aku masih terisak, tidak mengerti alasan mengapa aku sampai sekhawatir ini, sedangkan dokter Andri masih bisa bersikap tenang bahkan teramat sangat tenang, kami berdua masuk kedalam rumah. mencoba berpikir, kemana yang sekiranya langit akan pergi jika dia sedang merasa marah. kami saling diam aku yang baru kenal langit beberapa hari yang lalu merasa awam prihal ini, pikiran ku pun merasa buntu, jika langit adalah aku maka aku akan berlari ke ibu ku, ya aku akan mengadu pada ibu ku. apapun yang ku alami. bercerita sambil menangis meski ibu tidak bisa mendengar ku, setidaknya aku bisa menghilangkan rasa sesak ku.
aku langsung menatap dokter Andri, kurasa jika langit adalah aku, maka dia hanya akan berlari ke makam ibunya.
"Dok, makam" kataku
dokter Andri langsung merespon pikiranku, Iyah benar kurasa langit sedang di makam ibunya.
"Al, ayo" katanya
aku dan dokter Andri segera menuju makam istri dokter Andri, dari penuturan dokter Andri, makam nya tidak jauh dari rumah, kami berlari melintasi 2 perempatan, pepohonan tinggi dan juga taman. dokter Andri berlari lebih dulu, sedangkan aku menyusulnya dari belakang, dari jauh aku sudah melihat anak kecil sedang duduk di salah satu pusara, langkah kaki ku melambat, aku rasanya tidak ingin menganggu kebersamaan mereka, aku melihat dokter Andri memeluk langit dengan erat, hatiku terasa teriris melihat pemandangan itu, rindu sekali rasanya aku pada ayah ku, namun apa yang bisa ku lakukan? iya, tidak ada. aku hanya bisa diam sampai rindu ini padam.
aku berhenti 5 langkah dari posisi dokter Andri dan langit, mencoba memahami posisiku yang seharusnya tidak perlu ada disini, aku mengusap air mataku, rasa cemas ku sudah dibayar lunas, waktu sudah lumayan gelap, aku melangkahkan kaki menjauh dari mereka berdua. namun dokter Andri memanggilku, dia mengisyaratkan aku untuk mendekatinya. aku pun mengiyakan.
"hari Selasa, kamu tahu? hari Selasa adalah hari lahir langit dan hari dimana Okta meninggal" katanya
dokter Andri melihat kearah pusara yang bertuliskan nama Marselina Okta Gayatri, aku hanya diam, membiarkan dokter Andri bicara sepuasnya.
"hari Selasa hari rutin aku menghabiskan waktu, untuk berdua dengan langit. kurasa aku masih sesekali merindukan sosoknya. merindukan bagaimana tawanya menghiasi hariku dahulu" katanya lagi
dokter Andri menatap wajah langit, lalu kembali memeluknya.
"mata langit sama indahnya seperti mata Okta, saya yang marah pada diri saya karena tidak bisa menyelamatkan Okta, akhirnya perlahan terselamatkan oleh langit" ucapnya.
dokter Andri beranjak, dia mengandeng langit dan menghampiriku.
"Ayah, nona ini yang kemarin menemaniku di rumah sakit" kata langit kepada dokter Andri.
dokter Andri melihatku, dia diam sejenak sebelum akhirnya kembali bicara.
"yang kamu maksud malaikat, adalah bu Alma?" kata dokter Andri kepada langit
dokter Andri memanggilku Bu. kurasa agar langit juga memanggil diriku dengan sebutan Bu, kurasa aku lebih baik di panggil ka, mba, atau apalah yang sekiranya pantas untuk ku.
"Iyah ibu ini, dia baik dan cantik" kata langit lagi
"sudah bilang terimakasih?" tanyanya
"sudah ayah"
"baiklah, abis ini ayah teraktir makan di tempat kesukaan langit ya" ucap dokter Andri.
Melihat mereka berbincang membuat aku merasa lega, setidaknya langit bisa menghilangkan perasaan yang tadi membuat langit menangis di pusara ibunya. aku pikir orang tua langit adalah orang tua yang tidak bertanggung jawab, pasalnya ketika si anak keracunan mengapa tidak satu pun yang datang mengkhawatirkan dia. setelah melihat adegan ini, aku merasa sedikit mengerti hari hari berat yang harus dokter Andri lalui selama ini. Dia seorang diri merawat dan menjaga anak semata wayangnya.
ah aku bahkan merasa iri kepada langit
kami berjalan bergandengan tangan, adegan yang hanya bisa ku lihat di TV kini aku sendiri yang mengalaminya, kurasa lucu aku yang hanya orang asing, mengapa bisa masuk di kehidupan seseorang sedalam ini. aku bahkan belum memastikan, aku ini siapa untuk seseorang yang, setiap kali menyebut namanya sering membuat aku tersenyum.
"Al, kamu ikut" katanya
"ikut kemana dok?" tanyaku
"ikut kita makan, kamu sudah terlanjur banyak tahu tentang aku dan masa lalu ku?" katanya
"semua orang dirumah sakit tahu tentang dokter Andri ko, cuma aku yang ga tau" kataku
"orang RS tahu aku menikah, tidak ada yang tahu istriku meninggal" katanya
"dokter umi?" kataku
"dia tahu, karena ikut andil menemani istriku" ucapnya
aku terdiam, kurasa benar aku terlalu lancang masuk di kehidupan seseorang yang bahkan aku tidak tahu. siapa aku untuk dirinya. atau siapa dia untuk diriku. kurasa aku hanya perlu membiarkan semuanya berjalan sesuai rel saja.
kami bertiga naik di satu mobil yang sama, langit duduk di belakang, aku duduk di samping dokter Andri. kami berbincang hangat.
saat sampai di hokbin kami turun kemudian masuk dan langsung memesan makanan.
kami duduk menghadap jendela, banyak motor dan mobil hilir mudik di hadapan kami, perasaan bahagia semacam ini pernah kurasakan dulu, dulu sekali saat ibu dan ayahku masih saling mencintai, masih saling bersyukur karena saling menemukan. entah sejak kapan akhirnya ayah jarang pulang, komunikasi dirumah menjadi sangat dingin, bahkan kurasa ibu dan ayahku sudah tidak sekamar lagi.
aku pikir mereka baik baik saja, ternyata mereka tidak baik baik saja. aku baru mengerti ketika ibuku meninggal, tidak sekalipun iba ayah ku terhdap ibuku. bahkan dia datang dihari ke 3 ibuku tiada. kamu tahu? aku yang masih belia harus mengurus segalanya sendiri. tuhan tidak adil kurasa. mengapa hanya aku yang terluka. mengapa?
kamu tahu? cinta pertamaku dan patah hati pertamaku. yaitu kepada ayahku. ayah yang ku banggakan. ayah yang ku kagumi sekaligus ayah yang paling ku benci.
"Ibu" langit memanggilku
aku menghadap ke arahnya.
"aku tidak pernah tahu bagaimana cantik dan baiknya ibuku, kurasa ibuku persis yang selalu ayah ceritakan padaku, dia baik, dia cantik, dan galak" katanya
"langit, langit harus sering berdoa buat ibu langit, biar ibu langit bahagia di surga" ucapku
dokter Andri hanya melihat ke arahku, tersenyum. aku bahkan tidak tahu senyum itu artinya apa.
kami menyantap makanan di meja, berbincang hangat. langit terlihat sangat mengantuk, lalu kami memutuskan pulang, kali ini langit duduk bersamaku, karena dia sudah benar benar mengantuk.
"Al, maaf karena tidak bilang dari awal tentang status ku?" katanya
aku menatap dokter Andri lalu kembali menatap ke arah lainnya.
lagi pula apa urusanku hingga harus mengetahui segala, seluk beluk dokter Andri, namun memang sangat menyakitkan, saat kita mengetahui sebuah rahasia. dan bahkan kita mengetahuinya paling akhir. kurasa semua orang di kantorku tahu bahwa dokter Andri duda dan mempunyai anak. kurasa iya, hanya aku saja yang tidak mengetahui apapun. namun syukur dia menjelaskan padaku dengan rinci, meski kurasa apa penting baginya?
apa dokter Andri merasa aku yang paling dekat dengannya? maka dia tidak ingin aku menjauhi dia. dari hal yang sudah terjadi kurasa dokter Andri menyukaiku.
tidak masalah bukan? jika aku merasa percaya diri. ah sudah. biarkan semua berjalan sesuai alurnya.