Langit

1070 Kata
siang ini sangat sibuk, semua perawat bidan dan dokter memeriksa satu persatu anak yang keracunan makanan, dokter umum dan IGD ikut turun tangan, bagian bedah anak hanya ada dokter umi, sedangkan dokter Andri sedang ada seminar di salah satu hotel di Bogor. ibu guru dan orang tua mulai panik dan menangis, anak anak terlihat lemas dan tak berdaya, kami semua sibuk dengan tugas masing - masing. aku yang biasa berada di komputer ikut turun tangan menenangkan orang tua yang mulai panik, hanya saja mereka tetap panik, lagipula siapa yang tidak khawatir? saat anaknya di ambang bahaya seperti ini aku yakin, siapapun orang tuanya, kaya atau miskin nyawa seorang anak nomer satu dari segalanya. ah aku merindukan ibuku. benar saja rumah sakit tidak jauh dari tangis dan kematian. aku mencoba meminta data satu persatu anak yang keracunan makanan, dari salah satu guru disana, padahal sekolahan ini, adalah sekolahan internasional tidak mungkin bukan jika mereka memberi bahan bahan sembarangan, namun fakta yang tidak bisa di pungkiri, kali ini mereka harus bisa menjelaskan mengapa hal fatal seperti ini bisa terjadi. aku mendata satu persatu nama siswa, ada satu anak yang tidak ada satu orangpun yang menemani, dia diam dan bahkan tidak rewel, matanya berkaca -kaca, aku ingin mencoba menghiburnya, aku tahu sekali perasan itu, perasaan sendiri tanpa orang lain yang menemani, menjadi kuat, saat aku merasakan lemah, menjadi hebat, saat mengalami kesulitan. aku tahu perasaan yang sedang anak lelaki itu alami, aku menghampiri guru tersebut, bertanya siapa anak yang di ranjang nomer 3 tersebut. "oh yang itu,?"katanya "iya, dia ga ada yang menemani Bu?" kataku, kurasa aku lancang bertanya ini langsung kepada seseorang yang baru melihatku hari ini. "orang tuanya Sibuk, bahkan saya tidak yakin kalau dia mendapatkan kasih sayang yang cukup" katanya "siapa Bu namanya?" tanyaku "langit R Faza" katanya aku diam sejenak, kurasa tidak asing ditelinga, kurasa aku pernah mendengar nama ini sebelumnya. namun aku tidak bisa mengingat, nama siapa yang dulu pernah ku dengar ini "R nya apa Bu?" tanyaku "kurang tahu, apa Ronaldo ya lupa saya " katanya "oh ya, R bisa jadi Ronaldo ya Bu" kataku aku melihatnya sekali lagi, sebelum akhirnya aku meninggalkan dia. aku mencoba mengingat lagi, siapa yang memiliki nama yang hampir sama dengannya. saat aku akan beralih ke ruangan lainnya, tangan anak itu menhan baju ku. "ayah saya ada?" tanyanya aku tidak bisa menjawab pertanyaan nya, fakta yang sangat menyakitkan, bahkan orang tuanya tidak bisa dihubungi pihak sekolah. "anak baik, anak pinter. ayah lagi dijalan sabar ya" kataku dia tidak menjawab pertanyaan ku, hanya menangis tanpa suara, dia mengigit bibir bawahnya, aku merasa iba, ku peluk tubuhnya dan aku bahkan ikut menangis bersamanya, aku merasa anak ini adalah aku, aku merasa anak ini gambaran diriku. sama persis. "ada apa langit" tanya salah satu guru pada anak itu dia menyodorkan kertas, berisikan nomer rumah, mungkin dia ingin seseorang dari rumahnya menjemput dia. ibu guru tersebut pergi meninggalkan kami berdua. "langit, jangan nangis sayang, langit hebat langit kuat" kataku langit hanya mengangguk. "langit denger ibu ya, langit itu kuat banget, ga nangis kaya yang lain, jadi ibu mau kasih hadiah" kataku aku merogoh kantung ku, ada lolipop kesukaan ku yang belum sempat ku coba, aku memberikannya kepada langit sebagai ucapan terimakasih karena tidak menangis dan rewel, "ini buat langit" kataku langit tersenyum, kemudian dia mengucapkan terimakasih kepadaku. tidak lama dari itu, seorang baby sitter menghampiri aku dan langit, dia memeluk langit, dan terlihat sangat khawatir. "maafin mba ya langit, maafin mbaaa" dia menangis tersedu aku yang melihat pemandangan ini sedikit miris, mengapa yang datang baby sitter bukan orang tuannya. apakah sesibuk itu? sehingga dia tida bisa datang menjemput anaknya. ah sialan. aku membenci orang tua yang masa bodoh pada anaknya. kalian pasti tahu kenapa? aku yang hampir 2 tahun belakangan ini, hidup sendiri tanpa siapapun. hanya seorang diri, sungguh menyebalkan. bagaimana perasaan anak itu, yang dari dini sudah di abaikan orang tuanya. "mba terimakasih" kata baby sitter itu kepadaku, aku mengangguk lalu meninggalkan mereka berdua. saat kondisi sudah stabil, aku kembali ke tempat kerjaku, meregangkan tubuhku yang sangat lelah, aku mengoprek data anak anak yang baru saja masuk ke rumah sakit, kasus keracunan makanan yang membuat hari ini sangat sibuk. sebagian orang sudah membawa anaknya kembali kerumah Masing masing, syukur tidak ada hal fatal yang mereka alami. hanya keracunan biasa yang diberi obat obatan langsung reda. langit melihat ke arahku, aku melambaikan tangan kearahnya. lalu mengepalkan tangan seraya memberikan dia semangat, langit berlari ke arahku, dia memberikan aku sebuah gantungan bulan dan bintang. "buat ibu" katanya aku tersenyum menerimanya. "langit terimakasih, nanti lain kali kita ketemu ya" kataku "aku boleh kesini lagi?" tanyanya "iya tapi bukan karena sakit ya" kataku "kenapa?" tanyanya "kalau langit kesini, ga lagi sakit kan kita bisa makan bareng di bawah" ucapku "baiklah" kami membuat janji kelingking, mengisyaratkan bahwa kita akan bertemu lagi, untuk menghabiskan waktu berdua. kurasa aku akan cocok dengan anak ini, sepertinya kita mempunyai latar belakang yang sama. sama sama sendiri di dunia ini. "bye langit" kataku "bye" katanya waktu sudah menunjukan jam 12 siang, semua orang mulai bergantian untuk makan. ada 25 kasus hari ini, yang harus ku masukan ke dalam komputer, belum kasus yang lain. ah bagaimana ini. kurasa aku lelah sekali. "Alma, biar saya bantu" ucap Risma aku tersenyum lebar, Risma mengambil 10 kasus, dan sisanya aku. aku hanya membeli kopi dan roti di kantin, lalu bergegas kembali lagi ke ruangan ku, sedangkan Risma tidak. dia lanjut memasukan data kedalam aplikasi, setelah aku datang, aku menyuruhnya untuk bergantian beristirahat. aku fokus memakan roti yang terasa lebih enak dari sebelumnya, aku hampir menangis, karena kelaparan. "langit R-#+_/@+ Faza" lirih Risma "kenapa Ris, langit apa?" tanyaku "owalah jadi tadi dia ada disini?" "dia siapa?" tanyaku "ngga, ngga. kasus keracunan makanan, dokter A&$)@(-& tau ngga ya" "dokter siapa Ris?" aku bertanya memastikan siapa yang sedang Risma gerutui "ngga Al, sok di lanjut makannya" ucap Risma aku kembali menikmati roti yang enak itu, roti yang benar benar pengganjal lapar di hari sibuk ini. "dokter Andri?" sapa Risma "kenapa Bu bidan?" tanyanya "tadi ada kasus keracunan, dari TK kasih ibu" ucap Risma dokter Andri langsung mengambil papan data pasien, yang masuk di rumah sakit. tanpa berkata apapun, dia berlari keluar ruangan lagi. aku heran namun tidak berkutik. aku langsung mengiriminya pesan. "ada apa dok?" "semua baik baik aja kan?" "kabarin kalau sudah lebih baik" aku klik sand, dan kubiarkan layar ponselku mengembang, dengan pesan terakhir yang ku kirim ke dokter Andrian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN