Queen tidak mengalami hal sulit saat melakukan pekerjaannya hari ini, semua ditangani dengan baik. karena memang sebelumnya Queen sudah pernah bekerja sebagai asisten pribadi CEO di salah satu perusahaan jasa yang ada di Amerika Serikat.
Hingga jam pulang kerja tiba, ia pun bisa menghandle semua pekerjaan nya dengan sangat baik.
"Bu Queen mau pulang?" tanya Ayu lalu menghampiri Queen yang tengah berdiri di depan pintu.
Queen pun mengangguk."Iya, btw jangan panggil Ibu. panggil Queen aja." pinta Queen lalu tersenyum
"Baiklah Queen, bagaimana kalau kita pulang bareng" ajak Ayu pada rekan kerjanya yang baru itu.
Tanpa pikir panjang Queen pun menerima ajakan Ayu, Queen berharap Ayu bisa menjadi teman yang baik selama ia bekerja disini.Kini mereka tengah berjalan bersama menuju parkiran mobil, Queen yang tidak membawa kendaraan pun dengan senang hati menerima tumpangan gratis dari teman barunya itu.
"Queen? boleh aku minta nomer hape kamu?" tanya Ayu lalu mengambil ponsel pintarnya di dalam tasnya itu.
Queen yang sudah selesai melepas seatbelt pun menoleh. "Bolehlah, catet nih 08**-***-***."
"Oke thanks Queen." tak lama Ayu pun kembali melajukan mobilnya dengan kencang.
Tok … tok … tok …
Ceklek …
"Mama … Mama …" teriak Queen dari balik pintu.
"Astagfirullah ini anak." pekik Mama Anin kaget saat mendengar teriakan sang anak. "Kamu itu Queen, kalau masuk rumah ucap salam bukan malah teriak-teriak kayak di hutan." Mama Anin pun menggelengkan kepala heran. ini salah satu alasan mengapa Mama Anin, Ibu kandung Queen menyuruh sang anak untuk segera balik ke Indonesia.
beliau tak mau anak satu-satunya itu melupakan budaya timur yang menjunjung tinggi adat dan sopan santun.
Queen pun menyengir menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi. "Maaf Mama aku lupa, Assalamualaikum Mama Anin." Anin mengulangi lagi salamnya dan mencium punggung tangan sang Mama.
"Wa'alaikumsalam, begini baru cantik anak Mama." Mama Anin lalu mencolek gemas hidung anak semata wayangnya itu. "Ayo makan dulu Nak, Papa udah nunggu di meja makan." Mama Anin lalu mengandeng tangan Queen dan mengajaknya keruang makan dulu.
"Hay, Papa how are you?" sapa Queen saat melihat sang Papa yang tengah tersenyum padanya.
"Papa fine anak cantik." jawab Papa Amri lalu mengelus lembut puncak kepala sang anak yang kini sudah terduduk di sampingnya.
Keluarga Queen pun kini tengah menikmati makan malam bersama dengan tenang, tidak ada percakapan diantara mereka saat sedang makan. sebab dari dulu Papa Amri memang tidak pernah suka ada suara jika sedang makan.
Setelah selsai makan Queen pun masuk kamar dan membersihkan diri. tak lama terdengar pintu kamarnya pun di ketuk.
"Ada apa Mama?" tanya Queen saat sudah membukakan pintu.
"Di panggil Papa turun Queen, ada yang mau di bicarakan." Mama Anin pun lalu kembali lagi keruang keluarga.
Queen pun mengangguk, ia lalu menutup pintu kamarnya dan berjalan di belakang sang Mama menunggu di ruang keluarga.
"Ada apa sih, Pa?" tanya Queen penasaran, ia lalu mendudukan dirinya di samping sang Papa dan bergelayut manja pada pria paruh saya itu.
"Bagaimana apa kamu nyaman bekerja di tempat yang baru?" tanya Papa Amri penuh perhatian.
Queen mengendikan bahunya sekilas. "Ya gitu deh Pa, enak nggak enak." jawab Queen sekilas. "Tapi aku lebih suka kerja di tempat yang dulu Pa, di perusahaan luar negeri." jujur Queen pada sang Papa.
"Sayang, kamu nggak kasihan sama Mama kamu? setiap hari dia nangis kalau abis telpon kamu." Papa Amri pun menoleh kearah sang istri dan tersenyum.
"Mama emang kenapa sih nangis mulu kalau aku di luar negeri?" tanya Queen penasaran, sebab sampai saat ini sang Mama tidak juga memberikan alasan mengapa ia tak boleh kerja disana lagi.
Mama Anin terlihat menarik nafas dalam. "Maafin Mama udah nyuruh kamu pulang terus cari kerja di sini." ucap Mama Anin lirih. saat ini mata Mama Anin mulai berkaca-kaca, beliau selalu sedih saat melihat sang anak susah di ajak tinggal di Indonesia. "Mama cuman nggak mau jauh dari kamu Queen, kamu kan anak Mama satu-satunya." tumpah sudah air mata Mama Anin yang sedari tadi ia tahan.
Queen yang melihat raut wajah sang Mama mulai berubah pun menjadi bersalah. ia kini beralih mendekat kearah sang Mama dan memeluknya dengan erat. "Aku nggak apa-apa Mama, aku senang kok balik ke Indonesia lagi. jadi kan bisa deket sama Mama sama Papa." ucap Anin lalu mengecup pipi kanan dan kiri Mama Anin.
Papa Amri tersenyum penuh arti kearah sang istri, memang akting istrinya cantiknya itu patut diacungi jempol. hanya dengan memasang wajah sedihnya dan di bumbui air mata sedikit saja Queen sang anak langsung luluh seketika.
() () () ()
Kediaman Keluarga Pradipta.
Seluruh anggota keluarga tengah berkumpul di ruang tengah.
sudah seminggu ini kebetulan Raffi beserta keluarganya tengah menginap di sini, di kediaman kedua orangtuanya. papa Agha dan mama Rara.
"Ini minumannya datang anak-anak." ucap Mama Rara lalu menaruh beberapa minuman dingin di atas meja.
"Makasih Oma, aku mau jus mangga ya Oma?" ucap anak laki-laki berusia lima tahun yang bernama Jonathan Alexander Pradipta.
"Boleh, bagi kakak Jo ya, sayang." ucap Mama Rara lalu mengelus puncak kepala cucu laki-lakinya itu dengan lembut.
Jonathan sang cucu pun mengangguk, ia lalu membawa dua buah gelas jus mangga untuk sang kakak yang sedang duduk bermain robot di kursi taman.
Raffa yang baru saja selesai membersihkan diri itu pun keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang keluarga.
"Abang udah makan?" tanya sang Mama perhatian, saat melihat anak sulungnya itu sudah mendudukan dirinya di atas sofa.
"Udah Ma, tadi makan di luar." jawab Raffa singkat, ia lalu mengambil ponsel pintarnya guna mengecek pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.
"Kamu dah dapet sekretaris pengganti Icha, Bang?" tanya Papa Agha, beliau lalu menaruh ponselnya di atas meja.
Raffa pun menoleh sekilas. "Udan Pa." jawab Raffa singkat, ia sudah kembali fokus memainkan ponselnya.
"Papa harap kali ini sekretaris pribadimu bisa di percaya." ucap Papa Agha penuh harap.
"Papa tenang aja, aku sendiri yang akan turun tangan mengawasi gerak-gerik sekretaris baru itu." jawab Raffa yakin. tanpa mengalihkan pandangan matanya pada ponselnya itu.
Sebagai seorang pimpinan Raffa tidak akan mau kesalahan itu terulang kembali, sekretaris pribadinya yang dulu bernama Icha Susanti, ia sudah bekerja di perusahaan Gemilang Pradipta Sejahtera sudah hampir sepuluh tahun.
Raffa yang saat itu baru menjabat sebagai CEO menggantikan sang Papa pun dibuat terkejut, atas beberapa masalah yang harus ia hadapi, tentang kebocoran data pribadi pada pihak perusahaan luar serta penggelapan dana sebesar dua Triliun rupiah, oleh Icha sang sekretaris pribadi yang bekerjasama dengan direktur keuangan.
sungguh karena perbuatan mereka berdua hampir saja perusahaan Gemilang Pradipta Sejahtera, terancam gulung tikar.
Namun belum sempat itu terjadi Raffa sudah lebih dulu mengatasi masalah itu, dengan berbagai cara ia lakukan agar bisa memulihkan nasib perusahaan keluarga yang sudah turun-temurun ini. Selama itu semua pekerjaan pun dikerjakan oleh Raffa sendiri.
Segala usaha kerja keras pun ia lakukan hingga pada tahun ketiga ke pemimpinnya Raffa sudah berhasil menjadi pengusaha muda terkaya di negeri ini. sungguh pencapaian yang sangat luar biasa selama perusahaan dipimpin oleh seorang Raffa Athalariq Pradipta.
Hingga pada akhirnya Raffa pun merasa kelelahan mengerjakan pekerjaannya sendiri dan berniat mencari sekretaris yang baru. saat itu sahabat kuliahnya di Amerika dulu merekomendasikan salah satu nama wanita asli Indonesia yang bekerja di perusahaan jasa terbesar di Amerika untuk menjadi sekretaris nya.
Tanpa pikir panjang Raffa pun mengiyakan saran sahabatnya itu, lalu Raffa meminta pada bagian Manager HRD untuk menghubungi wanita itu lewat email dan menawarkan suatu pekerjaan dengan bayaran yang lumayan fantastis.
Papa Agha pun menepuk pundak sang anak dengan lembut. "Papa percaya kamu pasti bisa menjadi pemimpin yang baik." ucap Papa Agha bangga. beliau senang salah satu di antara ketiga anak laki-laki nya ada yang mau meneruskan perusahaan keluarga yang sudah turun temurun itu.
Ya, Papa Agha mempunyai tiga orang anak laki-laki dari pernikahannya dengan Mama Rara.
Mama Rara yang sedari tadi menjadi pendengar pun kita ikut membuka suara. "Bang? cewek apa cowok sekretaris nya?" tanya Mama Rara penasaran.
"Cewek Ma." jawab Raffa singkat. "Kenapa Mama?" tanya Raffa heran saat melihat sang Mama tersenyum padanya.
"Mama cuman lagi menghayal aja, mudah-mudahan sekretaris kamu itu berjodoh sama kamu." ucap Mama Rara asal.
Raffa pun menggelengkan kepalanya heran. "Mama ini kebanyakan nonton sinetron." cibir Raffa pada sang Mama.
"Kamu itu ya Bang, didoain sama Mama bukanya Alhamdulillah malah ngatain mama." Mama Rara pun mencebikan bibirnya kesal.
Papa Agha pun mendekat, saat melihat wajah kesal sang istri. "Apa nanti kita jodohin mereka aja ya, Ma?" tiba-tiba saja satu ide konyol terlintas di pikiran Papa Agha.
"Jangan ngadi-adi deh Pa!" sentak Raffa tidak terima, ia lalu beringsut dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.
Raffa lebih memilih menghindar daripada harus mendengar ocehan kedua orangtuanya yang terus menerus ingin menjodohkannya.