Mama Rara terlihat begitu khawatir pasalnya sudah pukul sebelas malam, anak sulungnya itu belum juga pulang kerumah. Apalagi tadi saat mama Rara menghubungi security kantor, ia pun mengatakan bahwa bosnya itu sudah pergi dari kantor pukul enam sore.
"Ma, Raffa itu sudah dewasa kenapa cemas seperti ini sih, ini baru jam sebelas malam Ma, belum jam dua pagi." Papa Agha pun berucap santai beliau lalu kembali memainkan gawai miliknya.
Mama Rara masih terlihat mondar-mandir di depan itu, bahkan sesekali mengintip dari jendela menunggu kedatangan anak sulungnya itu. "Semua orang tua pasti khawatir Pa, kalau anak mereka belum pulang kerumah," sahut mama Rara cemas. "Mana Abang, Mama telepon nggak aktif lagi Pa." Mengalah mama Rara pun akhirnya menjatuhkan dirinya duduk di samping sang suami. Menyadarkan kepalanya di pundak kokoh suaminya itu.
Papa Agha pun langsung mengusap punggung sang istri dengan lembut seraya berkata. "Apa yang sebenarnya Mama khawatirkan, hmm?" Papa Agha berucap lembut mencoba mencari tahu apakah gerangan yang membuat istrinya itu selalu khawatir pada ketiga anaknya, terlebih saat mereka pulang kerumah lebih dari jam sepuluh malam.
Mama Rara pun mendongakan kepalanya. "Pa, mama cuman nggak mau apa yang--"
Suara pintu terbuka pun sontak mengejutkan kedua pasangan suami-istri itu, mereka langsung melihat ke arah sumber suara. Di mana Raffa sang anak sudah berjalan mendekat.
Raffa pun terlihat menggelengkan kepalanya heran. "Papa sama Mama kalau mau mesra-mesraan kan bisa di kamar, kenapa harus di ruang tamu sih?" Ucap Raffa lalu mengulurkan tangannya mencium tangan kedua orangtuanya dengan takzim. Satu hal yang mama Rara selalu tekankan pada ketiga anaknya, bersikap sopan dan santun pada siapapun itu. Terlebih pada seseorang yang usianya jauh lebih tua darinya.
"Abang dari mana baru pulang?" Tanya mama Rara hendak berdiri, namun pergelangan tangannya cepat di tahan oleh papa Agha, hingga mama Rara pun tetap pada posisi semula.
"Abis nganterin Queen pulang ke rumahnya Ma. Aku masuk kamar dulu, Pa, Ma." Raffa lalu membalikan badannya dan hendak berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Abang?" Mama Rara berucap sedikit berteriak, "Besok bawa Queen kesini ya Bang. Mama mau kenalan." Betapa senangnya Mama Rara saat tahu anaknya sudah mulai dekat dengan makhluk yang bernama wanita itu. Beliau pun merasa lega karena apa yang dibicarakan orang lain tentang anaknya selama ini tidak benar adanya.
"Stt-- Mama jangan teriak-teriak, nanti semua para pekerja terbangun." Papa Agha pun mengingatkan sang istri, beliau lalu menggenggam tangan Mama Rara mengajaknya untuk masuk ke dalam kamar. Mama Rara pun mengangguk lalu menuruti perintah suaminya itu.
"Mama udah nggak sabar mau ketemu Queen, kata Rachel sekretaris barunya Abang cantik banget lho Pa," sepanjang perjalanan menaiki anak tangga Mama Rara pun terus mengoceh membahas tentang sekretaris baru anaknya itu, dan menurut informasi yang mama Rara dapat Queen ini lulusan terbaik di kampusnya. Sudah pintar cantik pula. Siapa yang tidak mau memiliki menantu seperti dia, meski mama Raffa belum melihat secara langsung seperti apa Queen tapi beliau yakin Queen ini adalah seorang wanita baik-baik.
"Iya, besok kita suruh Abang ajak Queen kesini. Sekarang sudah malam lebih baik kita tidur dulu Ma," Papa Agha mendorong pelan daun pintu itu, mengajak sang istri untuk masuk ke dalam untuk beristirahat mengingat waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam lewat tiga puluh menit.
() () ()
Pagi ini Queen kembali menuruti permintaan bos barunya itu, dengan menggunakan style pakaian kerja yang beda dari biasanya. Kemeja dan celana panjang berwarna cream membungkus penampilan indahnya kali ini, Queen terus mematut penampilan di cermin. Ini perubahan paling ekstrem yang Queen pernah lakukan entah ada sihir apa seolah semua perkataan yang Raffa lontarkan pun tak bisa ia bantah, bahkan perkataan kedua orangtuanya pun tak pernah Queen turuti yang meminta anaknya untuk berpakaian lebih sopan.
"Queen ini beneran, Lo?" Tanya Ayu sesaat setelah keluar dari toilet, wanita itu lalu memegang pundak Queen memutar tubuhnya meneliti penampilan Queen kali ini yang dinilai beda dari biasanya.
Queen pun mengangguk malam. "Nggak like banget, si bos nyuruh gue ganti baju mulu," ujar Queen malas lalu merapikan kembali rambutnya yang berwarna coklat bergelombang itu.
Ayu pun mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagu seraya berpikir. "Padahal baju Lo dua hari kemarin udah sopan banget ya Queen, nggak kayak waktu Lo pertama kali datang kesini." Ayu pun terkekeh pelan kala mengingat tentang penampilan Queen yang terlihat hot and sexy itu, dimana seluruh karyawan pria selalu menatap Queen dengan tatapan lapar dan haus yang begitu kentara.
Queen mengangkat bahunya sekilas. "Entahlah, gue juga heran." Queen mengambil tas kerjanya yang ia taruh di dekat wastafel. "Masuk yuk, si bos keburu datang nanti." Setelah mengucapkan hal itu Queen berjalan perlahan menuju ruang kerjanya, sementara Ayu mengikuti langkahnya dari belakang.
Sebelum memulai aktivitasnya Queen pun memilih membuatkan segelas espresso untuk bosnya itu, sesuai titah sang bos tempo hari. Semenjak Queen mengetahui ruang rahasia milik bosnya itu wanita itu pun kini bebas keluar masuk ke ruangan itu dengan persetujuan Raffa tentunya.
"Ehm," Raffa berdehem saat melihat penampilan Queen yang beda dari biasanya, ia yang baru saja masuk pun dibuat terkejut dengan pemandangan indah di depannya ini.
Queen yang baru saja menaruh secangkir espresso di meja pun menoleh. "Eh, Pak Raffa sudah datang, silahkan diminum Pak," Queen menunduk hormat saat melihat bosnya itu tengah berjalan melewati dirinya.
"Ya, terima kasih." Jawab Raffa singkat, lalu mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya itu.
Queen pun tersenyum tipis. "Baik Pak, kalau begitu saya permisi." Queen hendak membalikan badannya namun lagi-lagi suara Raffa mengentikan langkahnya.
"Queen?" Panggil Raffa dengan nada yang begitu tegas, bahkan kini pria itu terlihat serius dengan kedua tangan yang saling bertautan yang ia letakkan di bawah dagu.
Queen pun menoleh seketika. "Ya Pak? Ada apa?" Tanya Queen cepat, mau tak mau ia pun menatap wajah tampan atasannya itu.
"Saya suka style pakaian kerja mu kali ini." Raffa pun terlihat menjeda ucapannya sebentar. "Kamu terlihat sangat cantik dengan pakaian tertutup seperti ini." Sudut bibir Raffa pun terangkat membentuk sebuah senyuman.
Bola mata Queen tampak mengerjap lucu, apa yang baru saja diucapkan bos nya itu, membuat Queen melongo. Bukan bahagia atau pun bangga saat dipuji cantik pada penampilannya tapi hati kecil justru mengeram kesal mendengarnya.
"Ya salam, bos gue selera gini amat sih. Pakaian gombrong-gombrong begini. Apa tadi kata dia cantik dengan pakaian tertutup seperti ini? Fix ini selama gue masih bekerja di tempat ini, gue bakal terus di suruh pakai baju model begini. Ya Tuhan kuatkan lah hati ku." Gerutu Queen jengkel dalam hati, Queen yang biasa berpakaian sexy pun harus mengalah dan menuruti perintah bosnya itu, demi sebuah pekerjaan yang diimpikan kedua orangtuanya.