Part 3
"Eagan! Tulang rusuk APAAN?! Najis gue malahan, please ... Kenapa ada orang seperti lo sih?" Sihan berteriak bukan main, sampai-sampai Eagan menggelengkan kepalanya karena tidak menyangka jika calon jodohnya akan seperti ini.
Sihan tergolong cewek yang sedikit bar-bar. Cewek itu memang berbanding terbalik dengan cewek biasanya, yang dimana mereka akan bersikap sefeminim mungkin jika berada di dekat Eagan.
"Sihan sayang, jangan menolak jodoh. Jodoh itu rezeki dari Tuhan dan lo harus bersyukur kalau gue adalah utusan Tuhan yang akan bertanggung jawab untuk menjaga Sihan," balas Eagan dan Sihan menutup mulut Eagan yang banyak omong itu, tentu menggunakan sisa kapas yang digunakan oleh Eagan tadi.
40 menit kemudian dan waktu istirahat telah tiba. Sihan menggebrak papan tulis agar semua perhatian teman kelas terarah kepadanya.
"Sebelum keluar dari kelas, silakan kumpul tugas kalian di atas meja. Biar gue yang pergi ke ruang guru buat ngumpulin semua tugas kalian," ujar Sihan.
Semuanya langsung mengumpulkan tugas kecuali mereka berlima antara lainnya adalah Eagan, Noval, Fandi, Aksara, dan Jono.
"Lo berlima ngapain diem? Mana tugas kalian?" tanya Sihan.
Mereka mengabaikan Sihan dan langsung keluar dari kelas. Sihan sendiri mengedikkan bahu dan membiarkan mereka keluar, dirinya telah mengingatkan mereka untuk mengerjakan tugas, tapi, kalau memang mereka tidak mau mengumpulkan, urusan masuk nilai atau tidak merekalah yang menanggungnya karena Sihan sudah angkat tangan.
Sihan mengambil semua buku yang telah tersusun rapi di atas meja kemudian membawanya ke ruang guru. Saat masuk di ruang guru, dirinya menjadi pusat perhatian, para guru menatap Sihan dengan lekat. Bukannya tatapan yang baik, melainkan tatapan yang sedikit tidak suka.
"Kamu yang namanya Sihan kan?" tanya Ibu Nahawan yang merupakan guru ekonomi dan termasuk guru yang paling galak.
"Iyah, Bu," jawab Sihan.
"Bagus sekali yah, kelas kamu sangat bagus attitude-nya sampai meja dan kursi tergeletak begitu saja. Selaku ketua kelas kamu tidak malu membiarkan teman kelasmu seperti itu? Bukan hanya sekali, tapi beberapa kali. Kami akan memberitahukan kejadian ini kepada wali kelas kamu," ucapnya dan Sihan hanya mengucapkan maaf, di cctv sudah dapat menjelaskan semuanya. Percuma jika Sihan yang menjelaskan karena guru-guru tidak akan percaya.
Sihan meletakkan semua buku di atas meja Ibu Wardaniah kemudian keluar dari ruang guru tersebut. Di ruang guru tadi, terdapat AC. Namun, rasanya begitu panas karena tatapan para guru yang terasa membakar.
Sihan kembali ke kelas, cewek tersebut tidak menuju kantin dikarenakan ekonomi yang tidak ada karena Sihan lupa membawa uang.
"Malu ah ngutang di kantin, banyak orang lagi," ucap Sihan kemudian menghela napas pelan.
Perutnya terasa lapar, dirinya ingin sekali meminjam uang kepada temannya, tapi, lagi-lagi Sihan merasa malu.
Sampai di kelas, Sihan tidak langsung masuk melainkan berdiri di depan pintu karena kehadiran seseorang yang selalu mengganggunya, siapa lagi kalau bukan Eagan yang menurut Sihan begitu k*****t.
"Laper, Neng?" tanya Eagan.
"Nggak," jawab Sihan, berbohong.
Eagan termasuk cowok yang memiliki kepekaan tinggi, namun, sayang sekali karena kepekaan itu tidak berguna kadang-kadang, dan banyak yang berharap jika cowok itu menggunakan sifat kepekaannya dengan baik.
Dan sepertinya Eagan memperlakukan kepekaannya dengan baik, buktinya adalah, cowok itu menarik tangan Sihan dan membawa cewek tersebut ke kantin.
Sebelum Sihan sampai di kelas, cowok itu telah menyuruh sahabatnya terlebih dahulu ke kantin, dengan alasan ingin tinggal di kelas sebentar karena sesuatu yang penting.
Sekarang, dua orang tersebut berada di kantin, empat anggota T-FIVE bertepuk tangan sambil berteriak menggoda bos mereka. Banyak siswa Trowyer saling berbisik dan menatap ke dua orang itu.
Siapa yang tidak mengenal Eagan? Semua orang tahu dirinya, siswa Trowyer memang terlihat masa bodoh dari luar, tapi dari dalam, mulut mereka mengalahkan kebacotan emak-emak kompleks yang sering ngerumpi. Semuanya diam-diam menghanyutkan, hanya saja, di sekolah tersebut hanya anggota T-FIVE yang terlihat hyperactive.
Sebuah fakta yang mengesankan bukan? Unik dari sekolah lainnya.
"Cie, bos bawa Cewek tuh. Cihuy," goda Jono.
Sihan menatap Jono dengan tajam membuat cowok itu menciut seketika, tatapan Sihan sangat seram dibanding cewek lainnya dan menurut peringkat sekolah secara umum, Sihan merupakan cewek terganas di sekolah tersebut. Tidak heran jika banyak cowok yang tidak berani mendekatinya, kecuali Eagan seorang cowok yang gilanya di atas rata-rata.
"Mau makan apa?" tanya Eagan.
"Hm," Sihan menyentuh dagunya sembari berpikir. Satu makanan membuat mulutnya tak sabar untuk memakan makanan tersebut, "Roti aja deh, maunya indomie, tapi gak jadi," lanjut Sihan.
"Mana kenyang kalau roti, naskun aja, mau nggak?" tawar Eagan.
"Naskun?" tanya Sihan karena asing dengan nama makanan tersebut.
"Nasi kuning sayang," jawab Eagan dan Sihan mendengus sebal.
"Gue udah makan nasi kuning di Warning tadi," balas Sihan.
"Warning? Di mana tuh?" tanya Eagan.
"Di warung nasi kuning lah," jawab Sihan sebal.
Eagan terkekeh pelan, dirinya kemudian duduk begitu pula dengan Sihan. Detik kemudian, Eagan berdiri kembali dan membeli makanan untuk dirinya juga untuk Sihan.
Beberapa menit kemudian, 6 roti dan 2 s**u ultramilk berada di tangan Eagan dan cowok itu memberikan Sihan satu s**u tersebut.
"Wah, makasih," ucap Sihan dengan tulus, Sihan sangat suka dengan s**u tersebut.
"Sama-sama."
Sihan langsung sadar ketika melihat wajah Eagan yang sedikit dekat dengan wajahnya.
"Woi, makan! Jiwa jomlo gue meletup-letup!" teriak Noval mengganggu moment ke dua orang yang terlihat sedikit mesra tersebut.
"Bangke, ganggu aja lo!" kesal Eagan, padahal dalam benaknya, Eagan ingin memperdekat wajahnya agar sebuah keajaiban yang bisa saja terjadi berada pada pihaknya. Bisa diambil contoh seperti adegan kiss yang tidak disengaja.
Otak Eagan memang seperti itu, mohon dimaklumi soalnya agak miring sedikit.