ALBERT POV
Beberapa tahun kemudian.
Tidak terasa Ben tumbuh menjadi pria dewasa dan sekarang ia sudah bekerja di tempat catering. Saat itu ia memilih untuk mencari uang sendiri karena ia ingin bekerja sambil menabung untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah.
Sejujurnya aku bangga memiliki anak seperti nya karena ia sangat berbakti kepada orang lain meskipun ia bukan anak kandung ku.
Ben sangat menyayangi Adelle, anak ku dengan Irene. Ben sangat menyayangi adiknya dengan sepenuh hati dan sampai saat ini aku dan Irene tidak memberitahu Ben jika ia bukanlah anak kandung kami karena kami tidak ingin membuat nya bersedih.
" Ayah, ada yang ingin aku ceritakan. Ini sangat penting." Kata Ben kepada ku dan membuatku menjadi penasaran tentang apa yang akan ia katakan padaku.
"Apa yang ingin kau katakan kepada ayah?" Tanyaku padanya dan ia bercerita tentang bertemu dengan seorang pria yang menawarinya pekerjaan di sebuah perusahaan besar dan saat itu aku sangat heran mendengar cerita nya.
Aku tidak menduga ada seorang yang baik hati menawarkan pekerjaan kepada Ben dan aku tau Ben seorang anak yang sangat baik dan pasti ia mendapatkan bantuan dari Tuhan.
Saat itu Ben terlihat sangat tertarik dengan tawaran pria itu dan besok pagi ia akan datang ke kantornya. Setelah selesai bercerita, Ben masuk ke dalam kamar nya dan waktu itu aku berpikir ini buah kesabaran Ben selama ini sehingga ia mendapatkan pekerjaan yang lebih baik daripada pekerjaan nya yang sekarang.
Tidak beberapa lama aku melihat Adelle bersama temannya sedang mengerjakan tugas sekolah karena minggu depan harus di kumpulkan. Aku sangat senang Adelle sangat rajin belajar dan ia selalu berprestasi di sekolah.
Sekarang ia sudah kelas tiga SMA dan tidak lama lagi ia akan menempuh pendidikan ke jenjang kuliah. Aku sudah menyiapkan dana untuk menguliahkannya di universitas yang ia tuju.
" Bagaimana tugasmu? Apa sudah selesai?" Tanyaku sambil melihat Adelle yang merapikan bukunya di atas meja.
" Sudah selesai semua. Tinggal minggu depan di kumpulkan saat ujian." Katanya sambil memandangku.
Saat itu aku duduk di sampingnya. Lalu aku memeluk nya sambil mendoakannya semoga ujiannya sukses dan lancar.
Adelle mengucapkan terima kasih padaku dan tidak beberapa lama Irene menghampiri kami dan ia membawakan puding buatannya.
Aku dan Adelle langsung menghabiskan puding itu dan membuat Irene sangat senang. Saat ini Irene usaha puding bersama temannya karena ia ingin mencari kesibukan di luar sambil mencari uang sendiri meskipun awalnya aku tidak setuju karena sudah kewajiban ku menafkahinya.
***
Keesokan harinya, aku sedang duduk di teras rumah sambil membaca koran. Tidak beberapa lama Ben berpamitan padaku untuk pergi ke kantor pria yang menawarinya pekerjaan.
Saat itu aku melihat Ben berpakaian sangat rapi dan ia terlihat sangat siap untuk bekerja di tempat yang baru. Aku mendoakan nya semoga urusannya lancar.
Setelah itu ia berangkat dan entah kenapa firasat ku mengatakan jika ada sesuatu yang terjadi tidak lama lagi dan aku berharap semuanya baik - baik saja.
Aku melihat jam menunjukkan pukul tujuh pagi dan saatnya aku pergi ke toko untuk berjualan. Sampai saat ini pelanggan ku tetap setia berbelanja di toko ku meskipun aku memiliki banyak pesaing.
Sampai suatu hari ada seorang wanita yang datang ke tokoku dan aku tidak menyangka jika wanita itu adalah Amanda. Ia terlihat masih seperti yang dulu meskipun usianya tidak muda lagi.
" Amanda, sudah lama tidak bertemu dengan mu. Bagaimana kabarmu?" Tanyaku padanya sambil melayani pesanan pembeli.
" Aku sangat baik. Maaf mengganggu mu." Kata Amanda sambil memilih barang yang ingin ia beli.
Setelah selesai melayani pelanggan, aku mengajak Amanda berbincang di depan toko dan ternyata ia bersama anak - anaknya.
Ia mengenalkan anak - anaknya padaku. Anak pertama bernama Shirley dan anak kedua bernama Jovan.
Mereka sangat sopan dan aku berpikir untuk menjodohkan mereka dengan anak - anakku. Saat itu Amanda memberiku undangan untuk menghadiri pesta ulang tahun nya.
Setelah itu ia dan anak - anaknya berpamitan padaku dan rasanya aku sangat senang bertemu dengan Amanda setelah sekian lama kami tidak bertemu.
***
Tidak terasa waktu menunjukkan pukul setengah dua belas dan saatnya aku menutup tokoku. Setelah selesai membereskan toko, aku pulang ke rumah dan saat tiba di rumah, aku melihat banyak orang yang membeli puding buatan Irene.
Aku sangat senang karena Irene memiliki penghasilan sendiri karena ia tidak ingin tergantung padaku. Tepat jam setengah satu siang, Adelle tiba di rumah dan aku mengajaknya untuk makan siang.
Aku tau ia sangat kelaparan apalagi hari ini ia tidak ingat membawa bekal dari rumah dan aku sangat senang Irene memasak makanan kesukaan ku.
" Masakan ibu tidak ada tandingannya." Kata Adelle sambil melahap makanan yang ada di piringnya.
Aku hanya tersenyum memandangnya dan tidak beberapa lama Irene datang menghampiri kami dan ia ikut bergabung bersama kami.
Irene sangat senang melihat Adelle yang makan dengan lahap dan ia memberitahuku jika hari ini pudingnya laku terjual.
Aku sangat senang mendengar nya dan aku berharap semakin banyak yang membeli puding buatan nya.
Setelah selesai makan, Adelle pergi ke kamar nya.
Lalu Irene mengajakku berbincang di teras rumah. Saat itu kami membahas tentang Ben yang hari ini mendapatkan pekerjaan di tempat yang baru.
" Aku sangat senang Ben mendapatkan pekerjaan yang lebih baik daripada pekerjaan nya yang sekarang." Kata Irene sambil menyesap teh nya
" Kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya." Kataku sambil memandang ke arah taman.
Rasanya sudah lama aku tidak bercocok tanam karena kesibukan ku mengurus toko. Akhirnya aku mengajak Irene untuk membeli tanaman baru tetapi ia tidak bisa ikut karena ada pesanan yang harus ia buat.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke makam orang tua ku karena sudah lama aku tidak kesana. Saat aku tiba disana, aku merasa sangat merindukan kedua orang tua ku yang sudah lama tiada.
Aku yakin mereka bahagia di sana dan setelah itu aku mendoakan mereka sejenak. Lalu aku memutuskan untuk pergi ke sebuah taman yang sudah lama tidak aku datangi.
Saat berada di taman, aku merenung tentang Ben yang sampai saat ini tidak tau jika ia bukanlah anakku. Rasanya aku tidak mau terlalu lama menutupi kenyataan ini darinya karena ia harus tau tentang fakta yang sebenarnya.
Meskipun begitu aku tidak ingin kehilangan Ben karena aku sudah menganggapnya seperti anak kandung ku sendiri.
Aku yakin lambat laun Ben akan mengetahui tentang kenyataan ini dan aku harus bersiap apapun yang terjadi di kemudian hari.