BAB 37

1045 Kata
THOMAS POV Aku tidak menyangka jika Paula nekat menyakiti dirinya sendiri hanya untuk mendapatkan perhatian dariku. Waktu itu aku melihat Paula yang terbaring lemah tidak berdaya dan ia terlihat sangat senang melihat kedatangan ku. Saat itu ia bercerita jika ia sudah putus asa ketika aku menolaknya dan ia memutuskan untuk menyakiti dirinya sendiri. Waktu itu aku berusaha menghibur nya agar ia tidak mengulangi kesalahan yang sama karena aku tidak ingin melihat nya jatuh sakit seperti ini karena ku. " Aku berharap kau segera sembuh karena aku tidak ingin melihat mu jatuh sakit karena aku." Kataku sambil duduk di samping ranjang. " Maafkan kebodohan ku membuatmu menjadi merasa bersalah padaku." Kata Paula padaku. Tidak beberapa lama suster mengantarkan makanan untuk Paula dan aku menyuruh nya untuk makan tetapi Paula tidak mau makan karena ia tidak suka makanan rumah sakit. Saat itu aku berusaha membujuknya supaya ia mau makan dan akhirnya aku berhasil membujuknya makan dengan menyuapinya. Paula terlihat malu saat aku menyuapinya dan sepertinya ia suka di manjakan oleh pria. Sejujurnya aku teringat ketika Diana sakit dan tidak mau makan, aku berusaha membujuknya dengan menyuapinya makanan sampai ia menghabiskan makanan nya. Sejujurnya aku sangat merindukan Diana karena hanya ia yang bisa mengerti diriku. Setelah menyuapi Paula, aku berpamitan padanya karena aku harus datang ke kantor. " Paula, aku harus ke kantor sekarang karena ada rapat dengan anak buahku." Kataku sambil memberitahu nya. " Baiklah kalau begitu. Kau hati - hati di jalan." Kata Paula sambil tersenyum padaku. Akhirnya aku pergi ke kantor karena semua orang menunggu kedatangan ku. Aku tidak suka membuat orang menunggu lama sehingga saat aku tiba di kantor, aku langsung memulai rapat. Disana semua orang sudah menunggu ku dan kami membahas tentang perencanaan kerja di tahun depan. Saat itu aku teringat dengan Ben tetapi ia sekarang bukan anak buah ku lagi karena ia sudah menjabat sebagai pimpinan perusahaan di kantor yang baru. *** Setelah selesai mengikuti rapat, aku memutuskan untuk menghubungi Ben dan mengajaknya makan siang. Aku ingin membahas acara peresmian kantor baru. Akhirnya kami bertemu di sebuah kafe yang letaknya tidak jauh dari kantor Ben dan saat itu aku melihat Ben yang sangat lelah. Waktu itu aku menyuruhnya untuk mengambil libur tetapi ia lebih memilih fokus dengan pekerjaannya. Aku tau Ben seorang pekerja keras dan ia bukanlah tipe pemalas. " Papa melihat kau butuh liburan dan sebaiknya kau beristirahat." Kataku sambil membujukku untuk mengambil liburan. " Ben masih banyak pekerjaan di kantor jadi tidak bisa mengambil libur." Kata Ben sambil menyesap kopi. Lalu kami membahas tentang acara peresmian kantor baru dan kali ini kami merancang acara yang bisa menghibur banyak orang. Setelah berbincang cukup lama, aku dan Ben kembali ke kantor masing - masing dan aku tidak sengaja melihat ada seseorang yang berteriak meminta tolong. Ternyata wanita itu adalah Sharon dan aku langsung menolong nya dari perampok yang mencoba mengambil barang-barang nya. " Terima kasih sudah menolong ku. Jika tidak ada kau, aku tidak tau nasibku seperti apa." Kata Sharon sambil berterima kasih padaku. " Sebaiknya ku antar kau pulang." Kataku sambil menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobilku. Saat itu Sharon hanya terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Biasa nya ia akan berusaha menarik perhatian ku tetapi kali ini ia hanya diam melamun. Tidak beberapa lama kami tiba di rumah Sharon dan ia tiba - tiba jatuh pingsan. Lalu aku membawanya ke dokter terdekat. *** Setelah di periksa oleh dokter, Sharon ternyata di haruskan untuk beristirahat karena ia mengalami stress berat. Tidak beberapa lama Sharon terbangun dan ia sangat terkejut ketika aku membawanya ke dokter. Setelah dokter memberi resep obat, aku mengantar Sharon ke rumah nya tetapi ia tidak mau di antar ke rumah nya dan ia lebih memilih untuk tinggal di rumah ku. " Aku mohon ijinkan aku untuk menginap di rumah mu. Aku tidak ingin sendirian di rumah." Kata Sharon sambil memohon padaku untuk mengijinkannya tinggal di rumah ku. " Baiklah, kau boleh menginap di rumah ku." Kataku sambil menyetir mobil. Tidak beberapa lama kami sampai di rumah dan aku menyuruh Sharon untuk beristirahat di kamar. Aku merasa Sharon agak berbeda dari biasanya dan sepertinya ia memiliki masalah. Meskipun ia selalu membuat masalah dengan ku, tapi sejujurnya aku sangat kasihan padanya karena selama ini ia tinggal seorang diri dan Diana sudah tiada sehingga ia tidak memiliki seseorang untuknya berkeluh kesah. Sepertinya aku biarkan saja ia tinggal di rumahku agar ia tidak merasa kesepian. Semenjak Felix pergi dari rumah, aku merasa kesepian dan tidak ada teman untuk berbincang. Mungkin ini waktunya aku memperbaiki hubungan ku dengan Sharon karena aku tau kami sama - sama membutuhkan seseorang untuk berbagi keluh kesah. *** Tidak terasa waktu menunjukkan pukul tujuh malam dan saatnya makan malam. Saat itu aku mengajak Sharon untuk makan malam di luar dan saat itu tidak ada respon. Lalu aku berusaha membujuk Sharon untuk mau makan malam bersama ku sampai akhirnya ia membuka pintu kamar dan bersiap untuk pergi bersama ku. Saat itu aku berusaha mengajaknya berbincang agar mencairkan suasana. Tiba - tiba Sharon menangis dan meminta maaf padaku atas semua kesalahannya padaku. " Kau tidak usah khawatir. Aku sudah lama memaafkan mu. Aku juga minta maaf jika selama ini membuatmu tersinggung dengan perkataan ku." Kataku sambil menatap nya dan ia menganggukkan kepalanya. Tidak beberapa lama kami tiba di sebuah restoran dan aku mengajak Sharon masuk ke dalam restoran. Saat itu aku tidak sengaja bertemu dengan wanita yang pernah datang menjenguk Felix di rumah sakit. Ia bersama seorang pria yang usianya seumuran dengan Ben. Wanita itu tidak sengaja bertatapan dengan ku dan ia langsung mengajak pria yang di sebelahnya pergi begitu saja. Sharon menatap ke arahku dan ia bertanya apa yang terjadi dan aku tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi ketika Felix berada di rumah sakit. Tidak beberapa lama pelayan datang membawanya pesanan kami dan kami menikmati makanan tanpa ada perbincangan di antara kami. *** Setelah selesai makan, kami pulang ke rumah dan aku merasa penasaran terhadap wanita yang dulu pernah menjenguk Felix di rumah sakit. Aku merasa wanita itu menyimpan banyak misteri sampai Felix merasa terganggu dengan kehadiran nya tetapi aku tidak perduli dengan orang lain karena saat ini yang aku perdulikan hanya keluarga ku terutama Felix yang belum pulang ke rumah. Aku berharap ia segera pulang ke rumah dalam kondisi yang baik - baik saja karena aku sangat mengkhawatirkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN