Wijaya merasa kesal dengan pertanyaan yang selalu sama dari ibunya. Entah kenapa, Wijaya merasa tidak nyaman lagi dengan sosok wanita yang katanya menjadi malaikat tidak bersayapnya. Bahkan, saking kesalnya, Wijaya dengan sengaja menjatuhkan piring berisi makanan. Meninggalkan ruangan itu tanpa membersihkan terlebih dahulu. Membanting pintu kamar, walau tidak terlalu keras. Kini, duduk di sofa ruang tamu dengan mengacak-acak rambutnya. Sesekali memukuli kakinya sampai timbul warna merah. Posisi sulit bagi Wijaya untuk saat ini. Ingin berbakti, tetapi serasa diremehkan. Rasanya, ingin pergi dari rumah untuk mencari ketenangan, tetapi tidak ingin menjadi anak yang durhaka. Sampai akhirnya, Wijaya merasakan sebuah kebuntuan yang belum juga usai. Dia memilih masuk ke kamar untuk menenangkan

