Demam

1142 Kata
dokter Andri duduk diantara kami, mba Iyam babysitternta langit pergi meninggalkan kami ber tiga. "maaf anda siapa?" ucapku yang berlaga tidak mengenalnya. "apa kita belum kenalan?" tanyanya padaku "maaf saya tidak mau kenal anda" balasku "tidak kamu harus mengenalku, karena dimasa depanku harus ada kamu" ucapnya aku menatap dokter Andri dengan tatapan memburu, dimasa depanku, harus ada kamu? kurasa itu hal yang tidak boleh sembarangan di ucap. terlebih kepadaku yang notabennya telah terlanjur mencintai dokter Andri dan langit. bagaimana jika dimasa depannya tidak ada aku? meski ucapan itu hanya bercanda. bagiku sangat berat, jika aku tidak benar benar hadir di kehidupan dokter Andri seterusnya. "dokter" ucapku dengan mata yang membulat sempurna "Al, kita berjuang prihal nanti biar jadi urusan nanti!" katanya aku diam seribu bahasa, berat sekali pembahasan ini. aku sangat mencintai sosok di hadapanku ini, teramat sangat, dia hangat dia baik, dia bisa mengerti bagaimana aku. dan satu lagi dia hebat. tidak banyak orang yang tetap bertahan membesarkan anak sendiri seperti dokter Andri, atau sebenarnya dia sudah mencari namun tidak bisa menerima kenyataan bahwa dokter Andri adalah bapak anak satu. entahlah aku tidak tahu bagaimana kehidupan dokter Andri yang lalu. "langit ayo selesaikan makannya, ibu Alma udah waktunya kembali bekerja" ucap dokter Andri kepada langit aku tidak menoleh sedikitpun kearah dokter Andri, bahkan saat langit selesai makan aku mengantar langit ke mobil, lalu langsung pergi meninggalkan dokter Andri. ada hal aneh yang menyelimuti ku. kurasa ini berkaitan dengan Gaga? ah bagaimana bisa aku masih memikirkan seseorang yang sudah ku tinggalkan hampir satu tahun lamanya. aku dan langit semakin dekat, banyak hal yang kami lakukan bersama, bahkan hari mingguku harus ku habiskan bersama dengan langit, aku melakukan banyak hal yang pernah ku alami dulu bersama ibuku, aku menyayangi langit sebagaimana ayah dan ibuku menyanyangi ku dulu saat masih kecil, langit tidak lagi terlihat murung, kini dia ceria bahkan lebih aktif dari biasanya, kalian tahu? aku seperti dicintai olehnya. aku tidak ingin yang ku alami, langit alami juga.l malam senin pukul 01.00 ponselku berdering, aku yang sudah terlelap dalam tidur memaksa tanganku meraih ponsel yang berada di meja kecil di samping ranjang, aku mengangkat telfon itu, tanpa mengetahui siapa yang menelfon ku semalam ini. "alma, langit demam dia mengigau, dia mencari kamu" mataku langsung segar seketika, aku langsung duduk di pinggir ranjang. "langit dok? kenapa?" tanyaku panik "Al, aku kirim supir ke rumah mu tunggu! sebentar lagi sampai" katanya 10 menit berlalu, supir dokter Andri sudah sampai rumahku, aku langsung menaiki mobil dan bergegas menuju ke rumah dokter Andri, aku bahkan tidak sempat berdandan, tidak sempat bercermin entahlah bagaimana wujud ku kali ini. saat sampai rumah dokter Andri, dokter Andri sudah menungguku di depan rumah, wajahnya terlihat panik bahkan aku tidak pernah melihat dia seperti itu. "Al" aku buru buru memeluknya. "dok, jangan khawatir. langit baik baik aja" ucapku "aku takut, aku bahkan tidak berkutik Al" katanya "Dokter Harus kuat, ayo kita temui langit" ucapku aku dan dokter Andri masuk ke kamar langit, langit masih berbaring di temani mba Iyam di sampingnya. aku langsung duduk di samping langit, menggenggam tangan langit sembari mengecek suhu tubuhnya pakai punggung tanganku. "langit, ini ibu Alma, ibu udah di sini langit minum obat yaaa biar cepat sehat" ucapku langit langsung duduk dan memelukku, dia menangis sejadinya di pelukanku. "ibu temenin langit tidur baru langit mau minum obat" katanya aku mengiyakan permintaan langit, lalu langit langsung meminum obat yang sudah di sediakan dokter Andri sebelumnya. wajah dokter Andri sangat lega melihat langit mau minum obat penurun panas. aku mengisyaratkan semua untuk kembali ke kamar masing-masing termasuk dokter Andri, namun dokter Andri bersikeras tidur di ruangan yang sama denganku, hanya saja dia tidur di sofa, sedangkan aku dan langit tidur di ranjang yang sama. aku memeluk langit dengan erat dan mendongengkan dongeng yang pernah ku dengar dari ibuku, "princess mermaid" dongeng yang berulang ku dengar, sampai akhirnya aku menyukai dongeng yang ibuku ceritakan berulang ulang. pukul 02.30 aku melihat dokter Andri masih terjaga. dan langit sudah terlelap dalam tidurnya. aku mencoba menghampiri dokter Andri, membawakan selimut untuk dokter Andri supaya dia memakainya. namun aku ditarik dokter Andri untuk tidur di sofa yang sama. "Al terimakasih" ucapnya tangisnya pecah di punggungku, dia memelukku dengan erat, aku mencoba bersikap tenang rasanya dua manusia ini seperti anakku sendiri. dua duanya manja dan cengeng, sedikit sedikit terharu, sedikit sedikit menangis. "dok, tidur ya. aku mau ke langit lagi" tanganku melepas pelukan dokter Andri, lalu kembali ke ranjang yang sama dengan langit. esok paginya demam langit sudah turun, aku yang sudah bangun jam 6 pagi, langsung membantu bibi menyiapkan sarapan. aku membuatkan bubur untuk langit, dan membuat "omlete" untuk dokter Andri. jam 7 pagi aku kembali ke kamar langit, membangunkan dokter Andri untuk bersiap ke rumah sakit dan sarapan, dan membangunkan langit untuk sarapan serta minum obat. "dok bangun, sudah jam 7 pagi" ucapku sembari menggoyangkan tubuhnya "5 menit lagi" ucapnya sembari berganti posisi "bangun dok, udah kesiangan ini mau jam berapa berangkat kerja" ucapku "ini hari apa?" tanyanya "Kamis" "saya ada jadwal jam 9 pagi ko... "eh ko kamu Al" tambah dokter Andri yang langsung duduk di hadapanku "lah emangnya?" tanyaku "apa kita sudah menikah, ko kamu di rumahku" katanya "dok, masih mimpi ya, mandi gih" perintahku dokter Andri melihat kearah langit yang masih berbaring dengan babycooler penurun panas di jidatnya. "Oalah lupa, kan saya yang suruh kamu datang" "udah sadar, cepetan mandi, saya udah masak buat sarapan dokter di bawah" kataku dokter Andri mengiyakan, lalu pergi ke kamarnya. aku membangunkan langit dan mengajak langit untuk sarapan, abis itu minum obat. langit menuruti omonganku, untung untung belajar menjadi ibu yang baik dan benar untuk seseorang yang mungkin dilain waktu menjadi anakku juga. ah pemikiran macam apa ini, bagaimana bisa aku memikirkan hal yang rasanya mustahil sekali di gapai. "Bu, aku udah ga sakit lagi. tapi ibu jangan pulang ya" kata langit yang baru saja menyelesaikan makannya dokter Andri berdiri di depan pintu kamar langit, dia mendengar ucapan yang baru saja langit ucapkan. "ibu Alma harus kerja sayang" ucap dokter Andri kepada langit "saya sudah izin hari ini kalau saya tidak masuk" ucapku "di ACC?" tanyanya "iya, saya bilang mau ke Jakarta ketemu ayah" "Al maaf ya, tapi terimakasih" katanya kurasa dokter Andri yang paling senang, apapun alasannya mungkin karena aku bisa menemani langit yang sedang sakit. "Al aku berangkat ya, titip langit" ucapnya dia mencium kening langit, dan reflek mencium keningku juga. aku terdiam, langit tertawa melihat aku yang keheranan dokter Andri mencium kening ku juga. "maaf Al, reflek" katanya dia meninggal kan aku bersama langit. sedetik kemudian aku mengejarnya. "dok sarapan dulu" ucapku senyumku tidak bisa ku hilangkan dari wajahku, ada perasaan haru dan senang. jika aku benar jatuh cinta, maka jatuhkan aku pada seseorang yang tidak akan pernah meninggalkan aku dengan alasan apapun. jika aku jatuh cinta, maka jangan buat aku bimbang lagi atas masa laluku. Ya....... jika aku jatuh cinta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN