Pengumuman untuk peserta yang lolos dan bisa melanjutkan kuliah di UGM sudah diumumkan. Kebetulan ada teman yang memberitahu aku jika aku diterima di sana. Tidak perlu lagi untuk ke sekolah, jadi hari ini aku akan langsung berpesta dengan teman-teman di kelab malam.
Hari ini aku hanya ingin bermalasan di rumah, tidak ingin menghiraukan panggilan telepon maupun tamu yang datang ke rumah.
“Sudah aku putuskan … aku harus menjadi ratu malam ini,” gumamku sembari memilih pakaian yang akan aku kenakan untuk acara pesta.
Aku memilih satu dress mini berwarna hitam dengan gemerlap batu Swarovski, tidak hanya itu … dress yang akan aku kenakan memiliki belahan pada bagian depan, sehingga membuatku terlihat sangat menarik perhatian malam ini.
Tok
Tok
Tok
Ceklek
“Non, Tuan menghubungi anda. Tapi –“
“Bilang sama Papa, aku ada acara malam ini, dan aku nggak ada waktu buat denger omelan,” jelasku.
“Bukan begitu, tapi Tuan udah kasih tahu kalau ada pertemuan dengan teman bisnis dan Tuan akan memperkenalkan Nona pada salah –“
“Cukup! Ujung-ujungnya pasti dijodohin kan? Aku males nanggepin yang kayak begitu.”
Mengerti dengan apa yang aku katakan, asisten rumah itu pergi dari kamar ku dan kembali ke dapur. Sementara itu, aku masih sibuk mempersiapkan diri dengan merawat tubuh.
Sudah cukup lama aku tidak merawat tubuhku sendiri. Dengan lulur, dan scrub membuat kulit tubuhku yang kering menjadi lembab. Tidak hanya itu, aku juga menggunakan masker pada kulit tubuhku agar terlihat lebih cerah dan juga kenyal.
Selain tubuh, aku juga menggunakan skincare rutin agar wajah remajaku ini tidak terlihat seperti tante-tante yang lagi nunggu brondong di pinggiran Mall.
“Oke ini cocok kayaknya,” ujarku saat memilih eyeshadow, dan juga lipstick.
Setelah itu, aku melanjutkan kegiatanku di dalam kamar mandi dan membilas tubuhku yang masih terdapat masker.
Usai dengan semua rutinitas perawatan tubuh dan wajah. Kini aku bersiap untuk hadir ke acara pesta yang diadakan anggota di dalam kelab malam. Langkah kakiku pun keluar dari kamar dan menuju ke garasi mobil.
“Oke, buat mala mini aja aku pakek Lambo,” ujarku.
Selama perjalanan, aku hanya fokus pada jalan raya yang terlihat padat. Di sana ada banyak sekali orang-orang yang akan mulai mengunjungi tempat wisata malam, seperti café, kelab, dan beberapa taman yang buka pada malam hari.
Mobilku berhenti di parkiran basement. Aku turun dari sana dan seseorang menyapaku.
“Ra, astaga! Cantik banget,” ucap Keisha.
“Hai, kamu juga cantik loh.”
“Yuk masuk! Katanya sih anak-anak udah pada dateng,” ujar Keisha.
“Yuk!”
Kami berjalan berdua ke dalam kelab. Dan saat sudah berada dalam, dentuman music dari DJ membuat tubuhku bergoyang mengikuti irama. Bersama teman-teman, aku mengucapkan selamat pada mereka yang sudah diterima di Universitas yang popular.
“Ra, aku belum lihat Ken. Emang dia nggak datang?” tanya Putri.
“Entah, aku sendiri nggak bawa hape, sengaja biar nggak ada yang ngacoin pesta.”
“Oke deh.”
Di satu meja, aku dan lima temanku sedang mengelilingi meja. Dan ada sebuah gelas kecil berisi cairan yang bisa membuat melayang. Dengan bersorak, kami semua meminumnya bersama.
“Sukses buat kita semua!” seru kami.
Sampai beberapa gelas aku tenggak, kepalaku mulai terasa berat. Tidak biasanya aku seperti ini saat minum. Aku memutuskan untuk mencari tempat duduk, dan menunggu sakit di kepala ini reda.
“Ra, udah mabok aja.”
“Enggak, aku kecapekan beberapa hari ini,” jelasku beralasan.
“Ya udah, kamu di sini aja dulu. Aku mau sapa yang lain.”
“Oke.”
Di sisi lain, aku tidak bisa meminta bantuan pada siapapun. Ponselku ada di dalam mobil, dan mereka yang ada di sini adalah cowok yang tidak bisa aku percaya. Aku bangkit dari posisiku, dan berjalan menuju ke kamar mandi.
“Ra, tadi aku dateng lihat ada Ken di area parkir, aku pikir dia udah temuin kamu.”
“Hm? Ken? Enggak ada. Awas minggir aku mau –“
“Astaga! Kamu mabuk?”
“Howek!”
“Ra, ya ampun. Gimana ini, aku panggil Koko ya?”
“Jangan, jangan dia. Udah! Aku gapapa.”
“Tapi, Ra.”
“Beneran, kamu lanjut aja pestanya. Aku bentar lagi juga baikan.”
“Oke deh.”
“Howek!”
Sungguh sangat sial, aku harus segera pergi dari tempat ini sebelum ada yang datang dan memanfaatkan kondisiku. Perlahan aku melangkah untuk sampai di basement dengan diam-diam.
“Huft … akhirnya bisa sampai di sini.”
Baru saja aku berada di sana.
“Kenapa kuncinya nggak mau masuk?” gumamku kesal.
Aku lupa … ini mobil pakai remote, bukan kunci. Ya … dan aku terduduk di samping mobil dengan tubuh lemas.
Tetapi, dari kejauhan aku melihat ada seseorang yang mendekati aku.
“Fir, astaga! Kamu nolak buat datang makan malam cuma buat mabuk?” tanyanya.
Makan malam?
Sepertinya cowok di depanku sedang mabuk juga, aku tidak memiliki janji untuk makan malam bersamanya. Tetapi, kini dia menggendong tubuhku untuk dimasukkan ke dalam mobil. Aku ingin sekali memberontak, tetapi sayang … tenagaku seakan menghilang begitu saja.
Entah sudah sampai di mana sekarang, tubuhku terasa melayang. Hingga aku mendengar seseorang menekan tombol untuk membuka pintu.
“Aku ada di mana?” tanyaku.
Tidak ada jawaban, cowok ini membawaku kemana dan untuk apa?
Aku ingin sekali melepaskan diri, tapi tiba-tiba saja tubuhku sudah berada di atas ranjang. pandangan mataku menjadi buram, wajah cowok itu masih belum jelas, tapi suaranya seperti aku kenal.
“Uhm … aku haus, air.”
Saat itu juga ada segelas air yang diberikan padaku.
“Fir, kamu belum sadar?”
“Kamu siapa?”
“Fira … aku Ken.”
“Ken? Kita ada di mana? Apa kita ada di rumahku?”
“Enggak, kita ada di apartemen punyaku.”
“Aku ingin pulang.”
“Dengan kondisi seperti ini? Kau bisa menjadi bulan-bulanan Papa-mu.”
“Kau benar, izinkan aku tidur di sini mala mini. Selamat malam.”
“Fir!”
***
Apa yang sebenarnya terjadi?
Kenapa aku merasa ada yang aneh pada tubuhku?
Sepertinya ada sesuatu yang masuk ke dalam area terlarang milikku. Seketika aku membuka kedua mataku dan melihat Ken sudah berada di atas tubuhku dengan tanpa mengenakan apapun.
“Ken!”
“Udah bangun?”
“A-apa yang –“
“Jangan salah paham dulu, kamu yang udah mulai ini duluan. Aku cuman mau bantu kamu yang merengek sejak tadi.”
Mendengar penjelasannya yang tidak masuk akal, membuat aku kesal.
“Aku nggak mungkin minta hal kayak gini ke kamu!”
“Lalu ini apa? Fir, nanggung. Punyaku udah mau keluar. Tahan bentar marahnya!”
“Ap – ahh … Ken, stop it!”
Tubuhku menggelinjang, aku ingin sekali melepaskan diri. Tetapi kenapa rasa aneh ini seperti candu.
“Ahh … Ken, cukup!”
“Belum, Fir. Bentar lagi.”
Ken menggerakkan pinggulnya dengan cepat, membuat sesuatu berkali-kali menghantam dinding rahimku. Bibirku tidak bisa berhenti untuk tidak mendesah, tangan Ken juga berpegang pada gundukan kenyal milikku.
‘Astaga! Salahkah ini? Pesta untuk pelepasan masa sekolah, juga sekaligus menjadi pelepasan keperawananku?’
Entah sudah berapa lama Ken melakukannya, dan akhirnya dia mengeluarkan cairan kental miliknya di atas perutku. Cairan itu berwarna putih, dan lengket. Aku merasa ingin memuntahkan isi perutku saat melihatnya.
“Kok ada darah? Fir, kamu –“
“Ya, selamat … kamu berhasil melakukannya. Cepat minggir atau aku muntahin ranjangmu ini!”
Ken beranjak dari atas tubuhku dan menyingkir ke sisi lain. Aku berjalan menuju ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu. Perlahan aku membersihkan diri, hingga tanpa sadar aku sudah menangis di sana.
“ARGH!”