THOMAS POV
Beberapa tahun kemudian
Tidak terasa Felix tumbuh menjadi pria dewasa yang matang dan sebentar lagi ia akan menyelesaikan kuliahnya.
Ia saat ini sedang sibuk menyelesaikan tugas akhir nya dan aku berharap ia lulus dengan nilai yang terbaik.
Tidak terasa aku semakin tua dan aku berharap Felix bisa menggantikan posisiku karena aku yakin ia bisa memimpin perusahaan ku.
" Tidak terasa sebentar lagi Felix akan menyelesaikan kuliahnya dan aku berharap ia bisa menggantikan posisi ku untuk memimpin perusahaan yang sudah puluhan tahun aku jalankan." Kataku kepada Diana dan ia mengangguk tanda setuju.
" Aku yakin anak kita pasti bisa memimpin perusahaan dengan baik" Kata Diana sambil menghidangkan secangkir kopi untukku.
Hampir dua puluh tahun ini aku mengurus sepuluh cabang yang tersebar di berbagai kota. Aku bersyukur karena usaha ku berjalan dengan lancar sehingga aku bisa membuka cabang
Awalnya ayah mertuaku yang memberiku modal sehingga aku bisa membuka cabang di kota lain hingga akhirnya bisa berkembang sampai sekarang.
Hari ini Diana mengajakku untuk pergi ke undangan temannya yang saat ini merayakan ulang tahun pernikahan mereka dan rasanya tidak beberapa lama lagi ulang tahun pernikahan ku dengan Diana.
Saat tiba disana, aku melihat banyak undangan yang datang dan rata - rata disana orang - orang kalangan atas. Waktu itu Diana memberi ucapan selamat kepada temannya, Sandra dan Erick.
" Selamat atas ulang tahun pernikahan mu yang ke dua puluh lima tahun. Semoga pernikahan kalian langgeng sampai kakek nenek." Kata Diana sambil memberi ucapan selamat kepada mereka.
Aku menjabat tangan Erick dan sepertinya mereka sangat senang dengan kedatangan kami. Setelah itu kami di persilahkan untuk mencicipi hidangan yang sudah di siapkan.
Lalu aku dan Diana mengambil makanan di meja makan. Tiba - tiba ada seseorang yang menabrakku sehingga membuat bajuku basah.
Pria itu meminta maaf padaku karena tidak sengaja menabrakku karena ia terburu - buru untuk mengantarkan pesanan orang lain.
" Mohon maaf, saya tidak sengaja menabrak anda karena saya terburu - buru untuk mengantarkan pesanan." Kata pria muda itu sambil menunduk.
Saat aku melihat wajahnya, ia sangat persis ketika aku masih muda. Waktu itu aku curiga jika dia adalah anakku dan saat aku ingin bertanya padanya lebih jauh, pria itu langsung pergi ketika ada seseorang yang memanggilnya.
Aku melihat pria itu dari kejauhan saat ia mengantar minuman ke salah satu undangan. Lalu pria itu pergi dan aku berusaha mengikutinya sampai ia berada di dapur.
Saat itu aku berinisiatif untuk menawarkan pekerjaan kepada nya agar aku bisa menyelidikinya lebih jauh. Waktu aku mendatanginya, pria itu terlihat gugup dan aku langsung menawarinya untuk bekerja di perusahaan ku sebagai sekretaris pribadiku.
" Kau jangan takut, aku hanya ingin menawarimu pekerjaan sebagai sekretaris pribadiku dan aku berpikir bisa memberimu gaji tiga kali lipat jika kau bersedia bekerja untukku." Kataku sambil melipat kedua tanganku.
Pria itu tampak bingung dan ia hanya diam tanpa memberi respon apapun. Akhirnya aku memberinya kartu namaku dan pergi begitu saja.
Aku yakin ia pasti mau menerima tawaran ku karena aku tau pria itu sangat membutuhkan uang.
***
Keesokan harinya, aku terbangun ketika ponselku berbunyi dan ternyata pria itu yang menghubungiku. Ia setuju untuk bekerja di perusahaan ku dan aku sudah menduga jika hal itu akan terjadi.
Lalu aku menyuruhnya untuk datang ke kantor jam sembilan pagi dan ia setuju. Setelah selesai menelfon, aku langsung bangkit dari ranjang dan segera mandi.
Setelah mandi, aku langsung berpakaian kantor. Lalu aku turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama Diana dan Felix karena mereka sudah menungguku.
" Selamat pagi semuanya." Kataku sambil menyapa mereka.
" Selamat pagi ayah. Sepertinya ayah sangat bahagia hari ini." Kata Felix sambil memandangku.
Aku hanya tersenyum tanpa memberi respon karena hari ini aku akan memulai rencanaku untuk menyelidiki latar belakang pria itu.
Aku akan mencari tau siapa pria itu karena ia membuatku jadi teringat dengan masa lalu ku yang sudah lama aku lupakan.
****
Setelah selesai sarapan, aku langsung berangkat ke kantor dan di tengah perjalanan aku terjebak macet sehingga aku baru sampai kantor setengah jam kemudian.
Aku melihat pria itu belum datang dan aku memeriksa arlojiku yang menunjukkan pukul setengah sepuluh. Entah kenapa rasanya aku tidak sabar menanti kedatangan pria itu dan aku merasa ada sesuatu yang istimewa dari diri pria itu.
Tepat jam sepuluh, ada yang mengetuk pintu ruang kerjaku dan aku mempersilahkan untuk masuk. Ternyata pria itu datang dengan penampilan yang sangat rapi dan formal.
Aku mempersilahkan pria itu untuk duduk dan aku menjelaskan tentang pekerjaan nya sehingga ia mengerti apa yang harus di kerjakan setiap hari.
" Apa ada yang kurang jelas dari penjelasan saya?" Tanyaku padanya sambil menatapnya dengan tatapan menyelidik.
" Sudah jelas Pak. Sebelumnya perkenalkan nama saya Ben. Terima kasih bapak sudah menawari saya pekerjaan sebagai sekretaris pribadi anda meskipun saya tidak tau alasan anda merekrut saya." Kata Ben dengan lugas.
Aku hanya diam dan tidak beberapa lama ada pegawai ku yang mengantar Ben ke ruang kerjanya. Setelah Ben pergi, aku membaca surat lamaran yang ia buat dan dokumen pendukung lainnya.
Aku sangat terkejut melihat tanggal lahirnya yang sama dengan anak yang ku buang dua puluh tahun yang lalu. Entah kenapa firasat ku mengatakan jika Ben adalah anakku dan aku melihat alamat rumahnya yang letaknya tidak jauh saat aku membuang anakku yang masih bayi.
Aku berpikir untuk mencari cara agar aku bisa mengorek info lebih jauh tentang Ben dan aku akan berusaha untuk bersikap baik padanya agar ia tidak pergi dari perusahaan ku.
***
Tidak terasa waktu menunjukkan pukul setengah dua belas dan saatnya makan siang. Lalu aku memutuskan untuk pergi ke ruang kerja Ben dan aku melihat ia sedang berkutat dengan pekerjaan nya.
Saat itu ia melihat ke arahku di balik kaca pembatas dan aku membuka pintu ruang kerjanya dan mengajaknya untuk makan siang bersama.
Akhirnya Ben merapikan pekerjaan nya, lalu aku mengajaknya makan siang di kantin. Saat itu semua orang melihat ke arah kami dan aku mendengar banyak orang yang berbisik tentang kemiripan wajah kami.
" Kau tidak usah dengarkan perkataan orang - orang di sini." Kataku sambil berbisik di telinga Ben.
Ben hanya mengangguk dan ia tidak berkata apapun. Saat itu aku menyuruh Ben untuk memilih makanan yang ia mau dan saat ia hendak membayar makanan yang ia pesan, aku melarangnya dan aku yang membayar makanan nya.
Saat itu Ben terlihat tidak enak padaku tetapi aku sengaja bersikap sebaik mungkin padanya agar aku tau siapa dia sebenarnya.