Bertemu langit

1028 Kata
dokter Andrian membalas pesanku. "gapapa Alma, semua oke ko" aku menarik nafas lega, sejak kejadian beberapa hari yang lalu, sejak aku dan dia bertukar pikiran. aku merasa aku dan dokter Andrian ini memiliki kesamaan. baik dalam hal kecil ataupun besar, namun aku belum berani menceritakan tentang masa laluku, aku belum siap, berbagi dengan siapapun, meski rasanya segala hal selalu ingin ku ceritakan pada dokter Andrian. dokter Andrian candu, dia bisa menerima segala sisi kekanakan ku. menerima segala kekuranganku. dia dewasa, dia hebat dan selalu menjagaku dengan baik. ya kurasa begitu. meski jika bertemu dengan dia di jam kerja, dia seperti bukan Andrian yang aku kenal. pangus, cuek, jutek, dingin otoriter dll. tapi dia selalu banyak kejutan, tiba-tiba jemput depan rumah, tiba-tiba mengajak aku ke puncak, tiba-tiba mengirimi ku hadiah. dia serba tiba-tiba. bahkan kemarin kalian harus tau. dokter Andrian mengirimiku Bunga dengan inisal FRA. FAZA ROSYDA ANDRIAN. dia sengaja membalik singkatan namanya menjadi FRA, agar tidak di ketahui oleh orang kantor. namun diantara kami, hanya sebatas ini saja. untuk menjalin hubungan yang terikat. kurasa, diantara kami masih ada tembok yang tidak bisa kami panjat, aku bahkan tidak pernah bertanya prihal masa lalunya. begitupula dokter Andri, dia tidak pernah bertanya prihal masa lalu ku. kami berjalan selaras dengan yang kami inginkan, berbagi tawa Dan cerita keseharian kami. itulah yang membuat aku merasa, bahwa aku memiliki kesamaan dengan dokter Andri. Setelah kejadian tempo hari, aku selalu menantikan langit datang menemui ku, entah untuk sekedar menyapa atau hanya sekedar melambaikan tangan ke arahku, namun sudah satu pekan berlalu tidak ada tanda tanda dia akan muncul di hadapanku, ah entah perasaan apa ini, aku merasa memiliki ikatan batin dengannya. aku kembali fokus dengan komputer di hadapanku, mencoba mengalihkan segalanya, kepada komputer meski perasanku campur aduk tak karuan. "ibu Alma" sapa anak lelaki dari pintu ruangan ku suara itu sedikit tidak asing, dan ternyata yang sedang ku nantikan akhirnya datang menghampiriku. dia melambaikan tangan ke arahku, tersenyum manis dan berlari kecil ke arahku, aku langsung menghampirinya juga. rindu ku dibayar tuntas hari ini. "langit sehat?" tanyaku "sehat, kuat dan hebat" katanya aku senang, setidaknya dia bisa tersenyum sebahagia itu di hadapanku. "langit kesini sama siapa?" tanyaku "ayah" katanya aku diam sejenak, ayah? apa langit mau kontrol? atau orang tuanya yang sedang kontrol? atau gimana? aku tidak tahu. kurasa pertanyaan ini hanya butuh jawaban langsung dari orang tuannya. "ayah langit mana?" aku bertanya padanya, ingin memastikan dia dan ayahnya sedang dalam keadaan baik baik saja. "itu ayah" dia menunjuk kearah belakangku, aku sontak membalikan badan, lelaki yang dia tunjuk sebagai ayah, adalah dokter Andri. aku berdiri, menatap dokter Andri lekat. mataku panas. bibirku diam membisu, tubuhku bergetar hebat, langit berlari dan memeluk dokter Andri, semua orang disini hampir tahu bahwa dokter Andri memiliki anak, hanya aku yang kaget, hanya aku yang tidak tahu apapun. aku mencoba berjalan ke arah tempat duduk ku, sudah tidak punya kekuatan untuk meminta penjelasan, ada sesak dalam d**a yang bahkan aku tidak bisa netral kan, aku berusaha bersikap baik-baik saja. namun aku tidak bisa. aku tidak bisa menyembunyikan kekesalanku, ketidak berdayakan ku. aku memutuskan untuk ke kamar mandi, aku ingin mengontrol emosiku, ada hal yang ingin ku habiskan dikamar mandir, sesak di tenggorokan ingin ku tuangkan dalam bentuk tangisan. aku melewati dokter Andri yang masih berdiri memegang langit, anak kecil yang aku khawatirkan, anak kecil yang orang tuanya ku kurus karena telah menelantarkannya. ternyata dia adalah anak dari seseorang yang paling dekat denganku. seseorang berbagi cerita dan berbagi tawa denganku. seseorang yang memang tidak ku ketahui masa lalunya, dan banyak rahasia yang dia sembunyikan sama sepertiku, banyak hal yang belum ku ceritakan. apakah ini balasan atas apa yang aku sembunyikan? apakah ini karma lagi untukku? tuhan.!! "Al, abis ini kita ngobrol" dia menahan pergelangan tanganku, sembari berbisik lirih. aku hanya menatapnya dengan tatapan memburu, kurasa dokter Andri tahu bahwa aku sedang marah dan kesal padanya. aku menghempaskan tangan dokter Andri, lalu buru buru kembali ke meja dudukku. aku ingin menangis, namun tak mampu, jika aku menangis maka alasan apa yang harus ku utarakan pada rekan ku yang lain. aku berusaha bersikap biasa Saja. meski mataku panas dan memerah. d**a ku terasa sesak, nafasku tersendat sendat. "eh jangan mainin itu sayang" ucap Risma aku tidak ingin mengetahui apapun diluar pekerjaanku, perasaanku sedang tidak baik baik saja. jadi kurasa hari ini aku hanya ingin berdiam diri. "awaaas" teriak Risma aku langsung berdiri, melihat ke sumber teriakan tersebut. langit yang terlalu aktif menghantam seseorang yang sedang membawa makan siang untuk pasien, piring dan gerobaknya jatuh, menimbulkan keributan. semua orang merasa geram kepadanya. kurasa beberapa hari yang lalu, langit anak yang terlihat penurut, namun mengapa hari ini dia terlalu aktif sehingga semua orang dibuat kerepotan olehnya. aku menghampiri langit yang duduk bersimpuh, matanya terlihat menyesali, aku mencoba ikut bersimpuh di hadapannya, mencoba bicara dari hati ke hati, langit menundukkan kepalannya, semua orang di ruangan sibuk membersihkan makanan yang tumpah, dokter Andri yang berdiri di pintu ruangnya tidak bergerak sama sekali, dia hanya melihat kami dengan tatapan marah, kurasa dia sedang mengontrol emosinya. dia tidak ingin semua orang tahu bagaimana cara dia mendidik anaknya. "langit, ikut ayah ke dalem" katanya langit terlihat enggan, namun ayahnya menegaskan sekali lagi untuk dia masuk kedalam ruangannya. "dok, silahkan masuk dulu, langit saya yang antar" kataku "dokter umi, maaf bisa hendel pasien rawat jalan saya sebentar dok?" katanya "boleh, silahkan selesaikan dulu masalah ini" ucap dokter umi dokter Andri berjalan keriangannya, aku dan langit menyusul dokter Andri yang sudah menunggu di dalam ruangan. "Alma, jangan keluar" katanya "ini urusan internal keluarga dokter, dan saya tidak punya andil di sini" ucapku dengan nada yang ku tekan supaya tidak meledak "kamu harus dengar" ucapnya "tidak perlu, kurasa kamu harus menjelaskan secara detail kepadaku nanti" ucapku lagi dokter Andri menahan pergelangan tanganku lagi, kali ini cengkeramannya sangat kuat. tanganku terasa sakit, bahkan aku sampai terisak. "maaf" katanya "dok, yang seharusnya marah adalah saya, yang seharusnya kesal adalah saya, dokter yang punya rahasia, dan kenapa dokter yang marah, saat saya tahu rahasia dokter" ucapku "Al, iya langit anak saya" ucapnya "oke saya paham!, terimakasih!" ucapku aku pergi meninggalkan dokter Andri, tangis dan amarah menjadi satu. mengapa harus aku merasakan sesak seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN