BAB 6

920 Kata
Sihan ingin menonjok wajah songong Saga karena meninggalkannya berdua bersama Gino. Dengan santainya Saga berkata, "Lo tenang aja di sini sama Gino, gue mau pergi bentar." Sebentar, namun nyatanya hampir setengah jam Sihan berduaan dengan Gino yang terus menatapnya. Sihan risih jika ditatap terus, dirinya ingin memberitahu Gino tapi Sihan lagi-lagi tidak enak. "Kok lo cantik, sih?" tanya Gino. "Karena gue Cewek, pasti cantik," jawab Sihan. Dirinya menjauh sedikit untuk membuat cowok itu peka bahwa dirinya tidak nyaman. Bukannya peka, Gino malah mendekat sedangkan Sihan bergeser lagi. Terus seperti itu hingga Sihan hampir jatuh, untungnya Gino menahan tangan Sihan. "Hampir jatuh kan? Ngapain ngejauh mulu, sih? Gue gak macam-macam, kok," kekeh Gino kemudian, sedangkan Sihan hanya tersenyum kecil padahal di dalam hatinya cewek tersebut sedang menjerit jengah. Sihan melihat jamnya, hampir 40 menit Saga meninggalkannya, apakah Saga tidak khawatir jika Gino berbuat buruk kepadanya? Saga merupakan kakak yang santai. Beberapa menit kemudian, akhirnya Saga datang bersama temannya yang lain. Sihan langsung berdiri dan menyubit lengan kakaknya. "Lama banget, ngapain?" sinis Sihan. "Gak ngapa-ngapain, cuman keliling doang," jawab Saga kemudian mengusap lengannya yang memerah. "Cuman keliling? Hampir satu jam? Lagi ngeronda?!" galak Sihan. "Gue sengaja, biar lo berduaan sama sahabat gue yang udah lama jomlo dan sepertinya si Gino k*****t suka sama lo, deh," balas Saga jahil dan Sihan merinding. Sihan menatap malas kakaknya, mana mungkin Gino menyukainya? Secara mereka tidak terlalu kenal dan dekat, Sihan pun tidak berharap disukai ataupun menyukai sahabat kakaknya itu. Gino hanya diam, cowok itu terus memperhatikan Sihan, lebih tepatnya ingin tahu bagaimana respon Sihan setelah mendengar kalimat konyol dari Saga tadi. Yah, ternyata responnya biasa saja dan Gino hanya terkekeh pelan. "Kenapa harus kumpul di sini? Gak ada tempat lain?" Sihan bertanya, soalnya, mereka berkumpul di tengah jalan dan Sihan rasa dirinya seperti gembel. "Gak ada, gue kehabisan duit," jawab Saga. Sihan mendengus sebal, buat apa diajak jalan kalau tidak membawa uang? Jika Sihan tahu, lebih baik dirinya rebahan di kamar kesayangan. "Gue sama Sihan pulang duluan," pamit Saga, Sihan pun senang mendengarnya dan langsung masuk ke mobil. Saga menggelengkan kepalanya dan menatap temannya sambil tersenyum dan mengangguk, "maklumin Adek gue yang jutek," ucap Saga dan semuanya memaklumi, kemudian Saga menatap Gino kemudian bertanya, "bagaimana Adek gue?" kemudian Saga terkekeh begitupun Gino. "Cuek banget, asli," jawab Gino. "Hahaha, jarang-jarang dia gitu," balas Saga kemudian menyusul Sihan. Malam minggu, di tempat pembalapan motor begitu banyak orang yang bersorak dan mendukung para pembalap yang akan bertanding. Di arena balap tersebut, salah satu anggota T-FIVE dan merupakan ketuanya ikut serta dalam perlombaan tersebut. "Tiga! Dua! Sa--" Tiba-tiba segerombolan polisi datang dan semua yang berada di sana berlarian untuk kabur, untungnya anggota T-FIVE cepat hingga berhasil kabur dari tangkapan polisi bukan kejaran pilisi. Dari lorong ke lorong mereka lalui hingga membuat para polisi bingung dan berhasil dikelabui oleh mereka. Merasa benar-benar aman, akhirnya mereka berkumpul di pinggir jalan yang dimana terdapat penjual roti bakar. "Mumpung ada roti bakar. Bos, beliin dong," pinta Noval. "Hm, pesen sana," balas Eagan. "Mas, roti bakar rasa cokelat tambah kacang," pesan Noval. "Okke, siap!" Sebuah mobil berklakson hingga membuat mereka semua terkejut. "Buset, gue kaget, njir!" ucap Noval sembari mengusap dadanya, begitupun yang lainnya. Eagan sendiri merasa tak asing dengan mobil tersebut, dirinya terus mengerutkan kening hingga seseorang keluar dari mobil yang membuatnya mengingat mobil tersebut. Dia adalah Sihan. "Eh, Bebeb Sihan," ucap Jono. Sihan terkejut melihat teman kelasnya yang berkumpul di depan penjual roti. Tak kalah terkejutnya lagi Sihan harus melihat Eagan yang merupakan cowok menyebalkan seantero sekolah. Sihan tersenyum kepada mereka, kecuali Eagan, dengan khusus cewek itu melayangkan sebuah tatapan sinis. "Sayang, kok mukanya gitu amat sih liatin gue?" tanya Eagan dengan nada jahilnya. "Ew, minggir! Gue mau beli roti," ketus Sihan. Eagan langsung minggir namun kemudian menahan tangan Sihan dan mengecupnya. Di dalam mobil, Saga melihat tangan adiknya dicium dan itu membuat jiwa kelainannya meronta-ronta. Saga langsung keluar dan mengetok kepala Eagan dengan keras. "Woi, malah cium tangan Adek gue! Ingin mendekatkan diri dengan Yang Maha Kuasa?!" Saga bagaikan emak-emak kompleks yang tengah menagih orang-orang yang telat membayar. Ketok ... "Aduh!" Eagan melenguh kesakitan, lagi-lagi kepalanya digetok oleh Saga. "Eh, maaf, Bang gak sengaja cium tangan Sihan tadi," ucap Eagan, ungkapan maaf tersebut tak membuat Saga mereda malah semakin menjadi-jadi. "Maap, maap, gue liat lo sekali lagi cium tangan Adek gue ..." gantung Saga, ke lima anggota T-FIVE tersebut memasang wajah penasaran. Plak ... Plak ... Plak ... Plak ... Plak ... Saga membuka sandalnya kemudian mendepak mulut mereka satu per satu. "Gue bakal buat bibir kalian dower, mau?!" pelotot Saga. "Ampun, Bang. Nggak lagi," geleng Eagan. "Kalau gak diliat sama lo, Bang. Jadi, bisa cium tangan Sihan, kan?" tanya Fandi. Plak 5 ×, mereka semua mendapat pukulan di bibir lagi dan Saga tersenyum melihat bibir mereka yang tambah dower. "Bang, roti bakar coklat kacangnya udah siap," sahut Mas tukang roti dan Saga langsung merebut roti tersebut. "Hukuman tambahan, kalau mau deketin Adek gue siap-siap duit lo habis di tangan gue," setelah itu Saga menarik Sihan yang sedari tadi diam saja menuju mobil. "Wah, rotinya diambil. Mau pesan lagi kan, Bang?" "Pesan, pesan. Liat bibir gue udah dower gini, gak usah! Nih gue bayar roti yang diambil tadi," ujar Eagan memberi lembaran seratus ke penjual roti tersebut. Tanpa mengambil kembaliannya mereka langsung pergi. "Alhamdulilah, tambahan rejeki. Siapa pun yang membuat bibir mereka dower, saya berterima kasih," ucap Mas penjual roti penuh syukur dan tersenyum manis. Depakan sandal membawa rejeki untuk Mas Roti Bakar, semoga kejadian tersebut dapat terulang lagi, aamiin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN