BAB 11

1050 Kata
THOMAS POV Tidak terasa sudah seminggu Ben bekerja di perusahaan ku dan sampai saat ini aku belum bisa mengorek informasi darinya. Menurut ku Ben sangat tertutup dan ia sangat fokus dalam bekerja. Pernah beberapa kali aku memancing pembicaraan tentang keluarganya tetapi ia selalu berusaha mengalihkan pembicaraan. Aku tidak tau apa yang sebenarnya ia tutupi dariku tapi sebentar lagi aku akan mencari tau apa yang selama ini selalu mengganggu pikiran ku. Hingga suatu hari aku hendak menyebrang jalan, tiba - tiba ada mobil yang menabrak tubuhku dan membuatku harus di bawa ke rumah sakit. Saat itu aku tidak sadarkan diri tetapi aku masih ingat jika Ben yang membawaku ke rumah sakit saat aku terluka parah. " Bapak tenang saja, semuanya akan baik - baik saja." Bisik Ben di telingaku dan setelah itu aku tidak ingat apa - apa lagi. Sampai akhirnya aku siuman dan melihat Diana bersama Felix di sampingku. Aku menyadari jika berada di rumah sakit dan kejadian saat kecelakaan terlintas di pikiran ku. Saat itu Diana terlihat sangat bersyukur karena aku siuman. Aku berusaha menenangkan nya jika aku baik - baik saja dan tidak beberapa lama ada seseorang yang mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar. Ternyata Ben yang datang menjenguk sambil membawakan buah untukku. Saat itu Diana dan Felix tercengang melihat wajah Ben yang sangat mirip dengan ku. " Mohon maaf mengganggu, saya kesini ingin menjenguk Pak Ben. Kemarin saya yang membawa beliau ke rumah sakit." Kata Ben sambil memberitahu kami " Terima kasih sudah menyelamatkan suami saya." Kata Diana sambil merogoh tasnya dan ternyata ia mengambil uang di dalam dompet nya dan memberikan uang kepada Ben. Saat itu Ben menolak secara halus pemberian Diana dan aku bisa melihat ketulusan dari dirinya yang telah menyelamatkan nyawaku. Rasanya aku berhutang budi padanya dan saat itu aku berjanji akan menolongnya jika ia membutuhkan bantuan ku. Tidak beberapa lama Ben berpamitan kepada kami karena ia harus kembali ke kantor dan ia mendoakanku supaya lekas sembuh. Saat itu Felix terburu - buru pergi karena ia harus bertemu dengan dosennya. Lalu Diana membahas tentang Ben yang wajahnya sangat mirip dengan ku. " Sayang, saat pertama kali melihat Ben, ia seperti saudara kembarmu karena wajah kalian sangat mirip." Kata Diana sambil memandangku dengan tatapan menyelidik. " Mungkin hanya kebetulan saja wajah kami mirip." Kataku datar dan aku berusaha mengalihkan pembicaraan agar ia tidak membahas Ben. Tiba - tiba ponsel Diana berbunyi dan ia langsung ke luar dari kamar. Lalu aku memikirkan perkataan Diana yang menyadari wajah Ben sangat mirip dengan ku padahal kami tidak ada hubungan darah. Entah kenapa aku semakin penasaran ingin menyelidiki latar belakang Ben karena aku yakin ada sesuatu dari Ben yang tidak asing. Akhirnya aku menghubungi James dan menyuruh nya untuk mencari latar belakang Ben dan ia menuruti perintah ku. " Aku perintahkan kau untuk mencari informasi tentang latar belakang Ben. Beri informasi secepatnya." Kataku sambil memberi perintah kepada nya. " Baik bos, segera saya laksanakan. Beri saya waktu tiga hari untuk mendapatkan informasi." Kata James sambil memberitahuku. Setelah selesai menelfon, Diana masuk ke dalam kamar dan ia memberitahu jika Sharon baru saja menghubunginya. Diana memberitahu ku jika tidak lama lagi Sharon akan datang menjenguk dan rasanya saat ini aku tidak ingin di jenguk oleh siapapun. Tidak beberapa lama Sharon datang sambil membawakan makanan untukku. Entah kenapa sampai saat ini ia belum menikah tetapi yang jelas itu semua bukan urusanku karena selama ini Diana selalu bercerita tentang adiknya yang tidak mau menikah dan memilih melajang. " Hai kakak ipar, bagaimana keadaan mu sekarang?" Tanya Sharon padaku sambil mengupas buah untukku. " Aku baik - baik saja. Kau tidak perlu repot-repot membawakan makanan untukku." Kataku sambil melihat nya mengupas buah. Saat itu Diana pergi keluar karena ada yang menelfonnya. Waktu itu tinggal aku berdua dengan Sharon dan aku melihat Sharon mengatakan sesuatu yang membuatku tercengang. Sharon mengungkapkan perasaannya padaku dan ternyata selama bertahun-tahun ia menungguku berpisah dengan Diana karena ia memiliki perasaan padaku. Aku tidak menyangka Sharon berani mengungkapkan perasaannya padaku padahal aku adalah kakak ipar nya. Tiba - tiba Diana masuk ke dalam kamar dan saat itu suasana terasa kaku dan Sharon berpamitan kepada Diana karena ia ada urusan penting. Rasanya saat itu aku masih tidak percaya jika selama ini Sharon menyimpan perasaan padaku dan ia berharap suatu hari aku berpisah dengan Diana. *** Beberapa hari kemudian Akhirnya aku di perbolehkan pulang oleh dokter dan rasanya aku sangat bersyukur karena bisa kembali ke rumah dan berkumpul dengan keluarga ku. Sejujurnya aku sangat bosan berada di rumah sakit karena aku hanya bisa berbaring tanpa melakukan aktivitas. Tiba - tiba ponsel ku berbunyi dan aku mendapat info tentang Ben. Aku sangat terkejut ketika mengetahui bahwa Ben sejak bayi sudah di buang oleh orang tuanya dan ia di adopsi oleh sepasang suami istri. " Begitulah informasi yang saya dapat tentang Ben." Kata James sambil memberitahuku. " Hari ini aku akan mentransfer bayaranmu jadi kau tunggu saja." Kataku sambil mengakhiri pembicaraan. Kecurigaan ku terhadap Ben semakin kuat jika ia adalah bayi yang ku buang dua puluh tahun yang lalu meskipun aku belum bisa memastikan. Entah kenapa rasanya saat itu aku ingin bertemu dengan Ben tetapi Diana tidak akan membolehkan ku untuk pergi dan menyuruh ku untuk beristirahat di rumah. Akhirnya aku menunggu sampai minggu depan untuk bertemu dengan Ben dan aku berharap segera mendapatkan jawaban darinya atas rasa penasaran ku selama ini kepada dirinya. *** Tidak terasa hari ini sudah memasuki hari senin dan saatnya aku pergi ke kantor. Saat itu Diana melarangku untuk pergi ke kantor tapi aku memberitahunya jika aku baik - baik saja. Sampai akhirnya aku pergi ke kantor dan saat tiba disana, semua orang menanyakan kondisi ku dan aku memberitahu mereka jika kondisi ku baik. Tidak beberapa lama aku melihat Ben tiba di kantor dan ia terlihat sangat terkejut melihat ku berada di kantor. Saat itu ia menanyakan keadaan ku dan aku memberitahu nya jika kondisi ku baik - baik saja. " Syukurlah jika anda baik - baik saja." Kata Ben sambil tersenyum padaku. Entah kenapa saat melihat nya tersenyum, aku teringat dengan Claire yang memiliki senyuman yang khas. Saat itu aku pergi meninggalkan nya dan masuk ke ruang kerja ku. Rasanya saat ini aku sangat bimbang dengan perasaan ku karena aku merasa Ben memiliki kesamaan sifat dengan Claire dan hal ini membuatku semakin yakin jika Ben adalah anak kandungku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN