Tatapan dari pria yang menyebalkan itu membuat Sihan sedikit jengah. Bukan hanya itu, tatapan dari semua siswa yang ada di kantin membuatnya tambah jengah.
Sihan menghabiskan roti kemudian s**u ultranya dengan cepat.
"Terima kasih, gue balik dulu," pamit Sihan namun tangan gadis itu dicekal oleh Eagan.
"Ya elah, tunggu gue kek," balas Eagan, pria itu meminum s**u ultranya dalam beberapa teguk, setelah itu berdiri dan merangkul Sihan.
"Woi, gue balik duluan!" teriak Eagan dan ke empat anggota T-FIVE tersebut menaikkan jempolnya.
Mendapat rangkulan dari Eagan, Sihan merasa malu, bukan malu-malu tapi suka, malu karena memang memalukan.
"Lepasin! Bikin malu tau gak?!" Sihan melepas rangkulan Eagan tak lupa pula menginjak kakinya sebagai tambahan cita rasa sakit kemudian meninggalkannya.
"Sshhh, untung gue sayang."Tatapan dari pria yang menyebalkan itu membuat Sihan sedikit jengah. Bukan hanya itu, tatapan dari semua siswa yang ada di kantin membuatnya tambah jengah.
Sihan menghabiskan roti kemudian s**u ultranya dengan cepat.
"Terima kasih, gue balik dulu," pamit Sihan namun tangan gadis itu dicekal oleh Eagan.
"Ya elah, tunggu gue kek," balas Eagan, pria itu meminum s**u ultranya dalam beberapa teguk, setelah itu berdiri dan merangkul Sihan.
"Woi, gue balik duluan!" teriak Eagan dan ke empat anggota T-FIVE tersebut menaikkan jempolnya.
Mendapat rangkulan dari Eagan, Sihan merasa malu, bukan malu-malu tapi suka, malu karena memang memalukan.
"Lepasin! Bikin malu tau gak?!" Sihan melepas rangkulan Eagan tak lupa pula menginjak kakinya sebagai tambahan cita rasa sakit kemudian meninggalkannya.
"Sshhh, untung gue sayang."
Pulang sekolah, hal yang membosankan yang Sihan rasakan di depan halte karena menunggu kakaknya untuk datang menjemput. Saga, adalah kakak laki-laki Sihan yang selalu lama menjemputnya, pernah beberapa kali pria itu membuat Sihan menunggu dua jam di depan halte.
Di seberang jalan, Eagan dan kawan-kawannya melihat Sihan yang tengah suntuk di halte. Ke empat teman Eagan mengode bos mereka untuk menghampiri sang pujaan hati.
"Gak lah, ngeri gue," ujar Eagan yang masih mengingat kejadian waktu istirahat tadi.
"Cemen banget lo, bos. Liat tuh Sihan, cantik-cantik tapi nunggu sendirian di sana, entar ada Cowok lain sambar tau rasa, lo!" balas Jono.
"Gak usah ngegas," sebal Eagan. Hati Eagan melunak untuk menghampiri Sihan, namun, sebuah mobil mewah baru saja datang dan membunyikan klaksonnya untuk Sihan.
Eagan melihat Sihan yang tengah menggerutu dan menendang ban mobil mewah itu sebelum masuk ke dalam mobil.
Benak Eagan bertanya, siapa yang menjemput Sihan? Apakah seorang cowok atau cewek? Dan tiba-tiba Eagan memukul lengan Jono sedikit keras.
"Eh, gue salah apa bos? Sakit njir," ucap Jono mengusap sambil lengannya.
"Perkataan lo jadi doa, liat tuh Sihan dijemput sama orang lain," jawab Eagan sebal, sedangkan Jono langsung bersyukur dengan perkataannya yang ternyata dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa dan tiga teman lainnya menertawai Eagan kemudian melompat senang.
"Temen bangke!"
Di sisi lain, Sihan yang berada di dalam mobil sedang memarahi Saga yang menjemputnya sedikit lama.
"Bang, lain kali sebelum gue pulang lo udah di depan sekolah. Biar lo liat kalau Adek lo ini banyak yang suka," ucap Sihan.
Saga mendengus sebal kemudian membalas, "malah malu gue punya adek b***k kek lo," ucap Saga kemudian tertawa.
Bukan kali pertama Saga membuat Sihan kesal, menggoda Sihan menjadi kegemarannya sejak lama. Wajah lucu adiknya itu sangat menggemaskan, pernah sekali Saga membuat Sihan menangis karena merebut ayam gorengnya dan Saga malah tertawa bukannya kasihan kepada Sihan.
Sampainya di rumah, mereka berdua berlomba menuju ruang makan yang ternyata sudah penuh dengan makanan yang bermacam-macam.
"Duduk!"
Suasana langsung mencekam, mendengar nada perintah itu membuat mereka berdua merinding. Sang ayah yang bernama Aldo itu merupakan sosok yang tegas dan tidak ingin dibantah, jika perintahnya tidak dituruti sesuatu yang buruk akan terjadi.
Setiap harinya, Saga dan Sihan melihat wajah datar dari Sang ayah seolah itu adalah pemandangan utama di dalam rumah.
Aldo pun duduk di kursi dan menatap mereka berdua secara bergantian hingga tatapan pria itu fokus anak gadisnya, Sihan.
"Bagaimana sekolah kamu, Sihan?"
"Baik kok, Pah," jawab Sihan.
"Kok? Berarti ada keraguan. Jawab dengan jujur, ada yang mengganggumu?" tanya Aldo dengan nada yang dingin.
Sihan menjerit dalam batin, kenapa ayahnya selalu bertanya dengan nada yang datar seperti itu? Sihan heran, bagaimana cara ibunya untuk meluluhkan hati ayahnya yang sangat beku.
"Tidak ada keraguan, Ayah. Sihan jujur, kok," ujar Sihan meyakinkan ayahnya. Aldo adalah pria yang keras kepala, dirinya tahu bahwa anaknya sedang berbohong dan pria itu tidak akan berhenti bertanya sebelum Sihan jujur.
Satu yang paling dibenci oleh Aldo, yaitu kebohongan.
"Sihan, jangan buat Ayah marah," kata Aldo memperingati, Sihan meneguk ludahnya sedikit sulit.
Dirinya harus menjawab apa? Terganggu? Tidak sama sekali, walaupun ada sedikit yang artinya memang ada.
"Dibercandain temen, Ayah," jawab Sihan.
Aldo mengangguk kemudian mengalihkan tatapannya ke Saga. "Kamu?"
"Sedikit, Pah. Sihan nendang ban mobil Saga," jawab Saga dan Sihan melototkan matanya.
Sebelum Aldo bertanya, Afrin datang dan menegur suaminya. "Ayah, mereka berdua baru pulang langsung ditanya-tanya, makan dulu sayang."
Aldo menghela napas pelan kemudian tersenyum menatap istrinya, "tidak, hanya bertanya sedikit saja, sayang."
Dalam hati, Sihan dan Saga ingin berkata tidak! Pasalnya, ayah mereka itu pandai membual di depan Afrin.
Memang pertanyaannya sedikit, tapi, mimik wajah serta nada pertanyaan Aldo itu sangat menyeramkan.
"Saga, Sihan. Papa kalian nanya, apa?"
Sihan dan Saga menatap manik mata Aldo. Yah, Aldo memberi tatapan ancaman dan itu membuat mereka berdua hanya bisa pasrah.
"Gak kok, Mah. Papa cuman nanya sekolah Sihan gimana, itu aja kok," jawab Sihan dengan nada yang sedikit ragu. Tentu Sihan sengaja karena ibunya termasuk orang yang sangat mudah peka.
"Ayah nyebelin yah," Afrin menyubit lengan Aldo dengan kesal membuat pria itu mengeluh kesakitan sedangkan Sihan dan Saga tertawa batin melihat nasib ayahnya tidak akan selamat hari ini.