“Makan, enggak makan … pingsan!” Wijaya mengambil satu porsi makanan di piring putih yang ada di tangannya. Melangkah ke ruang tengah (ruang televisi) untuk menikmati makanannya. Dia masih enggan untuk bertatap muka dengan ibunya. Selain masih kesal, dia juga tidak ingin mendapati sindiran-sindiran dari wanita paruh baya itu. “Kenapa harus menjauh?” tanya wanita itu saat Wijaya berjalan mengembalikan piring ke dapur. Lebih tepatnya, setelah kurang lebih lima belas menit bersemedi di ruang televisi ditemani dengan nasi beserta sayur-lauk. “Gak pa-pa, cuma mau tenang saja.” Wiajya mencuci tangan, kaki, dan wajahnya di kamar mandi yang tidak jauh dari dapur. Kemudian, kembali ke kamar untuk merenungi dirinya sendiri. Dia berpikir tentang kesalahan-kesalahan yang ia perbuat selama ini, se

