Pekerjaan Queen hari ini benar-benar melelahkan, ia harus menyusun ulang jadwal meeting yang sudah di buat oleh sekretaris bos nya yang dulu, di tambah beberapa tumpukan dokumen yang tidak berada pada tempatnya membuat Queen kesulitan dalam menemukannya.
"Capek bener hari ini, gila aja tuh sekretaris apa yang dia kerjain selama ini. tumpukan dokumen aja dijadiin satu kek nasi pecel campur-campur." gerutu Queen kesal dalam hati.
Queen lalu mendudukan dirinya di atas kursi. mengangkat kedua tangan nya keatas dan menggeliat pelan. "Lelah nya," ucap Queen lirih, tak lama ia melirik sekilas kearah jam tangan di tangan kirinya. betapa kagetnya Queen karena waktu telah menunjukan pukul tujuh malam.
Queen pun langsung Membersihkan tempat kerja yang sedari berserakan kertas-kertas yang tidak terpakai, setelah itu ia pun bergegas meninggalkan meja kerjanya.
Tak lama terdengar daun pintu berwarna coklat pun terbuka sepenuhnya.
"Queen?" panggil Raffa saat melihat punggung sekretaris pribadinya itu.
"Astagfirullah, Bapak ngagetin saya aja sih!" Queen lalu membalikkan badannya seketika. ia terkejut saat mendegar suara bariton yang khas milik bosnya itu. sebab tadi yang Queen tau bosnya itu sudah keluar kantor tepat pukul enam sore. Lalu kenapa sekarang tiba-tiba bosnya itu sudah ada disini.
sungguh, tiba-tiba pikiran Queen menjadi ketakutan saat ini.
"Bapak bukan nya tadi udah pulang?" tanya Queen penasaran, ia lalu mengikuti langkah kaki Bosnya itu dari belakang.
"Ada beberapa berkas penting yang ketinggalan, untuk itu saya datang lagi kesini." Raffa memberi penjelasan. "Kamu baru pulang?" Raffa balik bertanya, kini mereka berdua sudah masuk ke dalam lift.
Queen pun mengangguk. "Iya Pak, saya nyusun dokumen dulu tadi." ujar Queen lalu mengambil ponselnya yang bergetar di dalam saku blousenya itu. Queen tertawa kecil saat membaca beberapa chat lucu dari grup keluarga besarnya. sampai Queen melupakan seseorang disampingnya yang sedari tadi selalu memperhatikan seluruh gerak-gerik Queen.
Denting lift pun berbunyi dan pintu lift pun terbuka, kini mereka berdua sudah berada di lantai paling bawah, ya lantai basement tempat dimana terparkir dengan rapih kendaraan semua karyawan. Hening tidak ada percakapan diantara keduanya. mereka sibuk dengan urusan masing-masing. hingga Queen yang sadar pun menoleh. "Mari Pak, saya duluan." Pamit Queen sopan pada atasannya itu, setelah ia tiba tepat di depan mobil berwarna merah itu.
Raffa hanya mengangguk sebagai jawaban, ia lalu berjalan menuju mobil mewahnya yang ia parkiran tak jauh dari pos security.
"Sial mobil pake bocor lagi ban nya, mana udah malem gini." gumam Queen dalam hati.
Queen terlihat berjalan mendekat kearah pos security mencari bantuan. "Pak maaf bisa tolong saya?" ucap Queen pada seorang kepala security yang ia kenal. Iya Pak Jo namanya.
Pak Jo pun menoleh. "Eh Bu Queen, baru pulang Bu?" sapa Pak Jo ramah. beliau lalu beringsut dari tidurnya. "Ada yang bisa saya bantu Bu?" tanya Pak Jo sopan.
"Saya mau minjem hape Bapak boleh?" ucap Queen ragu-ragu. ia ingin memesan aplikasi mobil online. saat mengetahui ban mobilnya yang kempes Queen memutuskan untuk pulang kerumah menggunakan mobil online, dan sialnya di saat yang bersamaan pula ponselnya mati karena kehabisan daya.
Pak Jo mengangguk, beliau lalu mengambil ponsel itu di sakunya dan memberikannya pada Queen. belum sempat Queen menerima ponsel tersebut tiba-tiba suara bariton itu kembali mengangetkan dirinya.
"Queen ikut saya pulang!" satu kalimat keluar begitu saja dari bibir tebal bos tampannya itu. "Saya tunggu kamu di mobil!" tanpa menunggu jawaban Queen, Raffa kembali masuk kedalam mobilnya.
sejujurnya sedari tadi Raffa tak langsung pulang. ia sengaja menunggu sekretaris pribadinya itu untuk keluar basement dulu, dan benar saja dugaan Raffa bahwa saat ini Queen belum juga pulang lantaran ban mobilnya yang kempes. Tanpa menunggu lama Queen pun lalu berjalan mengikuti langkah sang bos dari belakang, dengan tak lupa mengucapkan terimakasih pada kepala security itu.
Queen pun menutup pelan pintu mobil mewah itu, ia lalu mendudukkan dirinya di samping kemudi. "Makasih Pak, maaf merepotkan." ujar Queen saat melihat Raffa mulai melajukan kendaraannya.
"Iya sama-sama." jawab Raffa singkat tanpa menoleh sedikitpun.
"Tolong turunin saya di halte depan ya Pak, saya mau naik taxi aja Pak." pinta Queen sopan. tentu Queen tau diri, tak mungkin ia meminta bosnya itu mengantarkan dirinya sampai depan rumah.
Mendengar penuturan Queen barusan Raffa pun menoleh sekilas. "Alamat rumah mu masih yang dulu kan, Queen?" tanya Raffa tanpa berniat meninggalkan Queen di halte bus, sesuai permintaan Queen barusan.
Queen tercengang apa benar bosnya ini mau mengantar nya sampai depan rumah, tidak mungkin Raffa hanya basa-basi saja, begitu pikir Queen. "Nggak usah Pak, saya turun di halte depan aja." Queen pura-pura menolak niat baik bosnya itu.
"Alamat rumahmu masih yang kemarin, kan?" tanya Raffa sekali lagi, kali ini nada bicaranya terdengar tidak bersahabat.
Queen pun akhirnya mengalah, ia lalu mengangguk dan mengatakan bahwa di sanalah memang rumahnya dan sampai kapanpun tidak akan pernah pindah.
setelah melakukan perjalanan hampir tiga puluh menit, kini mereka sudah sampai didepan rumah bercat hijau bolu pandan itu.
rumah minimalis nan asri itu yang Raffa tangkap saat melihat di sekitar rumah itu di tumbuhi beberapa tanaman hias dan pepohonan.
"Makasih ya Pak, maaf merepotkan." tak lupa Queen pun mengucapkan terimakasih, atas kebaikan bos barunya itu.
"Iya sama-sama," jawab Raffa datar dan cuek.
"Kalau gitu saya turun dulu Pak, sekali lagi makasih Pak." ucap Queen lalu membuka perlahan pintu mobil berwarna silver itu dan langsung menutupnya.
"Queen dari mana saja kamu baru pulang?" suara tegas pria paruh baya itu membuat Queen dan Raffa terkejut. mereka lalu menoleh tepat kearah sumber suara.
"Dari kerja lah Pa," jawab Queen tanpa rasa bersalah, ia lalu menutup pelan pintu mobil bosnya itu. namun belum sempat itu terjadi sang Papa pun kembali bersuara.
"Turun kamu!!!" titah Papa Amri pada pria tampan yang baru saja mengantar anaknya pulang.
"Saya Pak?" tunjuk Raffa pada dirinya sendiri.
Papa Amri pun mengangguk. "Iya kamu! bawa pulang anak perawan saya malam-malam begini." Dari nada bicaranya terdengar tidak ramah, bahkan kini Papa Amri tengah melingkarkan kedua tangannya di atas pinggang.
Mata Queen membelalakkan seketika, mau apa juga Papa Amri ini menyuruh atasnya untuk turun, pasti Papa Amri ingin menginterogasi bos barunya itu. "Papa, dia itu Bo---"
"Kamu ya, Papa bilang jangan kelayapan malam-malam Queen, pulang kerja tuh pulang dulu. itu Mama kamu nungguin sampai malam begini. mana hape aku di telpon nggak aktif," omel Papa Amri panjang lebar. "Bikin khawatir orang tua aja." ucap Papa Amri lalu menghela nafasnya berat.
Akhirnya mau tak mau Raffa pun ikut turun dan masuk kedalam rumah Queen.
di ruang keluarga tengah menunggu seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya yang terbilang tidak muda lagi.
Ya, wanita itu ialah Mama Anin, ibu kandung Queen.
"Queen kamu dari mana aja baru pulang?" tanya Mama Queen khawatir, ia lalu mengelus lembut punggung sang anak.
Queen pun mengembuskan napasnya kasar. "Aku kerja lah Ma, ini baru pulang." ujar Queen kesal. Mama Anin selalu seperti ini, selalu panik dan khawatir kalau Queen pulang kerja telat sedikit saja.
salah Queen juga tidak memberi kabar pada orang tuanya jadinya ya seperti ini.
"Kalau mau pergi tuh ngomong sayang, jadi Mama sama Papa nggak khawatir." Mama Anin lalu melirik ke arah sang suami.
"Iya Mama." Jawab Queen singkat. ia lalu mendudukkan dirinya di atas sofa.
Netra Mama Anin pun menangkap sosok pria tampan yang tinggi badannya melebihi tinggi sang suami. beliau pun tersenyum dan berkata. "Silahkan duduk Mas." sapa Mama Anin ramah.
Raffa pun mengangguk, ia lalu mendudukkan dirinya tempat di depan Queen.
"Maaf Om, Tante hari ini Queen pulang malam karena harus menyusun ulang jadwal meeting saya besok pagi." sebelum di tanya lebih lanjut, Raffa sudah lebih dulu menjelaskan pada kedua orangtua Queen.
Papa Amri pun mengeryitkan dahinya binggung. "Jadwal meeting? maksudnya kamu ini bos anak saya?" tanya Papa Amri tidak percaya. sebab yang beliau tahu biasanya seorang bos di perusahaan besar itu pria paruh baya dan kebanyakan dari mereka berkepala botak.
Raffa mengangguk mantap. "Iya Pak, benar saya bos nya Queen." jawab Raffa tegas.
Papa Amri menjadi tidak enak hati, ternyata beliau salah telah menuduh pria ini.
tadinya Papa Amri pikir pria tampan ini kekasih sang anak. dan memang sengaja mengajak keluar sang anak tanpa meminta izin darinya dulu.
semua pria yang dekat dengan Queen pasti selalu dalam pengawasan sang Papa.
Queen tak pernah sekalipun pergi dengan seorang pria, karena kebanyakan dari mereka sudah takut duluan saat meminta izin pada Papa Amri yang mereka nilai memiliki wajah yang galak. Meski berpenampilan sexy dan terbuka namun Queen tak pernah sekalipun keluar malam tanpa izin kedua orangtuanya. bahkan selama di luar negeri itu pun Queen hanya kuliah dan kerja tanpa bermain atau kumpul-kumpul bersama teman-temannya.
soal kepatuhan dan kejujuran Queen ini patut di acungi jempol.
"Ya sudah kalau gitu, Papa masuk kedalam dulu ." ucap Papa Amri lalu berdiri dari duduknya. "Silahkan di minum dulu Pak Bos." ujar Papa Amri pada Raffa, setelah melihat sang istri menaruh beberapa minuman di atas meja.
"Lho Pa? mau kemana? katanya mau interogasi cowok itu?" ucap Mama Anin setengah berbisik dan masih di dengar Raffa.
"Sttt---" Papa Amri pun menaruh jari telunjuknya di atas bibir, memberi kode pada sang istri agar tidak melanjutkan ucapannya. Mama Anin yang paham pun menangguk. lalu kedua orangtua Queen masuk kedalam ruangan, meninggalkan Queen dan Raffa yang masih terduduk di ruang tamu.
"Maafin Papa saya ya Pak." ucap Queen mencairkan suasana. Ya, beberapa menit yang lalu tidak ada percakapan diantara keduanya.
"Iya nggak apa-apa." ucap Raffa singkat. netra elangnya menangkap pada satu bingkai foto keluarga yang terpajang tepat di meja sudut ruangan. "Bapak kamu polisi?" tanya Raffa saat melihat seorang pria tampan yang tengah memakai seragam dinas.
Muhammad Chairul Amri ( Papa Amri saat usia 30 tahun )
"Iya Pak, tapi sekarang Papa udah pensiun." terang Queen.
Raffa pun menangguk paham. "Itu Mama kamu?" Raffa bertanya lagi saat melihat foto wanita cantik yang wajahnya benar-benar mirip dengan Queen.
Anindira Khairunissa ( Mama Anin saat usia sembilan belas tahun )
"Mama saya nikah muda Pak, waktu itu umur mama saya sembilan belas tahun dan Papa saya tiga puluh tahun." ucap Queen menjelaskan.
"Kok bisa?" tanya Raffa mulai penasaran, ia lalu menatap Queen guna mendengarkan cerita Queen selanjutnya.
Queen pun mulai menceritakan kisah asmara kedua orangtuanya dulu, kenapa Mama Anin mau menikah dengan Papa Amri yang pada saat itu usai mereka terpaut jauh sebelas tahun.
dan Raffa dengan seksama mendengarkan cerita sekertaris barunya itu.