Wijaya berteriak sembari memukul setir mobil sebanyak tiga kali, dilanjutkan dengan meremas rambutnya sendiri. Merasa tidak nyaman karena menjadi pusat perhatian dari orang yang berada di tempat parkir. Dia mulai menyalakan mesin mobil, mengemudikan kendaraan berwarna hitam itu ke arah rumah. Kini, pria itu tengah berhenti di halaman rumah. Menyimpan resep dan obat-obatan yang dibawa dari rumah sakit di dalam tas. Turun dari mobil, di dalam ruang tamu telah disambut ibunya. Wanita paruh baya itu telah sembuh dari sakitnya, dia berdiri di depan pintu. Ya, walaupun belum bisa berjalan dengan jarak jauh, setidaknya dia telah berhasil bangkit dari keterpurukan. “Dari mana?” tanya wanita dengan rambut diikat dengan tali berwarna hitam. “Pergi, kenapa?” “Dari mana?” ulangnya dengan mata yang

