Posesif

1069 Kata
"Jadi orang tua kamu nikah karena di grebek warga?" Raffa bertanya penasaran setelah mendengarkan cerita Queen tadi. Queen pun menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal. "Ya, nggak gitu juga kali Pak konsepnya." Wanita itu pun terlihat menjeda ucapannya sebentar. "Pokoknya Papa sama Mama nikah tuh karena kesalahpahaman yang terjadi." Lebih baik Queen mengatakan hal ini karena ia tidak mau bosnya itu berpikiran yang tidak-tidak pada kedua orangtuanya Raffa pun mengangguk paham. Pria itu lalu melirik sekilas jam mewah yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Saya pamit pulang Queen," pamit Raffa dan hendak beringsut dari duduknya namun perkataan Queen berhasil membuat Raffa mengurungkan niatnya. "Ada apa Queen?" tanya Raffa lalu menaikan sebelah alis matanya. "Diminum dulu Pak teh hangatnya." Queen pun melakukan hal yang sama menyesap sedikit demi sedikit teh hangat itu. Raffa pun melakukan hal demikian, setelah di rasa cukup ia pun kembali pamit karena waktupun sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat tiga puluh menit. Queen yang paham pun langsung berdiri dan berjalan menuju ruang tengah dimana papa Amri dan mama Anin berada saat ini. "Pa, Ma, bos aku mau pamit pulang." Ucap Queen saat berdiri tepat di samping kedua orangtuanya yang tengah bermesraan itu. Mama Anin pun menjadi kikuk, beliau lalu melepaskan rangkulan tangan sang suami pada pundaknya. "Sudah mau pulang Sayang?" Tanya mama Anin lalu berdiri dan berjalan menghampiri anak semata wayangnya itu. "Udah Ma, ayo Pa keluar sebentar bos aku mau pamitan." Ucapnya lalu membalikan badan dan berjalan duluan bersama sang mama. Raffa yang melihat kedatangan kedua orang tua Queen pun langsung langsung berdiri dari duduknya dan menunduk hormat. "Om dan Tante, saya minta maaf jika Queen hari ini pulang larut malam karena memang pekerjaan di kantor sedang padat sekali." Pria itu memang terlihat sangat gentleman saat mengucapkan hal itu Raffa merasa bertanggungjawab saat mengajak Queen hingga malam seperti ini dan lebih membuat kedua orangtua Queen menjadi khawatir. "Nggak apa kok Mas eh Pak, kan perginya jelas sama Pak bos." Kali ini mama Anin yang menjawab dengan senyuman manis yang terus mengembangkan di bibirnya. Perlakuan mama Anin barusan sontak membuat papa Amri menjadi kesal, beliau lalu mencolek gemas lengan sang istri. "Mama jangan senyum-senyum gitu, ngomongnya kan bisa biasa aja." Bisik papa Amri lirih tapi sepertinya masih bisa didengar oleh mereka. Queen yang melihat sikap sang papa yang mulai posesif pun langsung berkata. "Ayo Pak saya antar keluar." Bukan bermaksud mengusir hanya saja Queen tak ingin bosnya itu melihat tingkah konyol papa Amri yang selalu cemburu jika mama Anin berbicara dengan lawan jenisnya. Raffa pun mengangguk. "Baiklah kalau begitu saya pamit pulang, Pak, Bu." Pria itu menjawab tangan papa Amri sopan begitupun dengan mama Anin, setelahnya Raffa pun berjalan beriringan bersama Queen menuju halaman depan, tempat di mana mobilnya terparkir rapi. Sementara itu papa Amri terlihat tengah menaruh kedua tangannya berkacak pinggang. "Mama apa-apaan sih pake senyum-senyum gitu sama bosnya Queen," papa Amri tidak terima saat melihat istrinya itu memberikan senyuman pada pria lain. Mama Anin pun menggelengkan kepalanya heran, beliau lalu memilih melangkah menuju kamar. Dua puluh tahun membina rumah tangga membuat mama Anin sudah paham betul sifat posesif suaminya itu. "Mama seneng aja Pa, liat bosnya Queen masih muda gitu masih gagah." Kekeh mama Anin berniat menggoda sang suami, tadinya mama Anin pikir bos Queen itu sudah berumur tapi pada kenyataannya bos anaknya itu terlihat muda, tampan nan gagah. Persis seperti tokoh novel yang sering mama Anin buat. Netra papa Amri pun membeliak seketika saat mendengar ucapan sang istri sang memuji pria lain, pria berusia lima puluh tujuh tahun itu pun langsung berjalan tergesa menyusul langkah sang istri. "Apa mama lupa? Papa ini anggota kepolisian lho dulu, tentu saja papa lebih gagah dan tampan dari bosnya Queen itu," papa Amri pun tidak terima kala sang istri terlihat mulai tertarik pada pria lain. Mama Anin yang sudah berdiri di depan pintu kamar pun menoleh. "Itu dulu sebelum perut papa jadi bulat begitu." Tunjuk mama Anin pada perut sang suami yang terlihat sudah mulai membuncit itu, beliau lalu tertawa kecil dan berjalan masuk kedalam kamar. Papa Amri pun sontak melihat kebawah dan benar saja kini perutnya memang sudah seperti seorang ibu yang tengah hamil sembilan bulan. Beliau pun mendesah kasar sambil mengusap perutnya lembut, sepertinya mulai besok papa Amri memutuskan untuk berolahraga membentuk kembali tubuhnya agar terlihat gagah seperti dulu lagi. Sementara itu kini Queen sudah berada di depan rumahnya mengantar Raffa, bos barunya itu. "Terima kasih ya Pak, sudah mengantarkan saya sampai rumah." Queen berucap sopan, ia lalu mendudukkan sedikit kepalanya menghormati atasannya itu. "Ya, sama-sama," jawab Raffa singkat dan padat, ia lalu memutari kap mobil dan membuka pintu kemudi tak lama pria tampan itu pun sudah berada di dalamnya. "Queen?" Panggil Raffa lagi sebelum menyalakan mesin mobilnya. "Ya, Pak ada apa?" Tanya Queen lalu mengerutkan keningnya bingung, ada apa gerangan Raffa memanggilnya lagi. "Jangan pakai rok dan kemeja seperti itu lagi besok saat bekerja. Saya tidak mau kamu menjadi pusat perhatian karyawan pria di kantor." Raffa terlihat meneliti penampilan sekretaris pribadinya itu dari atas hingga bawah secara berulang, pria itu lalu menggelengkan kepalanya heran Queen ini kerap di beri tahu agar tidak berpenampilan sexy di kantor tapi sepertinya perkataan Raffa tak pernah di indahkan. Tak tahukan Queen bahwa penampilan wanita itu berhasil membuat semua karyawan pria menatapnya dengan tatapan mata yang sulit di artikan. Dan Raffa tidak menyukai hal itu ia tidak suka jika ada pria lain yang menatap Queen terlalu lama. Queen mengerjapkan matanya saat mendengar penuturan bos barusan, ia lalu melihat penampilan dirinya. Cukup sopan bahwa untuk setelan kerja yang sering digunakan bisa dibilang ini yang paling sopan, dengan rok span di bawah lutut lima centi dengan kemeja berwarna cream yang size nya terlihat kebesaran itu. Lalu di mana salah Queen hingga harus mengganti lagi model pakaiannya? Queen pun tak habis pikir dengan jalan pikiran bos barunya itu. Haruskah ia memakai pakaian serba panjang semua esok saat berangkat bekerja. "Baik Pak, siap laksanakan," sahut Queen cepat, untuk saat ini biarlah ia mengalah ia mengalah dan mengatakan 'ya' pada setiap titah yang pria itu ucapkan. Mendengar jawaban Queen yang terlihat menurut pada ucapannya membuat Raffa pun menjadi senang, pria itu lalu tersenyum tipis dan tak lama Raffa pun mulai melajukan mobilnya perlahan meninggalkan halaman rumah Queen. "Argh … pakai ini salah, pakai itu salah. Terus gue harus pakai baju kayak apa ke kantor besok!" Gerutu Queen sebal dalam hati, Ia lalu menghentak-hentakkan kakinya kesal ke tanah dan langsung berjalan masuk ke dalam rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN