Wijaya meninggalkan ruang makan. Kakinya melangkah ke kamar. Duduk di sebuah bangku yang ada di balkon. Merasakan sesuatu yang terasa pedih. Kini, rahasianya telah terbongkar. Lantas, apalagi yang harus dia lakukan agar ibunya bisa percaya dengan pernyataannya, tentang dirinya yang tidak mengalami gangguan jiwa. Bukti apa yang akan diberikan oleh Wijaya? Bahkan, psikolog sendiri menganggapnya mengalami gangguan jiwa. Sehingga, dia diberikan sebuah obat untuk menenangkan dan mengendalikan pikiran. Beberapa jam kemudian, dia duduk ditemani dengan rokok yang sudah mengepulkan asap. Wijaya berkelana memikirkan langkah yang bisa membersihkan namanya yang telah rusak akibat ibunya sendiri. “Jaya, kamu ini …. “ “Ma, tolong dibiasakan untuk mengetuk pintu.” Wijaya berdiri di dekat besi yang d

