Dua hari kemudian, Wijaya memilih untuk pergi meninggalkan rumah. Dia pergi ke daerah Bandung untuk mencari ketenangan. Merasakan kepala yang berat dengan segala beban, belum lagi dengan perkataan yang selalu terngiang-ngiang dan menyakitkan. Saat ini, dia benar-benar hanya membutuhkan sebuah rasa tenang. Duduk di balkon kamar hotel, menghadap depan menikmati Kota Bandung di temani dengan secangkir teh manis dan cireng di pagi hari. Meniup udara yang masih sejuk, sebelum ruang kota dipenuhi dengan asap-asap kendaraan. Berusaha untuk tenang dan menyamankan diri, walaupun pada kenyataannya pikiran tetap saja berkecamuk dengan topik yang sama. Alan tetapi, setidaknya dia tidak mendengar sebuah kalimat yang selalu menyakiti hati. Sekitar pukul delapan pagi, Wijaya berpindah dari balkon. Ca

