BAB 8

1036 Kata
ALBERT POV Aku mendapat kabar jika Amanda berhasil menemukan info tentang bayi itu dan ternyata ia baru sebulan yang lalu di lahirkan di rumah sakit tempat Amanda bekerja. Waktu itu Amanda berusaha ke rumah orang tua anak itu tapi sayangnya mereka sudah pindah rumah sehingga Amanda kehilangan jejak orang tua bayi itu. Entah kenapa aku sangat ingin mengadopsi bayi itu karena aku merasa orang tuanya tidak menginginkan keberadaannya. " Amanda, apakah hari ini aku bisa bertemu dengan mu?" Tanya ku padanya sambil berbincang di telfon. " Tentu saja bisa. Temui aku di rumah sakit jam dua siang di ruang praktekku." Kata Amanda sambil memberitahuku. Setelah mengakhiri pembicaraan, aku memutuskan untuk berjualan dari pagi sampai siang karena hari ini aku akan membicarakan tentang bayi itu kepada Amanda. Sejujurnya aku belum membicarakan hal ini kepada Irene tapi aku yakin ia akan setuju dengan keputusan ku. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang dan saatnya aku menutup tokoku. Lalu aku pergi menuju ke rumah sakit dan tidak beberapa lama aku tiba disana. Setelah itu aku pergi menuju ke ruang praktek Amanda dan disana ia sudah menungguku. " Akhirnya kita bertemu lagi. Silakan duduk." Kata Amanda sambil mempersilakan aku untuk duduk. " Aku kesini ingin membahas tentang bayi itu." Kataku sambil memberitahunya. Aku memberitahukan maksud kedatangan ku untuk menemuinya dan saat itu ia sangat terkejut ketika aku berkeinginan untuk mengadopsi bayi itu. Saat itu Amanda diam sejenak sampai akhirnya ia setuju jika aku ingin mengadopsi bayi itu. Lalu ia menyuruh ku untuk mengurus dokumen supaya aku bisa mengadopsi bayi itu. Setelah selesai berbincang, rasanya aku sangat senang karena tidak lama lagi aku akan memiliki seorang anak. Setelah itu aku pergi menjenguk mertuaku di rumah sakit karena Irene sudah menunggu ku disana. Tidak beberapa lama aku tiba di rumah sakit dan saat itu aku bertemu dengan Irene dan ibu mertua ku. Aku menanyakan keadaan beliau dan beliau menjawab sangat baik. Setelah berbincang, Irene dan aku berpamitan pulang ke rumah karena ayah mertuaku sudah datang. Di tengah perjalanan, aku menceritakan tentang awal mula aku menemukan bayi itu kepada Irene dan saat itu Irene terlihat sangat kasihan terhadap bayi itu. " Aku berkeinginan untuk mengadopsi bayi itu. Aku harap kau tidak keberatan." Kataku kepada Irene sambil mengungkapkan keinginan ku. " Tentu saja aku tidak keberatan karena dari dulu aku sangat menyukai anak-anak." Kata Irene sambil tersenyum padaku. Rasanya aku sangat bersyukur karena Irene setuju padaku untuk mengadopsi bayi itu. Akhirnya kami mengurus beberapa dokumen untuk mengadopsi bayi itu dan aku tidak sabar ingin segera merawat bayi itu bersama Irene. *** Sebulan kemudian. Akhirnya kami berhasil mengadopsi bayi itu sehingga bayi itu bisa kami rawat di rumah. Irene terlihat sangat bahagia dan ia menganggap bayi itu seperti anak kandung nya sendiri. Sejujurnya aku sangat menginginkan Irene segera mengandung anak kami karena aku sangat menginginkan memiliki anak kandung sendiri. Aku dan Irene akhirnya memberi nama Ben kepada bayi itu dan kami berharap Ben tumbuh menjadi pria dewasa yang sukses. " Lihatlah sekarang, kita sekarang memiliki seorang bayi yang sangat lucu seperti Ben." Kata Irene sambil mencium pipi Ben yang sangat menggemaskan. " Iya sayang, Ben adalah anugerah dari Tuhan untuk kita." Kataku sambil tersenyum kepada Irene. Kami belum memberitahu kepada siapapun tentang Ben dan kami menunggu waktu yang tepat untuk mengenalkan Ben kepada keluarga besar. **** Keesokan harinya, aku dan Irene pergi ke rumah sakit untuk menjemput ibu mertuaku karena beliau hari ini sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah. Saat itu Irene membawa Ben ke rumah sakit karena ia ingin mengenalkan Ben kepada orang tua nya. Aku berharap orang tua Irene bisa menerima Ben sebagai cucu mereka. Tidak beberapa lama kami tiba di rumah sakit dan saat itu kami bertemu dengan orang tua Irene. Saat itu orang tua Irene tampak heran melihat Irene yang menggendong seorang bayi. Lalu kami bercerita tentang Ben kepada orang tua Irene dan mereka sangat senang kami mengadopsi Ben sebagai anak kami. " Syukurlah kalian mau mengadopsi Ben. Anggap Ben seperti anak kandung kalian sendiri." Kata ibu mertuaku kepada kami. " Kami sudah menganggap Ben seperti anak kandung kami sendiri. Jadi ibu dan ayah tidak usah khawatir. Kami akan merawat Ben sampai ia tumbuh dewasa." Kata Irene kepada orang tuanya. Setelah berbincang, kami mengantar orang tua Irene ke rumah mereka dan aku bisa melihat orang tua Irene sangat menerima Ben dan menganggap Ben seperti cucu mereka sendiri. Tidak beberapa lama kami tiba di rumah orang tua Irene dan orang tua Irene menyuruh kami untuk menginap di rumah mereka. Sepertinya mereka ingin menghabiskan waktu bersama Ben karena aku tau dari Irene jika mereka dari dulu sangat ingin menimang seorang cucu. Saat itu aku berpamitan kepada orang tua Irene untuk mengambil baju untuk kami menginap. Setelah berpamitan, aku pulang ke rumah dan mengambil beberapa baju Irene dan aku. Setelah selesai mengemasi baju, aku kembali ke rumah orang tua Irene dan kami menghabiskan malam minggu bersama orang tua Irene. *** Keesokan harinya, aku terbangun ketika mendengar tangisan Ben. Lalu aku beranjak dari tempat tidur dan melihat Ben yang sedang di gendong oleh ibu Irene. Aku melihat kebahagian di wajah orang tua Irene dan sepertinya mereka tidak ingin berpisah dengan Ben. Waktu itu aku dan Irene berpamitan, Ben menangis kencang ketika dan seperti nya ia tidak mau berpisah dengan neneknya. Saat itu Irene berusaha menenangkan Ben sampai ia berhenti menangis. Akhirnya kami pulang ke rumah dan rasanya sangat menyenangkan bisa menghabisi waktu bersama orang tua Irene. " Sepertinya orang tuaku sangat menyukai Ben. Begitu juga dengan Ben yang tidak ingin berpisah dengan mereka." Kata Irene sambil memandang Ben yang tertidur lelap di pangkuannya. " Syukurlah mereka bisa menerima Ben dan menganggapnya seperti cucu mereka sendiri." Kataku sambil menyetir mobil. Tidak beberapa lama kami tiba di rumah dan Irene langsung pergi ke kamar Ben untuk merebahkan tubuh Ben di box bayi. Rasanya aku sangat ingin memiliki anak kandung sendiri dan aku berharap tidak lama lagi Irene akan mengandung. *** Aku mendapat kabar dari adik ipar ku jika adikku sedang di rawat di rumah sakit karena mengalami kecelakaan mobil. Rasanya saat itu aku sangat cemas memikirkan adikku sehingga aku memutuskan untuk pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan nya. Aku berharap adikku selamat dari kecelakaan itu karena aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN