Chapter 6

1279 Kata
Aku sedang mengemas pakaian untuk dibawa ke Jogja, hari ini aku akan berangkat ke kota pelajar untuk melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi. Sudah dua minggu setelah kejadian itu. aku bahkan tidak menerima pesan atau telepon dari Ken. Ya … aku memilih untuk membuang semua termasuk ponsel lamaku. Di depan rumah, sudah ada Laura yang akan mengantarkan kepergianku ke bandara. Laura terlihat sedih, itu wajar … kami sudah sangat dekat sejak masuk SMA. Hanya Laura yang bisa menjadi teman sejatiku. Dimanapun, dan kapanpun … Laura selalu bisa menenangkan aku. Aku menarik tas koper dari lantai dua menuju ke ruang tamu. Laura menatapku dengan tersenyum kecut. Sepertinya dia sangat tidak rela jika kehilangan sahabatnya ini. “Kenapa? Asem amat muka kamu,” ujarku. “Lagian kenapa Jogja sih, kenapa nggak di sini aja sama aku?” tanya Laura. “La, semua orang punya cita-cita dan tujuan yang berbeda. Mungkin kali ini kita sudah memiliki perbedaan itu. Tapi, aku nggak akan pernah lupa sama kamu. Jangan lupa buat hubungin aku di sosmed ya? Aku belum sempat beli hape dari kemarin” “Iya.” Aku tersenyum lalu memeluk Laura sekilas. Kami pun ke luar dari rumah dan masuk ke dalam mobil milik Laura. Mobil melaju dengan perlahan menuju ke bandara. Laura terlihat fokus pada jalanan di depannya. “Ra, kamu jadi stay di rumah Om kamu?” tanya Laura. “Enggak … aku udah dapet kost di sana, ada yang bantu cariin kemarin,” jelasku. “Owh, gitu … jadi … kalau nanti aku ke sana, ajakin keliling ya!” “Siap!” Ya … aku memilih hidup sendiri, aku muak dengan kehidupan yang sudah diatur oleh Papa. Sejak kepergian Mama karena dia, aku bahkan tidak pernah hidup tenang. Tempat tinggal yang berpindah-pindah, orang baru, dan segalanya tidak ada yang sama. Beruntung saat SMA aku memiliki Laura, karena dia … aku bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki teman yang sesungguhnya. Tanpa aku sadari, mobil milik Laura sudah memasuki area bandara. Kami pun turun dari sana dan berjalan menuju ke pintu masuk. “Ra, inget aku terus ya?” “Iya, kamu itu special. Jangan kapok punya temen kayak aku.” “Hahaha … iya.” Setelah memeluk Laura, aku masuk ke dalam untuk meletakkan tas koper besar ini di dalam bagasi pesawat. Aku melihat sekeliling, sepertinya penerbangan masih lama. Aku memutuskan untuk membeli minuman dan camilan di café yang memiliki ikon hijau. Duduk seorang diri, dan menatap ke beberapa sudut. Di sana terlihat jelas, ada banyak sekali orang yang akan bepergian dan pasti mereka adalah orang sibuk. “Kenapa kamu menghindari aku?” Pertanyaan itu membuat aku terkejut, tiba-tiba saja cowok yang selama ini aku hindari ada di hadapanku. Duduk dengan wajah seriusnya, dia bahkan memegang tanganku agar aku tidak pergi dari sana. “Fir, jawab aku!” tanya Ken. “Ka-kamu … kenapa bisa ada di sini?” “Kamu pikir aku nggak tahu kapan kamu berangkat ke Jogja? Inget Fir! Aku juga kuliah di sana!” “Sial banget sih.” “Apa?” “Enggak ada apa-apa. Sekarang apa yang kamu mau dari aku? Apa masih kurang saat itu?” “Fir, astaga! Aku khawatir sama kamu selama ini, dua minggu kamu nggak ada di rumah kan? Kamu di mana? Aku tanya Laura, tapi dia sendiri nggak jawab.” “Pentingkah keberadaanku? Bukannya cowok biasanya memilih menghindar setelah mendapatkan apa yang mereka mau?” tanyaku. Ken terlihat marah, dia menatapku dengan tajam. Dan Saat itu aku melihat sebuah ketulusan. Aku pun berpikir, apa kali ini aku akan mendapatkan seseorang yang tulus, seperti Laura yang berteman denganku tanpa melihat kekayaan orang tua. Aku masih terdiam, aku bahkan tidak bisa berkata lagi. Entah kenapa, mulutku seperti lengket dan tidak ingin terbuka. “Fir, jawab aku!” “A-aku … aku takut, Ken.” “Takut? Apa yang kamu takutkan? Fir, aku bener-bener suka sama kamu, aku melakukannya karena aku nggak mau kamu dimiliki orang!” Deg … Jantungku seperti tersengat listrik, mendengar ucapan Ken. Benarkah yang sudah dikatakan? Tidak lama setelah itu, penerbanganku harus berangkat. Aku berdiri dan berjalan menjauhi Ken. Aku hanya berkat untuk memberikan waktu. Aku pun duduk di kursi pesawat, tepatnya di samping jendela. Aku bisa melihat semua dari sana. menikmati pemandangan, aku tersenyum dan merasa bangga dengan diriku sendiri. Tetapi, semua lamunanku buyar karena Ken duduk di sampingku. “Kenapa kamu ada di sini?” tanyaku. Ken tidak menjawab, dia hanya menunjukkan tiket dan nomor duduknya. Aku terdiam dan memilih untuk mengabaikannya. “Fir, kamu milikku. Dan aku sudah menganggap kita ini sepasang kekasih. Aku tidak memerlukan persetujuanmu untuk meresmikan hubungan kita.” “Entahlah … seakan sedang bermimpi bisa mendapatkan berlian dengan mudah. Kehidupanku yang kelam, ada banyak orang yang memperhitungkannya.” “Aku tidak peduli dengan masalalu, aku hanya peduli dengan masa depan yang akan kita jalani berdua. Aku harap, kamu bisa berjalan bersamaku untuk maju.” “Ken … kenapa kamu seperti ini?” “Aku hanya menepati janji.” “Janji?” “Ya … janji.” Entah janji apa yang dimaksud Ken saat ini. bahkan dalam ingatanku tidak ada kata janji dengan seseorang selama ini. Aku mencoba mengerti dengan ucapan Ken. Sampai akhirnya pesawat mendarat di kota gudeg. Aku berjalan di depan Ken dan mengantre untuk mengambil koper. Tapi, saat sedang menunggu … aku melihat Om sedang berdiri di depan pintu keluar. “Sial! Kenapa Om ada di sini? Siapa yang kasih tahu sih!” gerutuku. “Fir, ada apa?” tanya Ken. “Ini lagi satu, astaga! Sial amat nasib aku. Ah … gimana bisa lolos dari Om.” Tiba-tiba saja aku merengek dan Ken hanya tersenyum. “Mau aku bantu?” tanya Ken. “Nggak mau!” “Ya udah, koperku udah ada, aku keluar duluan ya, Fir.” “Eh … kok pergi gitu aja? katanya pacaran, kok ninggalin?” ucapku pada akhirnya. “Apa? Pacaran? Bukannya kamu –“ “Kan kamu sendiri yang bilang tadi, lupa? Mau aku puter rekamannya di neraka?” Ken tersenyum, lalu dia menarik aku menuju ke kamar mandi. “Apaan ini?” “Pakai baju aku.” “Kegedean ini.” “Udah pakai aja, kamu kan pinter kalo buat bikin fashion.” Aku menerima pakaian Ken, dan mengenakannya di dalam kamar mandi bandara. “Ini … gini aja, terus ini begini. Lagian punya badan gede amat sih.” Kacamata … dan topi juga masker … sudah seperti seorang artis yang menghindari wartawan. Aku keluar dari kamar mandi dan mendekati Ken lagi. “Nah kan, cocok. Ya udah, sekarang ikut aku ke luar dari sini tanpa ketahuan. Jangan bikin orang curiga sama kamu, jalan kayak biasa aja.” “Iya.” Akhirnya aku dan Ken berjalan keluar dari bandara. Kami selamat sampai di sebuah area parkir. “Makasih, aku pergi dulu.” “Eits! Siapa suruh kamu pergi? Kamu nggak tinggal di rumah Om kan? Jadi kamu harus tinggal sama aku.” “What? Eh … mana bisa!” “Jangan ribut di sini, ingat Om kamu masih ada di sana.” “Ken, aku udah ada tempat tinggal sendiri.” “Aku nggak peduli, sekarang ikut aku!” Ken menarik tanganku dan masuk ke dalam mobil. “Ini mobil siapa?” tanyaku. “Aku nyuri.” “Hah?” “Mobil aku dong, Sayang.” “Sa – apaan?” “Mulai sekarang, kamu harus terbiasa manggil aku Sayang, Babe atau terserah deh.” “Eh … harus gitu?” tanyaku. “Iya.” “Kita tinggal di mana?” “Rumah aku ada di Kaliurang, nggak jauh kok dari kampus. Itu rumah aku sendiri, jadi … kita bakal tinggal di satu rumah kayak pasangan yang –“ “Terserah.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN