Wijaya tidak tahu harus menjawab apa lagi. Dia saja merasa bingung dengan perkataan wanita itu. “Bentar, kamu tadi bilang bagaimana? Jelaskan lagi dengan perlahan.” “Ih, rasanya Gayatri ingin mengguyur Wijaya dengan kuah santan panas!” “Hah?” “Jangan-jangan kamu aslinya tidak cerdas, ya? Lalu, di mana Wijaya yang aku kenal dengan kecerdasannya?” “Maksud kamu bagaimana? Kenapa pula ingin mengguyurku?” “Gayatri capek jelasinnya. Bagaimana, ya, cara jawabnya?” Wanita itu beranjak pergi mencari sesuatu yang ada di ruang Wijaya yang masih gelap akibat listrik belum menyala juga. Gayatri mengambil sebuah bolpoin berwarna hitam yang ada di gelas (di atas meja). “Jaya, ini gunanya untuk apa?” “Untuk menulis, memang kenapa?” “Menulis … seperti waktu Wijaya mengajari Gayatri menulis mengguna

