Chapter 4

1192 Kata
Kepalaku terasa sangat berat, entah apa yang terjadi tetapi aku seperti sedang berada di sebuah kendaraan yang berjalan. Aku mencoba menyadarkan diri, membuka mata perlahan dan melihat ke samping. Seorang cowok yang aku kenal, namanya Ken. Kenapa dia ada di dalam mobilku? “Fir, udah bangun?” tanyanya. “Hmm … kita mau kemana?” tanyaku. “Aku mau anter kamu pulang.” “Sekarang jam berapa? Aku ada ujian besok.” “Masih jam dua, ini udah mau sampai. Aku pakek GPS yang ada di mobil ini buat bisa temuin rumah kamu.” “Makasih.” “Oke, dan ini rumah kamu.” Aku melihat ke depan, dan memang benar … gerbang tinggi dan tertutup itu adalah rumahku. Aku meraih ponsel yang ada di dalam tas, aku menelepon asisten rumah untuk membuka pintu gerbang. “Ya sudah, aku pulang ya?” “Kamu pulang pakai apa?” tanyaku. “Gampang.” “Bawa aja mobil ini, gapapa. Aku masih ada mobil lain buat besok, biar besok mobilnya diambil sama sopir aku,” jelasku padanya. Aku hanya ingin berterima kasih dan tidak ingin melihat dia malam-malan berjalan kaki mencari ojek. Beruntung dia menerima tawaranku, dan akhirnya aku membuka pintu untuk keluar dari sana. “Aku masuk, kamu buruan pulang ya!” “Oke, makasih.” “Aku yang makasih.” Setelah aku masuk, langkah kaki langsung saja menuju ke dalam kamar. Dan aku merebahkan diri di atas ranjang tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu. Keesokan paginya … Kedua mataku terasa masih sangat berat, aku menyuruh asisten rumah untuk menyiapkan semua perlengkapan sekolah selama aku berada di dalam kamar mandi. Tidak hanya itu, aku juga menyuruh sopir untuk bersiap mengantarkanku. “Bi, udah siap semua?” tanyaku. “Sudah, Non. Tadi pagi ada telepon dari Tuan. Katanya lusa ada kunjungan.” “Hmm, ya.” Aku sangat malas jika mendengar kunjungan dari Papa. Bukannya aku ingin menjadi anak yang durhaka, tentu tidak. Aku hanya malas jika sedang berdebat dengannya. Apalagi dia sangat ingin aku tinggal bersama Paman Lee yang jelas-jelas tidak pernah aku kenal. Itulah kenapa ikatan keluarga sangat penting, dan aku bahkan tidak mengenali semua keluarga besar dari Mama dan Papa. Pendaftaran di Universitas yang aku mau telah selesai dilakukan sebelum aku ujian sekolah. dan pengumumannya akan keluar beberapa hari lagi. Aku sangat tidak sabar untuk bisa segera pergi dari rumah ini. Mencari suasana baru adalah impianku, karena sudah cukup untukku terperangkap di sini selama belasan tahun. Semua telah siap, dan aku kini berjalan menuju ke halaman depan. Aku masuk ke dalam mobil dan menunggu sopir untuk segera mengemudikan mobil menuju ke sekolah. “Non, tadi ada temen yang dateng. Katanya mau anterin, tapi gak lama ada telepon, dia bilang nggak jadi.” “Siapa?” “Cowok, pakek mobil Non yang kemarin.” “Oh … biarin aja, Pak.” Mobil melaju menuju ke sekolah, aku membaca buku untuk belajar. Ya … meski otakku sangat jenius, aku masih harus membaca ulang untuk beberapa materi. “Non, nanti pulangnya dijemput atau mau pulang sama Non Laura?” “Nanti saya telepon ya, Pak?” “Baik, Non.” Tanpa sadar, ternyata mobil sudah masuk ke dalam halaman sekolah. Aku pun segera turun dari mobil, lalu berjalan menuju ke kelas. Ada banyak orang yang berlalu lalang, mereka juga sedang berjalan masuk ke gedung SMA untuk mengikuti ujian sekolah. “Fira!” seru seseorang. “La, baru dateng juga?” “Iya.” Aku dan Laura berjalan bersama menuju ke kelas. Kebetulan kami ada di dalam satu kelas yang sama. “Ra, semalem kamu kenapa? Ken tanya ke aku alamat rumah kamu.” “Eh? Dia bilang pake GPS dari mobil, gak taunya tanya kamu?” “Iya, emang kalian lagi ngapain, untung aja aku masih bisa buka mata jam satu itu.” “Nanti aja aku ceritain ya! Sekarang kita masuk ke kelas dulu.” Setelah berada di dalam kelas, aku dan Laura duduk di bangku masing-masing. Tidak lama setelah itu, ada seorang penjaga kelas datang dan membagikan soal ujian pada kami. “Waktunya enam puluh puluh menit ya! Jangan ada yang mencontek.” “Ya, Bu.” Ujian terakhir, dan aku akan lepas dari sekolah ini. Tidak terasa, selama tiga tahun sudah aku menjalani hari-hari masa remaja di sekolah yang selalu memiliki banyak kontroversi ini. Tidak sampai setengah jam aku menyelesaikan ujian, aku berdiri dan memberikan hasil ujianku pada pengawas di kelas. Aku melirik kea rah Laura, dan tersenyum. Saat sampai di kantin, aku mengira aku adalah orang pertama yang keluar dari dalam kelas. Tapi, ternyata tidak. Ken sedang duduk dengan meminum soda di sudut kantin, di atas meja juga sudah ada gelas lain , dan makanan yang sangat aku suka. “Fir, udah selesai?” tanya Ken. “Udah.” “Duduk! Aku udah pesen ini buat kamu.” Tanpa sadar aku berjalan mendekati Ken dan duduk di depannya. Aku mantap Ken dengan tatapan penuh tanda tanya. Bagaimana dia bisa tahu makanan dan minuman yang aku suka? “Kamu stalkingin aku?” tanyaku. Aku mengira dia akan marah, tetapi ternyata tidak. Ken tertawa kencang dan menjelaskan dari mana dia tahu mengenai makanan dan minuman itu. “Ini, Laura yang kasih tahu.” “Kamu kayaknya jauh lebih dekat dengan Laura ya?” “Aku dekat karena aku butuh dia buat informasih mengenai kamu.” “Licik sekali anda. Kenapa tidak bertanya pada orangnya langsung?” “Karena … aku ingin menjadi sebuah kembang api, yang bisa mengejutkan dengan tampilan biasa, dan akan menjadi luar biasa pada saat seseorang menghidupkannya.” Aku tertegun mendengar ucapannya, siapa sangka cowok ini bisa mengeluarkan kiasan yang membuatku terdiam. Aku tersenyum dan meraih gelas berisi strawberry smoothies. “Besok mau ke sekolah nggak?” tanya Ken. “Engg … nggak tau, kenapa?” “Bukannya besok ada pengumuman siapa aja yang lolos masuk ke UGM?” “Eh … besok? Bukannya masih beberapa hari lagi?” “Enggak, besok udah ada pengumuman.” “Oh … kalo bisa bangun pagi deh … aku dateng.” “Ya udah.” Tidak lama setelah itu, Laura terlihat berjalan mendekati aku dan Ken. Dia duduk tepat di sampingku dan meraih makanan yang ada di atas meja. “Ra, kok kalian jadi deket sekarang?” tanya Laura. “Emang Fira belum kasih tahu?” tanya Ken. Aku hanya mengeryitkan dahi dan menunggu perkataan selanjutnya. “Apa?” “Aku dan Fira udah jadian sejak kemarin.” “Hah? What the! Apaan heh … gak ada aku terima kamu jadi pacar!” protesku secara langsung. “Emang aku bilang aku butuh persetujuan kamu buat jadian?” celetuk Ken. “Ih … si Bambang yak! Enak aja, kagak ada!” protesku lagi. “Namaku Ken. Bukan Bambang. Kamu lupa?” “Udah stop! Kalian udah kayak Tom dan Jerry. Tengkar mulu, tapi aslina cocok,” sahut Laura yang mendapatkan tepuk tangan dari Ken. “Tuh kan! Temen kamu aja bilang kita ini cocok.” “Bodo amat!” “Ra, kalau kesel … makanan sama minumnya buat aku aja ya?” sahut Laura. “Mana ada! Beli sendiri sana!” balasku. Ken kembali tersenyum, dan memang aku akui … senyumannya itu sangat manis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN