Wijaya melangkah meninggalkan ruang makan, sebab tidak ada sesuatu yang bisa dimakan. Dipikirnya, akan ada sebuah makanan yang bisa dinikmati untuk mengganjal perut. Benar saja, tidak lama dari duduk di depan laptopnya, Wijaya merasakan perut yang seakan-akan dikocok-kocok oleh cacing yang ikut tinggal di dalamnya. “Anjir!” teriaknya sembari melempar jaket ke kasurnya. Melangkah ke balkon. Tidak lupa, ia membawa satu bungkus rokok yang semula berada di laci mejanya. Kini, Wijaya duduk di bangku yang ada di luar kamarnya ditemani dengan kendaraan yang terlihat berlalu-lalang. Tangannya mulai menyalakan satu batang rokok bermerek “sampoerna” itu. Setiap dua menit sekali, Wijaya membuang sisa abu dari rokok ke asbak. Merasa sudah puas dengan rokok, dia memilih untuk masuk ke dalam kamar. M

