit. Saat tiba disana, kami di sambut oleh istri Pak Thomas dan waktu itu Pak Thomas sedang beristirahat sehingga tidak bisa di ganggu. " Mohon maaf suami saya sekarang sedang beristirahat." Kata Ibu Diana kepada kami. " Tidak apa - apa Bu. Bagaimana kondisi Pak Thomas?" Tanyaku padanya. Saat itu ia menjelaskan jika kondisi suaminya sudah membaik dan kemungkinan lusa sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Aku bersyukur mendengar hal itu dan tidak beberapa lama kami berpamitan pulang. Entah kenapa aku merasa Ibu Diana menatap Ben dengan heran dan aku tidak tau apa yang salah terhadap Ben. *** Keesokan harinya, Ben bercerita saat ia berada di rumah sakit, Pak Thomas kehilangan banyak darah dan saat itu Ben mendonorkan darah nya untuk Pak Thomas dan ternyata cocok. Rasanya saat itu aku curiga jika Pak Thomas adalah ayah kandung Ben tetapi aku tidak menceritakan hal ini kepada Ben karena takut ia tau tentang kenyataan yang sebenarnya jika ia bukan anak kandung ku. Tidak beberapa lama kami sarapan bersama dan entah kenapa aku sangat ingin Ben berhenti bekerja di perusahaan Pak Thomas karena aku takut suatu hari Pak Thomas menyelidiki latar belakang Ben. " Sayang, aku lihat daritadi kau terlihat cemas. Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiran ku?" Tanya Irene padaku sambil menatap ku. " Aku ingin menceritakan sesuatu padamu tentang Ben." Kataku padanya. Akhirnya saat itu aku bercerita padanya tentang Ben yang mendonorkan darahnya kepada Pak Thomas dan saat itu Irene menyadari jika ada kemungkinannya Ben adalah anak kandung Pak Thomas. Saat itu Irene sangat takut jika suatu hari nanti Ben akan pergi meninggalkan kami dan lebih memilih hidup bersama ayah kandungnya. Waktu itu aku berusaha menenangkannya agar ia tidak berpikir yang macam-macam. Aku tau Irene sangat menyayangi Ben seperti anak kandung nya sendiri. Begitu juga dengan ku yang sangat menyayangi Ben dan menganggap nya seperti putraku sendiri. Tidak beberapa lama Adelle menghampiri kami dan saat itu Irene pergi ke dalam kamar dan membuat Adelle bingung dengan sikap Irene. " Ada apa dengan ibu? Apakah semuanya baik-baik saja?" Tanya Adelle padaku. " Ibu hanya kelelahan. Kau tidak perlu cemas. Semuanya baik - baik saja." Kataku sambil berusaha menenangkan Adelle. Setelah itu Adelle berpamitan padaku untuk pergi ke rumah temannya karena ia sudah ada janji untuk belajar kelompok. Aku memberitahu nya untuk tidak pulang larut malam dan ia menurut. Lalu ia pergi ke rumah temannya dan aku masuk ke dalam kamar dan melihat Irene yang terdiam. Saat itu aku memeluknya dengan erat dan aku berjanji padanya tidak akan membiarkan Ben pergi dari kehidupan kami karena kami tidak ingin kehilangan nya. *** Aku melihat waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam dan sampai saat ini Ben pulang ke rumah. Sedari tadi aku berusaha menghubungi Ben tetapi telfonnya tidak aktif. Sampai akhirnya ia tiba di rumah dan ia meminta maaf pulang terlambat karena ia harus menyelesaikan tugas kantor sebelum akhir bulan. " Ben minta maaf tidak mengabari ayah dan ibu karena seharian ini sangat sibuk menyelesaikan tugas dari Pak Thomas." Kata Ben sambil meminta maaf kepada kami. " Ya sudah, sebaiknya kau makan malam dulu. Pasti kau sangat lapar." Kata Irene sambil menyuruh Ben untuk makan malam. Semenjak Ben bekerja di tempat yang baru, ia sering pulang terlambat ke rumah dan aku memaklumi jika tanggung jawab nya sangat besar karena ia sekretaris pribadi bos dan banyak pekerjaan yang ia urus selama Pak Thomas tidak masuk ke kantor. Aku melihat Ben sangat nyaman bekerja di tempat nya yang sekarang dan rasanya terlalu egois jika menyuruhnya berhenti bekerja di sana karena Ben mendapatkan pendapatan yang sangat besar daripada di tempat kerja nya yang dulu. *** Keesokan harinya, aku terbangun ketika mendengar suara Irene yang menyuruh Ben untuk berhenti bekerja di kantor Pak Thomas. Saat itu aku langsung keluar dari kamar dan melihat Ben yang mengutarakan pendapatnya untuk tidak berhenti bekerja karena ia merasa sangat nyaman bekerja di tempat nya yang baru. Waktu itu Irene tetap bersikeras menyuruh Ben untuk berhenti bekerja dan ia melarang Ben untuk pergi ke kantor. " Ibu bilang kau tidak boleh berangkat! Ibu mau kau berhenti bekerja di sana!" Kata Irene sambil menghalangi Ben yang hendak pergi ke kantor. " Ibu, aku mohon jangan halangi jalanku. Aku harus bekerja agar tidak merepotkan ibu dan ayah." Kata Ben sambil memohon kepada Irene tetapi Irene tetap menghalangi jalan Ben. Saat itu aku memegang tubuh Irene dan menyuruh Ben untuk berangkat ke kantor. Irene terlihat sangat marah padaku sambil berteriak memanggil nama Ben. Aku berusaha menenangkan Irene yang tidak berhenti berteriak dan menyuruh nya untuk diam. Aku tau Irene sangat takut kehilangan Ben tetapi aku yakin Ben tidak akan pergi meninggalkan kami karena ia sangat menyayangi kami dan tidak mungkin ia akan kembali bersama orang tua kandungnya. *** Entah kenapa sampai saat ini Ben belum pulang dan waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku berusaha menghubungi Ben tetapi ponselnya tidak aktif. Irene terlihat sangat cemas memikirkan Ben sehingga aku memutuskan untuk pergi ke kantor sambil mencari Ben. Saat itu Irene ingin ikut bersamaku tetapi aku melarangnya dan menyuruhnya untuk di rumah sambil menunggu kedatangan Ben. " Albert, aku ikut dengan mu." Kata Irene sambil memakai jaket. " Kau tidak usah ikut. Lebih baik kau di rumah sambil menunggu kedatangan Ben." Kataku sambil mengambil kunci mobil yang berada di atas nakas. Akhirnya aku pergi ke kantor dan saat tiba di sana, aku melihat Ben bersama teman kerjanya. Saat itu aku datang menghampiri nya dan aku sangat terkejut ketika ia memutuskan untuk tidak pulang ke rumah dan lebih memilih menginap di rumah temannya. Saat itu Ben meminta maaf padaku karena ia belum bisa pulang ke rumah dan aku memahami keputusan nya. Setelah itu Ben berpamitan padaku dan ia pergi bersama temannya. Aku berharap semoga perselisihan di antara Irene dan Ben segera berakhir karena aku tidak ingin melihat keluarga ku bertengkar seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN