“Ra, kamu mau pandai seperti Wijaya?” tanya Galuh sembari berjalan kembali ke bangku, sebab dia melihat dosen yang sudah kembali ke ruang kelas. “Wijaya makan sate,” sambungnya tepat di telinga kanan Aura. “Sudah selesai, ya?” tanya dosen yang sudah masuk ke kelas. Dia melihat jam yang ada di atas papan tulis. Waktu sudah menunjukkan jam mata kuliah sejarah telah habis. “Waktunya bisa diperpanjang?” “Enggak, Pak. Kepala saya sudah puyeng sama sejarah.” Galuh kembali duduk ke tempatnya. “Baik, untuk hasil diskusi bisa disimpan terlebih dahulu, nanti kalau sudah ada waktu, kita presentasikan hasil diskusi kalian. Nanti saya kirimkan materinya, kalian bisa pelajari sebagai referensi presentasi selanjutnya.” Lima menit kemudian, Wijaya meninggalkan kampus. Dia pergi ke sebuah kafe yang ti

