Wijaya melotot, tidak menyangka jika ibunya bisa berlaku seperti itu. Berpikir buruk terhadap rumah makan yang sedang disinggahi. Sesuatu yang tidak baik, mencela makanan dan tempatnya ketika sedang mengisi perut. Beberapa saat kemudian, Wijaya tersadarkan dengan panggilan seseorang. Ya, dia bertemu dengan Galuh di sana. “Hai, lo mau makan?” “Enggak, sih, mau beli sepatu.” “Hah?” Wijaya memutar bola matanya. “Ya, beli makanan. Masa, iya, ke rumah makan, beli sepatu.” “Okay, lo mau pesan apa?” “Kamu ini, masa iya temannya tidak disuruh duduk. Silakan duduk, Nak.” Ibu Wijaya menunjuk sebuah kursi kosong di sebelah kanan anaknya. Galuh pun duduk di sana, menatap ragu ke arah wanita paruh baya yang ada di hadapannya. Bingung. Ya, Galuh merasa bingung dengan sikap wanita itu, bahkan, ca

