Chapter 7

1363 Kata
Saat ini aku ada di rumah Ken yang ada di daerah Kaliurang. Entah ini benar rumah milik dia, atau hanya permaianan saja. Aku meletakkan tas koper di sudut kamar. Dan seperti yang aku duga, Ken juga tidur di dalam kamar yang sama denganku. Betapa murahnya diriku saat ini, hanya karena masalah dengan Om dan Papa, aku harus tinggal dengan cowok yang … entah seperti apa. Aku baru mengenal dia beberapa bulan, dan saat ini … kami sudah ada di satu atap yang sama. Tuhan maafkan aku karena sudah menjadi manusia yang bodoh. Beruntung aku tidak memiliki ponsel untuk saat ini, sehingga aku tidak bisa dihubungi oleh Papa dan Om. Cukup nyaman juga ternyata tidak ada yang meneror lewat dering ponsel. “Sayang, pakaian kamu nanti ada di lemari itu, dan punyaku ada di sini.” “Hm? Oke.” “Oya, di bentar lagi ada Mbok Ina yang dateng buat beresin rumah. Dia asisten rumah ini sejak aku masih sekolah, da nada Pak Jono yang jadi sopir juga tukang kebun di sini. Mbok Ina dibantu sama anaknya Leli untuk membersihkan rumah. Mereka datang pagi dan pulang sore.” “Oke, I got it.” “Ya udah, aku mau ke bawah dulu. Aku mau rapiin ruang kerja.” “Iya.” Tiba-tiba saja Ken mendekat dan mencium keningku, hampir saja aku terjatuh karena berusaha menghindar, tapi tangan Ken dengan cepat meraih pinggangku dan menarik ke dalam pelukannya. “Kamu bisa mandi habis ini, kita jalan setelah selesai beres-beres,” ujar Ken. Aku hanya bisa mengangguk dan kembali melanjutkan kegiatanku di kamar. Setelah selesai dengan kegiatan di dalam kamar itu. Kini aku menyiapkan beberapa lembar data untuk mengurus pembayaran dan juga mengambil almamater kampus. UGM atau kepanjangan dari Universitas Gadjah Mada adalah kampus yang kedua setelah Universitas Indonesia. Kampus ini memiliki kriteria tinggi dan juga sangat bergengsi dikalangan anak remaja yang ingin melanjutkan pendidikan di sini. Aku mengambil jurusan Pariwisata, karena saat pendaftaran memang jurusan inilah yang ada di bagian atas, setelahnya ada Sastra Inggris dan juga Sastra Jepang. Entah kenapa aku sangat menyukai jurusan ini, meski saat SMA aku ada di jurusan IPA. Pariwisata mencangkup semua bahasa yang sangat aku suka, dan juga di sana ada beberapa mata kuliah yang aku gemari, seperti Etiket dan lainnya. Akhirnya semua selesai dengan rapid an tertata seperti yang aku mau. Sekarang perutku sudah sangat lapar ingin diisi. Aku pun berjalan ke luar dari kamar menuju ke lantai satu rumah itu. Ya … aku rasa rumah itu terlalu besar untukku dan Ken. Karena memiliki banyak sekali kamar kosong dan juga rumah ini sangat sunyi dan sepi. “Ken?” panggilku. Tidak ada jawaban dari Ken, sampai aku mendengar ada suara dari satu ruangan yang ada di samping tangga. Aku berjalan perlahan untuk mendekati ruangan itu, dan samar aku mendengar Ken sedang menghubungi seseorang. “Iya, saya mengerti. Baik … terima kasih.” “Ken?” “Hm? Udah selesai?” “Udah.” “Bentar, aku masih kurang dikit.” “Iya … ini … ruang kerja beneran? Kamu … kerja juga nantinya?” tanyaku ingin tahu. “Iya dong, kan sekarang ada kamu dikehidupan aku, jadi aku harus giat nyari uang juga buat kamu.” “Eh … kamu kerja di mana?” tanyaku. “Perusahaan Papa. Udah sejak SMA sih, makannya aku jarang terlihat di kelas, itu karena aku sering izin untuk rapat atau mengurus perusahaan di sini,” jelas Ken. Ada banyak sekali tentang dia yang tidak aku tahu. Namun, entah kenapa … sepertinya tidak dengannya. Dia seperti memiliki semua informasi mengenai aku. Entah siapa dia sebenarnya. “Sayang … ada apa?” tanya Ken. “Aku laper, di dapur ada makanan nggak?” “Karena kita langsung ke sini, kayaknya nggak ada bahan makanan deh. Kita keluar makan, sekalian belanja gimana?” tanya Ken. “Boleh.” “Ya udah, aku siap-siap dulu.” Setelah Ken menyelesaikan kegiatannya di sana, kini kami pergi ke luar dari rumah dan pergi menuju ke sebuah restoran yang ada di jalan Kaliurang, dekat dengan kampus UGM. “Besok aku harus ke kampus, uhm … aku bisa pinjem mobil atau kendaraan lainnya?” tanyaku yang merasa tidak enak saat meminjam. “Sayang, kamu ini kenapa sih … ngapain pinjam? Ada banyak mobil di garasi, kamu bisa pilih satu. dan … karena kita ada di satu kampus yang sama, aku mau antar jemput kamu.” “Aku lupa tanya, kamu masuk UGM jurusan apa sih?” “Bisnis Management.” “Owh.” Tidak lama setelah itu, mobil Ken berhenti di depan restoran dan kita turun bersama untuk masuk ke sana. Aku dan Ken duduk di sudut ruangan. Ken memesan makanan untuk kami, dan dia tidak bertanya padaku makanan yang aku mau, tapi … apa yang dia pesan … adalah makanan yang aku suka. “Sayang, kok kamu masih panggil nama aku? Kan aku sudah suruh kamu panggil –“ “Aku belum terbiasa, nanti juga kalo udah terbiasa bakal panggil.” “Hmm.” Setelah itu, Ken mengeluarkan ponsel dan seperti mengirim pesan pada seseorang. Sedangkan aku sendiri masih terdiam dengan pandangan mata yang mengedar diseluruh ruangan. “Sayang, makan dulu. Jangan melamun!” ujar Ken. “Iya.” Kami makan bersama, dan hingga kegiatan itu selesai. Ken kembali bertanya padaku mengenai dimana ponselku saat ini. “Sayang, kok kamu nggak ada hape? Emang kemana?” “AKu buang.” “Why?” “Karena aku nggak suka aja, aku bosen.” “Hmm.” Selesai dengan kegiatan di sana, aku dan Ken pergi ke sebuah supermarket untuk berbelanja kebutuhan rumah. Dan aku merasa kami seperti pasangan pengantin baru yang sedang berbelanja bersama. Astaga! Apa ini? aku merasa sedikit geli jika mengingat hal ini. Di dalam supermarket, aku dan Ken berbelanja banyak sekali kebutuhan rumah, dan bahan makanan yang bisa disimpan di dalam lemari pendingin. Sampai akhirnya troli belanjaan kami penuh, Ken hanya bisa tertawa melihat aku yang sangat senang saat bertemu dengan merek sosis dan nugget yang sedang viral. Ken bahkan memborong makanan itu hanya untuk aku, dan entah kenapa dia lebih seperti seorang suami yang sayang istrinya, hah … dasar gila aku ini! “Ken, udah semua?” tanya Fira. “Udah, kita bayar dulu.” Berjalan menuju ke kasir, tiba-tiba saja ada seorang cewek yang sepertinya terburu-buru hingga menabrak Ken sampai jatuh. “Maaf … maafin aku, aku terburu-buru,” ujar cewek itu sembari membawa pembalut di tangannya. “Lain kali hati-hati dong!” ucapku. Aku membantu Ken untuk berdiri, dan kami kembali mengantre di kasir. “Totalnya dua juta empat puluh lima lima ratus, Kak.” Ken membayar semua dan kini kami kembali ke mobil untuk menuju ke rumah. “Udah nggak ada yang mau dibeli?” tanya Ken. “Udah, balik rumah aja sebelum aku khilaf habisin uang kamu,” jawabku dengan tersenyum. “Hahaha, kamu habisin? Emang bisa?” “Jangan sombong, aku kalo udah belanja, harta kamu bisa habis nanti.” “Nggak apa-apa kalo kamu mau habisin, lagian harta masih bisa dicari dengan kerja. Kalo kamu … nggak bisa dicari kalo udah lepas,” ujar Ken yang akhirnya membuat pipiku memerah. Mobil melaju perlahan dan menyusuri jalanan di kota gudeg itu. Sampai kembali di rumah besar milik Ken. Aku membantunya untuk menurunkan semua barang yang sudah dibeli. Bersama Mbok Ina yang sudah Ken beritahukan padaku keberadaannya, dan anaknya yang bernama Leli, juga Pak Jono yang tidak lain adalah suami Mbok Ina. “Aku memperkenalkan diri pada mereka, dan berharap mereka bisa menjadi teman saat aku ada di rumah itu.” “Mas, ini pesanannya tadi,” ujar Leli sembari memberikan sebuah bingkisan. “Makasih.” “Hm?” Ken memberikan bingkisan itu padaku. “Apa?” tanyaku. “Buka aja.” Saat aku membukanya, ternyata isi di dalam bingkisan itu adalah sebuah ponsel baru. “Kok? Kamu boros banget sih Ken!” omelku. “Boros buat kamu nggak masalah, lagian yang punya uang aku , kenapa kamu yang nggak rela?” “Iya, sayang aja gitu … kan bisa beli besok-besok.” “Besok kamu mulai ke kampus, terus … gimana caranya aku bisa hubungi kamu kalau enggak ada hape?” Masuk akal … dan aku menerimanya dengan tersenyum lebar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN