Tidak ada yang spesial di malam minggu, hanya sebuah novel yang dibaca oleh Sihan dan juga coklat panas sebagai suguhan dinginnya malam. Untuk cewek lainnya, mereka akan keluar untuk merayakan malam ini bersama pacar ataupun sahabat, sedangkan Sihan? Kedua-duanya tidak ada.
Sihan merupakan anak rumahan yang gemar rebahan, bukan apanya, setiap panggilan acara, Sihan jarang hadir dikarenakan kasur lebih menggoda dibandingkan acara tersebut.
Tok ... Tok ... Tok ...
Di luar kamar, Saga mengetuk pintu kamar adiknya. Mumpung Saga merupakan cowok berkategori jomlo, pria itu akan mengajak Sihan sekali-lali untuk keluar bersamanya.
"Walaupun jomlo, harus keluar juga biar gak kesepian," ucap Saga, di dalam kamar mood Sihan langsung hancur begitu saja ketika mendengar satu kata itu.
Jomlo
"Kakak aja yang keluar, jangan ajak Sihan," balas Sihan dari dalam kamar.
Saga menghela napas, "gimana mau dapat pacar kalau gini? Cewek pemalas!"
Pintu kamar terbuka dan muncullah raut wajah Sihan yang cemberut, Saga memeletkan lidahnya dan itu sangat menyenangkan baginya. Tentu Sihan tak bisa berkata apa-apa karena gadis itu memang jomlo, namun ... Satu kata yang harus Sihan klarifikasi, yaitu kesepian.
"Walaupun Sihan jomlo, tapi Sihan gak kesepian. Gak kayak lo, udah jomlo plus kesepian tingkat dewa," balas Sihan dengan nada meledeknya.
"Mandi terus pakai baju yang biasa aja, gak usah sok cantik karena lo udah b***k otomatis gak ada Cowok yang ngelirik," ujar Saga, sebelum Sihan membalas ucapan kakaknya, Saga menutup mulut Sihan dengan jarinya kemudian berkata, "ngapain diem dan liatin gue? Cepet mandi!"
"Ih, siapa yang liatin lo, Bang?! Lo nahan jalan gue b**o!"
Wah, Saga jadi takjub mendengar kalimat yang bernada tegas itu, Saga jadi tambah yakin jika laki-laki akan berpikir dua kali untuk mendekati adiknya.
"Bagus, tingkatkan! Kakak suka adik yang bar-bar!" teriak Saga setelah Sihan menutup pintu kamarnya.
Pintu kembali terbuka dan Sihan mengucapkan sesuatu, "tunggu gue."
"Huft, katanya gak mau," sebal Saga.
Saga pikir, menunggu Sihan hanya memakan waktu 20 menit, ternyata, hampir satu jam Sihan menghabiskan waktu hanya sekadar mengganti baju.
Dengan wajah tidak berdosanya Sihan mengatakan bahwa dirinya telah siap berangkat dan menyuruh Saga untuk cepat-cepat. Memang, wanita itu agak merepotkan.
Typo : kata agak dirubah menjadi kata selalu. :)
Mereka berdua turun dari tangga dan meminta izin kepada kedua orang tua dan untungnya Afrin mengizinkan walau sebelumnya Aldo melarang mereka.
Ekspresi menang dilayangkan oleh kedua anak itu kepada ayahnya yang menatap mereka dengan tajam.
"Uang jajan kalian Ayah kurangin," ucap Aldo, Afrin yang mendengar itu menghampiri Aldo dan memicingkan matanya.
"Ayah kurangin jajan Anak, maka Mamah kurangin masa jatah Ayah."
Saga tertawa keras sampai-sampai mengatakan, "bagus, Mah. Pertahankan, kalau perlu tingkatkan!"
Setelah itu mereka berdua keluar rumah dengan hati riang dan gembira, sementara di dalam rumah Aldo meraung menderita.
10 menit perjalanan, Sihan merasa suntuk di mobil dan selalu bertanya ke mana mereka akan pergi? Saga hanya menjawab, "sabar, orang sabar disayang Tuhan."
Menyebalkan bukan? Memiliki kakak yang gesrek membutuhkan hati yang kuat, bukan hanya gesrek, tapi, ada satu ramuan tambahan yang membuatnya hampir gila juga, yaitu efek jomlo untuk sang kakak.
Tadi, 10 menit berlalu dan sekarang 15 menit berlalu yang ternyata mereka hanya berputar-putar.
"Sorry, Dek. Temen gue bilang di sini tempatnya, cuman, gue gak liat mereka," beritahu Saga sambil menggaruk tengkuknya.
Sihan mengerang frustasi, ternyata Saga ingin kumpul bersama teman-temannya dan Sihan tidak suka itu. Sihan merupakan cewek ambivert, kadang ekstrover kadang juga introver. Jadi, sekarang ini Sihan merupakan cewek yang introver.
"Gue di mobil aja, Bang," ujar Sihan.
Saga menarik tangan adiknya untuk keluar, Sihan memberontak dengan tipe yang bar-bar, namun Saga tak ingin kalah bar-bar dan terus menarik Sihan agar keluar, sebelum itu Saga telah membuka pintu mobil.
Dikarenakan ke-bar-baran mereka yang tingkat dewa, akhirnya mereka keluar namun dengan posisi terjatuh.
"Ih, Abang gila!" teriak Sihan kemudian bangkit dan mengusap celananya yang kotor.
"Lah, gue lagi yang salah. Jadi Adek harus tenang-tenang biar adem liatnya, jangan seperti tadi, kelewat bar-bar itu," balas Saga.
"Bodo amat!" ketus Sihan.
Terdiri lebih dari 10 orang yang merupakan teman Saga menyaksikan pertengkaran kakak beradik tersebut, respon mereka adalah, menggemaskan.
Perlu kalian tahu bahwa Saga tidak pernah mengatakan bahwa dirinya memiliki adik, jadi, teman Saga masih beranggapan bahwa Sihan merupakan pacarnya Saga.
"Widih, pamerin pacar tuh," celetuk Gino, merupakan sahabat Saga yang agak gesrek juga.
"Apaan pacar? Dia Kakak gue," balas Sihan dengan ketus, mendengar balasan tersebut semua teman Saga terkejut.
Terutama Gino, detik kemudian cowok itu bersiul kemudian tertawa senang.
"Ya elah, Saga. Punya Adek cantik gak kasih tahu," ucap Gino lalu menatap Sihan dengan senyum manisnya, "hai, Adek. Gue Gino, sahabat Saga," sapa Gino.
"Sihan," balas Sihan tanpa uluran tangan, Sihan tidak ingin terlalu dekat dengan orang asing, walaupun orang tersebut adalah sahabat kakaknya.
"Maklum, Adek b***k gue agak ketus soalnya titisan Marmut," ucap Saga.
"b***k apaan? Cantik njir!" balas Gino.
Semuanya langsung menahan Gino dan berkata, "Tahan Gino, Dedek Sihan belum siap, jangan dipaksa."
"Emangnya gue mau ngapain Adek Saga, b*****t?!"