Wijaya mengembuskan napas. Tetap membantu ibunya untuk memasak. Akan tetapi, wanita itu menolaknya. Melangkah dengan bantuan kursi ke arah tempat rak piring yang ada di pojok meja dapur. “Biarkan Wijaya yang mengambilkan.” Pria itu melangkah ke arah rak piring. Mengambil sendok, garpu, dan piring yang sedang dibutuhkan oleh ibunya. Meletakkan alat itu ke meja, sebelah kanan ibunya berdiri. Wijaya meninggalkan ibunya karena merasakan ada sesuatu yang memanggil dari dalam dirinya. Melangkah ke arah kamar mandi. Setelah sepuluh menit, Wijaya kembali ke ruang makan. Duduk bersama ibunya di sana, akan tetapi hanya ada rasa dingin yang menyelimuti, padahal kipas angin ataupun AC saja tidak ada yang menyala. “Ma, maaf, semalam pergi,” kata Wijaya menunduk. Jujur, Wijaya merasa bersalah dan

