Tergoda

1349 Kata
Hari ini mood Raffa benar-benar berantakan, dari ucapan keponakan yang bikin hatinya kesal di tambah sindiran sang ayah yang membuat hatinya semakin panas. Bukan, bukan Raffa tidak mau menikah atau ia sudah tidak suka perempuan lagi hanya saja sampai saat ini Raffa belum menemukan seseorang yang benar-benar membuat hatinya nyaman. Dengan langkah yang tegap dan gagah, Raffa pun berjalan menuju lift khusus pimpinan. baru saja akan masuk ke dalam lift tiba-tiba seseorang menabrak dirinya BRUK!!! BYUR!!! Dengan tidak sengaja Queen menumpahkan segelas kopi s**u panas yang tadi ia bawa tepat di hadapan pria tampan di depannya ini. sontak saja Queen membelalakkan matanya seketika. "Ma--maaf Pak, saya nggak sengaja." ucap Queen terbata, karena refleks Queen pun mengusap-usap kemeja Pria itu dengan tangan kanannya. Namun naas bukannya bersih justru kemeja itu terlihat semakin kotor. pria tampan itu pun mengeram seketika, melihat kelakuan wanita muda di hadapannya ini. "Lepaskan tangan kotor mu, dari kemeja mahal saya!!!" titah Raffa dengan tegas, ia lalu menyingkirkan kasar tangan wanita itu dari jas mahal miliknya. tak lama Raffa pun memilih pergi meninggalkan wanita itu di depan lift. Queen pun sontak mendengus sebal. kini Ia terlihat mengepalkan tangannya menahan kesal. "Arghhhh, gila belagu banget sih lu! sama-sama karyawan juga sombongnya kebangetan!!!" umpat Queen kesal dalam hati. Inhale ... Exhale ... Sabar ... Queen terlihat Kembali membenarkan pakaiannya, hari ini adalah hari pertama ia bekerja di perusahaan ini, biar bagaimanapun ia harus terlihat sempurna di mata Bos barunya nanti, bukan bermaksud menggoda, hanya saja Queen ini termasuk seseorang yang benar-benar memperhatikan penampilannya, ia selalu berpikir kesan pertama itu harus mengesankan agar kedepannya ia dan sang Bos dapat menjalin kerjasama yang baik. Sue banget tuh karyawan, gue kan juga kena cipratan kopinya. gumam Queen kesal dalam hati, ia pun lalu menaiki lift menuju lantai paling atas. Ting! Pintu lift pun terbuka, Queen berjalan perlahan menuju meja sekretaris di depannya itu, tertulis nama Ayu Anjani disana. "Permisi Mba, saya Aleta Queenby Fradella Ulani, sudah ada janji sebelumnya dan saya ingin bertemu dengan Bapak Raffa Athalariq Pradipta." ucap Queen dengan sopan lalu tersenyum ramah. Wanita itu pun balik tersenyum. "Baik, mari Ibu Queen saya antar ke dalam." ajak Ayu, ia lalu berjalan menuju ruangan yang bertuliskan Chief Executive Officer. Ayu sang sekretaris itu pun mengetuk daun pintu sebanyak tiga kali, hingga terdengar suara bos nya itu barulah ia menghentikan aksinya. Ayu pun berinisiatif masuk lalu mengajak serta Queen ke dalam. "MASUK!!' ucap Pria tampan itu dari dalam. tanpa menoleh pria tampan itu masih asyik melihat pemandangan indahnya kota Jakarta dari balik kaca besar itu. Daun pintu pun terbuka ... "Bos, Ibu Queen sudah datang." ucap Ayu sekretaris Raffa. "Baik silahkan masuk." Raffa pun membalikkan badannya dan menatap seseorang yang tengah berdiri tepat di depannya. DEG!!! Pandangan mata mereka berdua pun bertemu, sama seperti Raffa. Queen pun dibuat tercengang dengan pemandangan di depannya ini, ternyata pria yang ia tabrak tadi adalah CEO di perusahaan ini, sungguh Queen tengah merutuki kebodohannya tadi, yang tidak hati-hati saat berjalan. "Silahkan duduk, dan kamu Ayu boleh pergi." titah Raffa, pria itu lalu duduk di kursi kebesarannya itu. Queen pun menunduk sopan, ia lalu duduk tepat di depan Raffa, dengan sedikitnya menundukkan kepalanya. "Aleta Queenby Fradella Ulani BA, MA, MBA." ucap Raffa dengan menatap penampilan Queen dari atas hingga bawah secara berulang. "Lulusan terbaik Oxford university dan Stanford university, benar begitu?" tanya Raffa memastikan, ia lalu menyatukan kedua jari tangannya di atas meja. "Ya benar, Pak." jawab Queen singkat, jujur ia risih dipandangi seperti itu oleh pria tampan di depannya ini. "Ada apa ya Pak? kenapa sedari tadi Bapak memandangi saya terus?" tanya Queen penuh percaya diri. "Apa kamu tidak bisa mengganti pakaianmu, dengan pakaian yang lebih sopan?" tanya Raffa dengan menatap tajam calon sekretaris pribadinya itu. "Nggak bisa Pak! ini fashion saya!" tolak Queen dengan tegas, bahkan kali ini Queen terlihat tengah menyilangkan kedua kaki jenjangnya itu. Raffa sontak membuang pandangannya ke arah sekitar, mengusir rasa gugup di hatinya, biar bagaimanapun Raffa ini lelaki normal pasti akan tergoda melihat pemandangan indah di depannya ini. Dasar perempuan aneh!!! bagaimana bisa perusahaan merekrut orang seperti dia. umpat Raffa kesal dalam hati. Karena tak ada reaksi apapun dari Bos barunya ini, Queen pun memberanikan diri untuk bertanya. "Pak? bagaimana dengan kontrak kerja saya?" "Ehem …" Raffa berdehem mencoba menetralkan degup jantungnya, "Dengan pakaian seperti ini, kamu akan bekerja sebagai sekretaris pribadi saya?" Raffa memastikan sekali lagi, bahkan setelan kerja yang digunakan Queen saat ini terlihat begitu sexy. dengan rok hitam di atas lutut dan blouse berwarna putih yang cukup menerawang, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang padat, sintal dan berisi itu. "Apa ada masalah dengan penampilan saya, Pak?" tanya Queen. ia merasa biasa saja berpakaian seperti ini. dulu saat masih kerja di salah satu perusahaan jasa luar negeri Queen pun sudah berpakaian seperti ini, bahkan orang-orang disana tidak mempermasalahkan hal itu. Raffa terlihat menggelengkan kepalanya pelan. "Mulai besok ganti pakaianmu dengan pakaian yang lebih sopan!!!" titah Raffa, ia lalu membuka kacamata baca yang sedari tadi bertengger di hidung mancungnya itu. "Boleh pakai rok tapi di bawah lutut, dan itu blouse kamu ganti jangan model yang seperti itu." Raffa menatap ngeri blouse Queen yang terlihat menerawang jelas itu. "Lho kenapa Pak? saya nggak mau ganti sebab ini fashion saya!" tolak Queen tidak terima. kenapa Bos barunya ini mempermasalahkan penampilannya, padahal kan yang harus dinilai itu kinerjanya. Dan menurut Queen ia pun masih berpakaian sopan saat ini. "Ini sudah jadi peraturan perusahaan!" ucap Raffa tegas tak terbantahkan. Ya, selama menjabat sebagai CEO. Raffa telah membuat satu peraturan yang baru. Ia mewajibkan seluruh karyawan wanita untuk memakai rok di bawah lutut serta memakai blouse atau kemeja yang longgar. Queen mengangkat sebelah alisnya, ia merasa aneh dengan peraturan barusan. "Kenapa begitu Pak? semua orang berhak berpakaian sesuai selera masing-masing, selagi tidak melanggar norma dan sopan santun." Queen tetap mempertahankan pendapatnya, sampai kapanpun ia tak akan mengubah gaya fashionnya ini. "Karena ini sudah menjadi peraturan, dan semua wajib mentaati peraturan yang sudah saya buat!!!" jawab Raffa tegas dengan suara bariton nya yang khas itu. Queen pun terlihat menghela nafasnya berat. biarlah kali ini ia mengalah berdebat dengan calon Bos nya itu. "Baik Pak." meski kesal Queen pun harus bersikap sopan. Raffa pun mengangguk. "Kamu sudah mulai bisa bekerja mulai hari ini, dan mengenai kontrak kerja---" Raffa terlihat menggantung ucapannya. "Saya sendiri yang akan putuskan kamu berapa lama kerja disini, sementara itu saya harus melihat kinerja kamu dulu selama satu bulan ini." Queen mengerjapkan matanya berkali-kali, ia merasa aneh dengan penuturan bos barunya itu. sungguh menyalahi peraturan perusahaan yang ada. Biasanya calon karyawan akan tanda tangan kontrak dulu baru memulai kerja, tapi tidak dengan Queen ia harus melakukan masa percobaan itu selama satu bulan, barulah setelahnya ia akan tanda tangan kontrak. "Baik Pak, siap." lagi-lagi Queen tak dapat menolak, karena ia memang butuh pekerjaan ini dan di perusahaan ini. sebenarnya Queen bisa saja dengan mudah pindah perusahaan lain bermodalkan rentetan gelar yang ia punya dan tentunya pengalaman kerjanya di perusahaan luar negeri yang tidak diragukan lagi kemampuannya. Kini ia pun hanya menuruti keinginan sang Mama, yang berharap anaknya kelak akan bekerja di perusahaan Gemilang Pradipta Sejahtera, sebuah perusahaan expor-impor terbesar di Indonesia. "Apa ada yang mau kamu tanyakan lagi?" tanya Raffa saat melihat wanita di depannya ini masih duduk terdiam di tempatnya. Mata Queen pun mengerjap seketika. "Engg--aak ada Pak." jawab Queen tergagap, ia terkejut ternyata sedari tadi ia tengah asyik melamun. "Ya sudah silahkan kamu mulai kerja sekarang." ucap Raffa, ia lalu terlihat membuka beberapa lembar dokumen di depannya itu. Baru saja Queen akan melangkah tiba-tiba Raffa memanggil nya kembali. "Lain kali kalau jalan hati-hati, untung yang kamu tabrak tadi saya, bagaimana kalau investor kita? bisa-bisa mereka menolak kerjasama dengan perusahaan gara-gara tindakan ceroboh mu seperti tadi." ucap Raffa memperingati Queen. "Baik Pak, maafkan saya tadi tidak sengaja menabrak Bapak." Queen meminta maaf perihal dirinya yang sudah menumpahkan kopi tepat di kemeja mahal Bos barunya itu. Tanpa menjawab Raffa pun mengibas tangannya, mengisyaratkan sekretaris barunya itu untuk segera meninggalkan ruangan. Queen yang paham akan kode itu pun berdiri dari duduknya. "Kalau gitu saya permisi, Pak." ucap Queen membungkukkan badan sopan, tak lama ia pun berlalu pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN