“Belajar apa, sih, Ma? Apa belajar untuk menjadi orang gila sungguhan?” tanya Wijaya yang masih merasa kesal dengan ibunya. “Wijaya harus berapa kali bilang, kalau Wijaya tidak gila?” “Kalau begitu, Mama juga harus bilang sampai berapa ratus kali, supaya kamu tidak lagi berhalusinasi tentang wanita itu? Kamu itu harusnya bisa melupakan hal itu, bagaimana pun kamu harus bisa belajar untuk membuang cerita yang tidak bisa dinalar.” Wanita itu lantas meninggalkan Wijaya. Dia merasa lelah untuk menyadarkan anaknya mengenai cerita yang dianggap hanya khayalan semata. Akan tetapi langkah wanita itu terhenti di depan pintu, tangan masih memegang gagang pintu. “Jaya, jangan sampai kamu hancur hanya karena sebuah khayalan yang terlalu tinggi.” Setelah wanita itu pergi, Wijaya mengunci pintu kamar

