“Mungkin, menurut Mama memang seperti itu, tapi bagi Wijaya kegiatan tadi sudah lebih dari cukup untuk meringankan beban pikiran. Walaupun, tetap saja setelah pulang, pikiran itu kembali hadir.” Wijaya beranjak untuk pergi membersihkan diri, dia tidak terpikir dengan sesuatu yang bakal terjadi. Dia yakin jika ibunya tidak mungkin berbuat aneh-aneh di dalam kamarnya. Setelah dua puluh lima menit, benar saja, Wijaya mendapati ibunya yang tengah duduk di kasur dengan memainkan ponselnya sendiri. “Kirain sudah pergi.” Wijaya mengeringkan rambut pendeknya dengan handuk putih. “Oh iya, kamu, kan, memang tidak menginginkan Mama lagi. Kamu tahu, nggak, sih, Mama dulu berjuang mati-matian untuk mengandung kamu selama sembilan bulan, kemudian merawat kamu, membesarkanmu, lalu ini pembalasan yang

