Wijaya hanya tersenyum untuk menanggapi perkataan Galuh yang tidak berlanjut. Bahkan, di dalam pikiran Wijaya saja sudah paham. Dia tidak ingin menambah luka hati di dalam hati. Memang benar, sejak beberapa jam terakhir, di internet—khususnya wilayah kampus—telah mengetahui desas-desus tentang perilaku aneh dari diri Wijaya. Tentu saja Wijaya pergi dari tempat dengan berpamitan dengan Galuh. Hanya saja, Wijaya kurang mengerti dengan pria itu. Bukannya berterima kasih, malah menanyakan sesuatu yang memang masih sensitif bagi Wijaya. Kini, Wijaya tengah mengendarai kendaraannya kembali ke rumah. Dia khawatir dengan keadaan ibunya yang hanya seorang diri di gedung dua lantai itu. Lima belas menit kemudian—setelah sampai di rumah, Wijaya beranjak dari sofa ruang tamu untuk membersihkan dir

