THOMAS POV
Hari ini aku mengajak Diana untuk menjenguk orang tua ku. Ia terlihat sangat senang karena sudah lama kami tidak berkunjung kesana.
Sebelum berangkat, Diana mempersiapkan semua kebutuhan Felix sampai akhirnya kami pergi ke rumah orang tuaku.
Saat di tengah perjalanan, aku mendapat kabar dari Robby jika Rendy siuman dan aku sangat senang mendengar hal itu.
" Ada apa sayang?" Tanya Diana padaku sambil memangku Felix
" Aku baru saja mendapat kabar jika Rendy sudah siuman." Kataku sambil memberitahunya.
Saat itu Diana sangat senang mendengar kabar itu dan ia sangat ingin menjenguk Rendy di rumah sakit. Tidak beberapa lama kami tiba di rumah orang tua ku dan saat itu aku melihat orang tuaku sedang duduk di teras rumah.
Mereka terlihat sangat senang melihat kedatangan ku bersama Diana dan Felix. Saat itu ibuku sangat ingin menggendong Felix sehingga Diana menyerahkan Felix kepada ibu.
Saat itu ibu terlihat sangat bahagia karena bisa bertemu dengan Felix. Aku tau dulu pernah mengecewakan ibu saat aku berbohong padanya jika cucunya sudah tiada.
Waktu itu aku terpaksa melakukan hal itu karena aku sangat membenci anak itu menjadi penyebab almarhum istriku tiada.
" Cucu ibu sangat tampan sepertimu." Kata ibu sambil mencium pipi Felix.
Tidak beberapa lama ayah menyuruh kami untuk masuk ke dalam rumah dan saat itu kami berbincang cukup lama sampai Felix terbangun dan menangis cukup kencang sehingga Diana membawa Felix ke teras rumah untuk menenangkan nya.
Aku melihat semenjak ada kehadiran Felix, Diana sangat berubah dan ia lebih fokus mengurus Felix dan bisnisnya ia serahkan kepada adiknya .
Tidak beberapa lama kami berpamitan karena Diana ingin menjenguk Rendy di rumah sakit. Lalu kami pergi menuju ke rumah sakit dan di tengah perjalanan, aku melihat ada seorang anak menangis sambil berjalan ke tengah jalan sehingga aku menghentikan mobil.
" Sayang, sebaiknya kita turun karena aku takut terjadi sesuatu kepada anak itu." Kata Diana sambil membuka pintu mobil.
Lalu aku ikut keluar dari mobil dan saat itu aku sangat terkejut melihat anak itu yang menangis histeris. Tidak beberapa lama ada seorang wanita yang menghampirinya dan menggendongnya.
Sejujurnya aku tidak menyangka akan bertemu dengan anak itu karena aku tidak ingin melihatnya lagi. Diana terlihat sangat bersyukur karena anak itu sudah dibawa oleh orang tuanya.
Seandainya Diana tau jika anak itu adalah anakku, aku yakin ia tidak akan memaafkan ku karena telah menelantarkan anak kandung ku sendiri.
Akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke rumah sakit sampai akhirnya kami tiba di rumah sakit. Saat itu kami bertemu dengan ayah Rendy dan beliau mengantar kami sampai ke kamar Rendy.
" Terima kasih ibu dan bapak mau datang kesini. Kalau begitu saya tinggal dulu." Kata ayah Rendy sambil berpamitan kepada kami.
Akhirnya kami bertemu dengan Rendy dan istrinya. Mereka terlihat sangat senang dengan kedatangan kami. Lalu kami berbincang dan tidak beberapa lama kami memutuskan untuk pulang ke rumah karena Felix mulai menangis.
Aku memberi cuti kerja kepada Rendy sampai kondisinya membaik. Tiba - tiba Diana membahas soal anak itu dan ia baru sadar jika wajah anak itu sangat mirip saat aku masih kecil.
Saat itu aku sangat terkejut mendengar hal itu dan aku bersikap datar tanpa merespon perkataan nya. Saat ini aku tidak ingin membahas tentang anak itu karena aku tidak ingin hidupku di bayangi oleh masa lalu.
" Sayang, kenapa kau diam saja?" Tanya Diana sambil menoleh ke arah ku.
" Tidak apa - apa sayang." Kataku membalas pertanyaan nya tanpa menoleh ke arahnya.
Tidak beberapa lama kami tiba di rumah dan aku langsung pergi ke ruang kerjaku karena aku ingin menjernihkan pikiran.
Entah kenapa wajah Claire terlintas di pikiran ku dan rasanya aku merasa bersalah terhadap nya karena sudah membuang anak kami.
Seandainya Claire berhasil di selamatkan, aku tidak akan membuang anakku sendiri. Sampai saat ini aku masih mencintai Claire meskipun aku sudah menikah dengan Diana.
***
Aku terbangun ketika mendengar ketukan pintu dan Diana memanggilku untuk makan malam. Aku baru tersadar jika aku tertidur di atas meja kerjaku.
Lalu aku beranjak dari meja kerjaku dan pergi menuju ke arah wastafel untuk membasuh wajahku. Lalu aku ikut bergabung dengan Diana di meja makan.
Rasanya saat itu aku tidak nafsu makan sehingga aku hanya makan setengah porsi. Saat itu Diana sangat heran melihat ku yang tidak seperti biasanya.
" Sayang, apa kau baik - baik saja?" Tanya Diana padaku sambil membereskan meja makan.
" Aku baik - baik saja." Kataku tanpa menolehnya.
Lalu aku beranjak dari meja makan dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi, aku pergi ke kamar Felix dan melihatnya yang sedang tertidur lelap di box tidurnya.
Ia terlihat sangat damai dan rasanya aku teringat dengan anak itu. Seandainya aku tidak membuangnya, aku tidak akan merasakan penyesalan seperti ini.
Aku berpikir lebih baik anak itu di rawat oleh orang lain daripada ia bersama ku karena aku yakin Diana tidak akan bisa menerima anak itu di dalam kehidupan kami.
***
Keesokan harinya, adik Diana, Sharon, datang ke rumah kami. Ia sangat ingin bertemu dengan Felix karena sudah lama tidak bertemu.
Entah kenapa melihat Sharon mengingatkanku dengan Claire dan selama ini aku berusaha menjaga jarak dengan nya.
Di usianya yang menginjak tiga puluh tahun, Sharon belum menikah dan ia memilih untuk melajang karena ia masih trauma dengan hubungan nya di masa lalu.
" Hai kakak ipar! Dimana keponakan ku yang tampan? Aku sangat ingin bertemu dengan nya." Tanya Sharon sambil tersenyum padaku.
" Felix berada di kamar bersama Diana." Kataku datar dan aku langsung pergi meninggalkan nya.
Aku memilih duduk di teras rumah sambil merenung apa yang sudah ku alami saat ini. Rasanya aku sangat ingin berlibur untuk menenangkan pikiranku.
Tidak beberapa lama Diana berpamitan padaku karena ia di ajak Sharon untuk melihat butik dan aku mengijinkan nya untuk pergi.
Lalu aku pergi ke kamar Felix dan melihatnya yang sedang tertidur. Aku mengangkat tubuh nya dari box bayi dan aku menggendong tubuhnya.
Kemudian aku membawanya ke rumah orang tua ku karena aku yakin orang tuaku sangat senang jika aku membawa Felix.
Saat aku tiba di rumah orang tua ku, mereka sangat terkejut sekaligus senang karena mereka bertemu dengan cucunya.
Sejujurnya aku sangat senang melihat kebahagian di wajah orang tua ku karena selama ini aku sering mengecewakan mereka apalagi mereka tidak tau fakta yang sebenarnya jika cucu pertama mereka masih hidup