setalah seharian menemani langit, akhirnya langit pulih dengan cepat. meski langit dengan manja memintaku untuk tidak meninggalkannya, namun aku dengan berat hati harus meninggalkan langit ketika dokter Andri pulang dari rumah sakit. menjadi seseorang yang dapat diandalkan ternyata sangat menyenangkan. lebih lebih diminta oleh seseorang yang membuat hari-hariku lebih berwarna dari sebelumnya. meski perkenalan kami terkesan sangat tidak baik, namun siapa sangka aku dan dokter Andri menjadi sejauh ini.
"Al, makan dulu" kata dokter Andri yang sudah berdiri tepat di belakang ku
"dokter? dari kapan disitu" tanya ku
"baru saja sampai" katanya
dia mungkin membawakan sebungkus makanan cepat saji saat perjalanan pulang, aku dan langit mengikuti dokter Andri turun ke ruang makan. kami duduk di meja makan yang sangat besar, teramat sangat besar jika hanya untuk kami bertiga.
"dok bawa apa?" tanyaku yang penasaran dengan plastik yang tadi dokter jinjing
"oh, obat penurun demam buat langit" katanya
aku mengerutkan keningku, aku pikir yang dibawa dokter Andri adalah burger yang sedari tadi ku inginkan, hari ini aku ingin memakan banyak hal, corndog, burger, baso ikan, dll namun tidak enak jika harus meminta kepada dokter Andri untuk membawakannya.
"silahkan tuan" sapa seorang pelayan kepada dokter Andri
dokter Andri, aku dan langit langsung memakan hidangan yang sudah di sediakan, kami tidak banyak bicara, sampai kami menyelesaikan makanan kami.
"Al saya mandi dulu, lepas itu saya mengantar kamu pulang ya" ucap dokter Andri
"ayah aku ikut" sela langit
"langit istirahat ya, kan masih belum sehat, tunggu sampai sembuh yaaa" ucapku kepada langit
"ibu kenapa ga nginep lagi" ucapnya lagi
"nanti yaa, besok ibu harus kerja" kataku
dokter andri hanya diam, bahkan lebih memilih tidak memperdulikan perbincangan aku dan langit kali ini, dia memilih meninggalkanku dan berjalan kearah kamarnya. kurasa dia hanya ingin aku menyelesaikan masalah ini sendirian.
sudah 1 jam lamanya, dokter Andri belum juga keluar dari kamarnya, aku yang sudah tidak tenang lantaran merasa tidak enak dengan semua orang yang berada di rumah ini, aku mencoba menghampiri dokter Andri di kamarnya.
"dok" aku mengetuk pintu kamar dokter Andri
"masuk" katanya
namun aku ragu untuk masuk kedalam kamar dokter Andri. aku memutuskan untuk menunggu dokter andri,dari balik pintu kamarnya.
sedetik kemudian dokter Andri membawaku kedalam kamarnya, dia hanya memakai celana pendek, tubuhnya yang masih sedikit basah menyentuh bagian tubuhku yang lain. dia memelukku dengan erat. aku hanya diam seribu bahasa, bahkan aku menahan nafasku.
semenit, dua menit, tiga menit.
dokter Andri melepas pelukannya, namun dia masih memegang pundak ku, dia menatap mata ku dengan memburu. aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan. namun aku pernah mengalami hal seperti ini, hal yang dulu pernah ku alami saat bersama gaga.
sedetik kemudian dokter Andri mencium bibirku, aku hanya diam, dan membiarkan dokter Andri melakukan hal yang dia inginkan. setelah itu, dia melepaskan ciumannya. dokter Andri meninggalkan aku sendri. jantungku berdegup kencang, namun ada perasaan kesal yang juga menyergap ku, aku benci hal hal yang membuat aku mengingat masa lalu ku, membenci diriku yang juga belum bisa berdamai dengan masa lalu ku, namun dokter Andri kini keterlaluan, apa yang membawanya lancang, berani mencium diriku, tanpa meminta persetujuan ku.
aku keluar kamar dokter andri, dan kaget bukan main langit sudah berada di depan kamar dokter andri.
"apa langit melihat ayahnya mencium ku?" gerutu ku dalam hati, ah semoga dia tidak melihat kelakukan ayahnya yang sembarangan mencium seseorang, yang bahkan dia bukan siapa siapa baginya.
"langit sejak kapan disini?" aku bertanya
"barusan bu, ayah mana bu? di depan ada nenek" katanya
aku menunjuk kamar ganti milik dokter andri, kamarnya sangat besar, bahkan mungkin sebesar rumah mungilku. kamar mandi, ruang ganti, meja kerja, sofa dan kasurnya tertata rapih, jika di sebelah kanan kasur ada sofa dan tv yang sangat besar, maka di sebelah kiri ada kamar mandi dan ruang ganti yang bersebelahan, meja kerjanya tepat menghadap jendela, rak buku yang tertata rapih, dengan buku yang besar bertuliskan bahasa inggris semua, kurasa dokter andri memang sangat pintar.
"nenek langit?" tanyaku memastikan
"iyah, nenek dari ayah" ucapnya sekali lagi
aku mencoba menarik nafas panjang panjang, mencoba mengontrol emosiku, juga mencoba berpikir jernih bahwa hal yang barusan tadi ku alami, ku anggap tidak pernah terjadi.
sedetik kemudian dokter Andri keluar dari kamarnya, kali ini dia sudah rapih, namun sikapnya berubah tidak seperti dokter andri yang ku kenal kemarin, dokter andri kini kembali seperti dokter Andri yang pertama kali kutemui di rumah sakit, dingin, sombong, dan pemarah. raut wajahnya sangat serius seperti telah terjadi sesuatu kepadanya. aku ingin bertanya untuk memastikan namun aku ragu, kurasa perubahan sikap yang kali ini dokter andri alami tidak lain tidak bukan karena ibu dari dokter andri datang berkunjung.
"langit ayo" katanya
dokter andri hanya menggandeng langit, bahkan tidak melirik kearah ku. dia lewat di depanku tanpa mengucapkan sepatah katapun kepadaku.
dadaku terasa sesak, jantungku seperti diremas sangat kencang, tenggorokanku sangat sepat, mataku panas, tanganku bergetar. perasaan apa ini, mengapa aku ingin menangis. aku kembali menarik nafas panjang panjang, mencoba mengontrol kembali irama suaraku, tenggorokkan ku terasa kaku, sulit sekali mengembalikan suara ku seperti sedia kala.
aku mengikuti langkah dokter Andri yang sudah lebih dulu meninggalkanku, saat aku sampai di tangga terakhir, semua mata tertuju kepadaku.
ada wanita paruh baya yang memakai baju biru dongker dengan setelan celana hitam, tangan kanan menjinjing tas berwarna senada, dan tangan kiri memegang sebuah kertas berukuran A4.
aku menunduk kan badanku kearah mereka, seperti menyapa ala orang jepang, wajah dokter andri sepertinya tegang, tekanan atmosfer ini sangat sulit ku netral kan, sangat kuat bahkan aku seperti terjebak di sebuah kotak kecil kedap suara.
"Andri, sudah berapa kali mamah bilang, berhenti bekerja dan mulai kelola rumah sakit" ucap wanita yang ku tebak, dia ibu dokter Andri
"mah, aku tidak berniat menjadi pengelola rumah sakit"katanya membantah
aku merasa aku tidak perlu berada disana, ini urusan internal dan aku tidak punya hak untuk bertahan di rumah dokter Andri
"kalau kamu tidak ingin menjadi pengelola rumah sakit keluarga ini, berarti kamu harus menikah dengan seseorang yang sudah mamah pilihkan untukmu"
"mah" ucap dokter Andri
aku melihat dokter Andri tidak berdaya, bahkan langit seperti ingin menangis, aku yang merasa iba tidak bisa berkata apapun, ada hal yang juga menikam hatiku. aku ingin berlari aku tidak ingin mendengar semua ini.
aku masih di atas tangga, kakiku ragu menuruni tangga terakhir, seperti ingin kembali ke atas, namun sudah tertangkap basah oleh semuanya.
ah masalah apa lagi ini?