sembunyi

1134 Kata
setelah kejadian malam itu, langit sibuk sekali bertanya kepada dokter Andri bahkan setiap malam langit akan meminta ayahnya menelfon ku, hanya untuk mengucapkan "selamat malam dan semoga mimpi indah" jika sudah mengucapkan itu padaku, langit akan kembali ke kamarnya dan langsung tidur. dan kalian tahu? telfon nya tidak pernah di tutup oleh dokter Andri, begitupula aku. kami membiarkan telfon itu tetap dalam panggilan. kadang kami bergantian membuka obrolan, terserah apapun obrolannya kurasa sangat asik jika dibahas bersama dokter Andri. obrolan kami sangat random seperti : mengapa roda berbentuk bulat? mengapa motor bisa menyala? mengapa hujan datang selalu bersamaan? setelah itu kami akan mengobrol keseharian kami, sampai akhirnya membuat kami tidur larut, jika ada pertanyaan yang harus memilih benar dan salah, kami selalu mengklaim diri kami yang paling benar, mencari dan memberi masukan yang ku rasa diluar nalar, namun aku dan dokter Andri menikmati setiap detik yang berlalu. dan kalian tahu? kadang dokter Andri dengan sengaja mengunjungi ku tengah malam, dan membawakan ku makanan ringan. aku merasa kesal dengannya, kurasa untuk apa dia mengunjungimu tengah malam hanya untuk membawakan ku cemilan. padahal esok harinya dia harus bekerja sampai sore di rumah sakit. namun katanya, dia sangat menikmati setiap pertemuan singkat denganku. aku yang mendengar itu merasa aneh, karena aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. malam ini entah mengapa dokter Andri tidak menelfon ku, padahal sudah jam 8 malam, kurasa langit sudah mulai bosan mengucapkan selamat malam padaku, atau entahlah aku tidak tahu. aku ingin sekali menelfon nya, bukan karena aku ingin berbicara dengan dokter Andri, namun aku mengkhawatirkan langit. hehe maaf aku bohong, aku juga selalu merindukan perbincangan hangat dengan dokter Andri. tidak lama dari itu, sebuah nomer perdana baru masuk menelfon ku, aku ragu ragu untuk mengangkatnya. alasannya kalian sudah tahu, aku takut salah satu dari masalalu ku kembali menghubungiku. ah sialan. aku belum bisa berdamai dengan diriku dan masalalu ku. tapi aku mengangkat telfonnya. "ibu, ini langit ada di depan rumah ibu" katanya aku langsung membuka jendela kamarku, dan benar langit bersama dokter Andri berdiri di depan rumahku, aku membuka pintu lalu mengajak mereka untuk masuk kedalam, tapi dokter Andri menolaknya. "Bu aku dikasih tablet sama ayah, nanti aku telfon ibu pakai tabletku" katanya aku mencoba mensejajarkan tubuhku dengan tingginya. "langit telfon ibu silahkan, kapan saja" ucapku sembari mengelus rambut langit. "loh ayahnya juga mau di elus rambutnya" ucap dokter Andri "udah gede, jangan manja" kataku sedikit ketus "sejak kenal kamu, kayanya saya kembali muda deh" ucap dokter Andri lagi "hah?" "Iyah, aku sekarang 25 tahun loh" ucapnya "di tambah 10 yaaa dok" kataku meledek dokter Andri, aku tertawa terbahak langit juga ikut tertawa, dokter Andri tersenyum kearah ku "kamu terganggu?" tanya dokter Andri "apa?" tanyaku balik "kami datang ke sini?" tanyanya lagi "lebih sering ya dok, saya seneng!" ucapku "kamu seneng liat langit? atau seneng liat saya?" tanyanya "seneng liat dokter" kataku meledeknya "wah, besok besok bakalan lebih sering kesini, takut ada yang kangen" ucapnya sembari meledek ku "boleh saya tunggu" ucapku aku tersenyum kearahnya, dokter Andri juga tersenyum kepadaku. waktu menunjukan pukul 9 malam. tak terasa malam tiba, rasanya baru 5 menit aku mengobrol dengan dokter Andri dan langit, mengapa waktu cepat sekali berlalu. kurasa aku enggan sekali berpisah. tapi apalah dayaku, langit sudah waktunya untuk tidur. "bye Al" ucap dokter kepadaku "bye langit, hati hati dijalan" ucapku melambai ke arah langit yang duduk di samping kiri dokter Andri. "Al? Al? aku?" kata dokter Andri, sembari melambaikan tangannya kepadaku aku tidak meladeni dokter Andri, mencoba berusaha mengabaikannya. langit sudah terlelap, dokter Andri turun dari mobilnya. menghampiriku, jantungku berdetak sangat cepat, mata dokter Andri menatapku dengan lekat. aku berusaha untuk melihat kearah lainnya, namun senyum yang tersimpul di wajah dokter Andri, membuat aku menjadi candu. dokter Andri membawaku dalam peluknya. sedetik, dua detik, tiga detik ah hanya sekejap namun aku merasa hangat dipeluknya. "besok tidak ada drama nyuekin lagi, yang boleh nyuekin hanya saya" katanya sembari berlalu dokter Andri melepaskan peluknya, lalu kembali kedalam mobilnya. mobil dokter Andri berlalu, senyum yang mekar 10 menit yang lalu masih saja segar di wajahku, bagaimana bisa aku melupakan moment lucu yang dokter Andri lakukan kepadaku, banyak hal yang tidak bisa ku jelaskan jika berada di sampingnya, bahagia dan nyaman bercampur menjadi satu, dia benar benar bisa membuat siapapun yang berada di dekatnya merasa bahwa aku berharga. aku berhak bahagia dan aku berhak di jaga. jika boleh ku tanya? perasaan ini apa hanya aku saja yang rasa? sejauh yang sudah aku dan dokter Andri lalui, diantara kami belum pernah saling mengobrol. siapa aku? siapa dia? di hidup kita. lucu, banyak hal yang sudah berlalu dan tidak pernah sekalipun melangkah maju. aku kembali ke rutinitas ku, berangkat kerja main komputer, istirahat dan pulang. hanya satu yang berbeda, langit selalu makan siang bersamaku. sejak dia mempunyai ponsel pintar, dia lebih sering menghubungiku. anak itu sangat manis dan aku menyukainya. waktu menunjukan pukul 11.45 aku segera bersiap menemui langit di sebrang rumah sakit, di restoran biasa kami bertemu disaat aku beristirahat, langit sudah di sana bersama bibi yang waktu itu pernah ku lihat, saat pertemuan pertama dengan langit, bisa di bilang dia babysitter langit, kebutuhan langit semua dia yang penuhi. aku segera turun kebawah, dan ingin segera menemui langit, saat berpapasan dengan dokter Andri pun aku mengabaikannya. pokoknya rutinitas makan siang ku wajib ada langit. aku senang mendengar ceritanya, bagaimana dia di sekolahan, bagaimana keseharian dia dan ayahnya. aku menyukai semua hak yang dia ceritakan. "Al, bisa ke ruangan saya ngga?" tanya dokter Andri yang menghentikan langkah kakiku "maaf dok, saya sibuk" kataku aku tidak menoleh ke arahnya, langsung melanjutkan naik lift dan langsung bergegas keluar rumah sakit. dari kejauhan langit sudah melambaik ke arah ku, dan aku langsung menghampirinya, ternyata langit sudah memesan pesanan favoritnya, yaitu chiken katsu bento. dan sampai akhirnya aku juga menyukainya segala hal yang langit sukai. kami duduk saling berhadapan, sesekali aku menyuapi langit, sesekali "mbak" babysitter langit yang menyuapinya. kadang-kadang kami berbagi makanan jika makanan yang kami pesan berbeda. "ibu tau ngga, ayah di rumah melakukan kesalahan. dia lupa mematikan keran air di westafel. dan ibu tau? ayah tetep tidak mau mengaku, padahal sudah di cek di cctv, ayah bersikeras bilang, kalau ayah ketempelan setan" ucapnya sembari melahap makanannya aku tertawa terbahak. karakter dokter Andri banget yang tidak ingin disalahkan, tapi jika dia tidak begitu, aneh juga rasanya. . "langit tau? tadi ibu disuruh masuk keruangan ayah, tapi ibu tolak" kataku kami tertawa terbahak, rasanya lucu sekali main kucing-kucingan dengan dokter Andri. kami yang sedang asik berbincang, dibuat kaget dengan suara tepuk tangan yang menghampiri kami, lelaki itu tidak asing bagi kami berdua. aku dan langit reflek menyembunyikan wajah kami yang padahal sudah ketahuan oleh dokter Andri. "bagus ya kalian, ngomongin ayah di belakang" ucapnya sembari melangkahkan kaki mendekati mejaku kami mencoba mengabaikan dokter Andri, melanjutkan makan dan tidak menggubris dokter Andri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN