Keesokan harinya, Wijaya keluar dari kamar dengan mengendap-endap. Seakan, masih ada sesuatu yang mengintainya, sehingga merasa takut dengan hal itu. Akan tetapi, merasa tidak ada sesuatu hal yang terjadi, Wijaya memilih untuk berlari ke arah tangga. Kini, Wijaya telah menikmati sarapan bersama ibunya. Duduk di sebuah ruang makan, dengan suasana yang biasa—dingin. Tepat pukul setengah tujuh, Wijaya meraih kunci mobil untuk pergi ke kampus. “Jaya, perihal yang waktu itu belum selesai dibahas. Kita harus bahas, tapi kapan?” “Soal apa?” “Dasar pikun!” teriak Aura yang masih santai duduk di bangku Wijaya. Kebetulan, perempuan itu datang lebih awal dari pria yang masih setia menggendong tasnya. Jadi, Aura dengan seenaknya duduk di tempat itu. Tidak lama kemudian, Aura berdiri karena ta

